Jemaat GKJ Merayakan Pentakosta dan Riyaya Undhuh-Undhuh

oleh -
iklan dispar

WONOSARI, kabarhandayani,- Dalam rangka memperingati hari raya Pentakosta, pagi tadi Minggu (8/6/2014), Jemaat GKJ Wonosari melaksanakan perayaan atau Riyaya Undhuh-undhuh dengan melakukan kirab keliling kota Wonosari. Kirab diikuti sekitar 800an jemaat yang sebagian besar berbusana tradisional Jawa, dan menempuh rute sekitar 3 km dimulai jam 08.00 WIB. Start dari lapangan Kesatrian-Jalan Satria – Jalan Katamso – Jalan Sumarwi – Jalan Kolonel Sugiyono dan berakhir di Jalan Gereja.

Indah Permanawati, Ketua Panitia Perayaan, mengatakan bahwa agenda tahunan ini merupakan ungkapan syukur atas berkat yang diberikan Tuhan selama setahun.Ungkapan Syukur ini diwujudkan dengan gunungan  yang berisi sayuran dan buah-buahan yang  merupakan hasil panen dari sebagian jemaat yang berprofesi sebagai petani. Untuk meramaikan kirab ini juga ditampilkan kesenian reog, band pemuda, becak hias, dan lain lain.

Setelah selesai kirab, jemaat kemudian mengikuti ibadah. Dalam kotbahnya, Pendeta Dwi Wahyu Prasetyo  menjelaskan makna dari Riyaya Undhuh-undhuh yang merupakan ucapan syukur atas berkat Tuhan. “Perayaan undhuh-undhuh merupakan ucapan syukur atas berkat Tuhan khususnya undangan keselamatan Allah kepada umat manusia. Selain itu, juga menghayati karya Tuhan yang menghibur,memampukan, dan memberikan keberanian serta hikmat melalui karya Roh Kudus untuk mewartakan kedamaian,” pesan Pdt.Wahyu dalam kotbahnya.

Selesai ibadah kemudian dilaksanakan pelelangan hasil persembahan yang berupa barang maupun hasil bumi. Maksud dari pelelangan ini agar jemaat melelang barang melebihi harga dasar yang ditawarkan agar persembahan yang terkumpul lebih besar.Dalam pelelangan ini yang paling tinggi harganya adalah beras,beras 5 kg dengan harga dasar 43 ribu bisa dilelang seharga 150 ribu.

Pantauan Kabarhandayani di beberapa GKJ juga melaksanakan perayaan ibadah yang sama. Di GKJ Bejiharjo, Riyaya Undhuh-undhuh berlangsung semarak. Jemaat dari  5 kelompok yaitu Ngringin, Kulwo, Gunungsari, Grogol, dan Karanganom membawa gunungan hasil bumi dari masing-masing wilayah. Kirab dari masing-masing dusun menuju gereja dimeriahkan dengan seni reog dari Padukuhan Ngringin, Doger dari Padukuhan Grogol, Drumb Band anak-anak, gejog lesung, para pemuda dan anggota jemaat lainnya.

Selesai kirab dilaksanakan ibadah yang dipimpin oleh Penatua Sudibyo dengan kotbah dalam Bahasa Jawa Nampeni Roh: Tandang Damel Makarya. Selesai ibadah acara dilanjutkan dengan pelelangan hasil riyaya undhuh-undhuh sebagai sarana berbagi berkah hasil pertanian di antara jemaat. (Bara, Susi/Jjw).

Komentar

Komentar