Elemen Masyarakat Bawah Tak Tahu Semarak Pesta Hari Jadi

oleh -
Barjo, Warga Wonosari tak tahu Gunungkidul ulang tahun. KH/ Kandar
iklan dispar
Barjo, Warga Wonosari tak tahu Gunungkidul ulang tahun. KH/ Kandar
Barjo, Warga Wonosari tak tahu Gunungkidul ulang tahun. KH/ Kandar

WONOSARI, (KH)— Semarak hari jadi Gunungkidul ke 185 tinggal menghitung hari, rangkaian perayaan pun telah dimulai. Satu hal yang heboh dengan perayaan kali ini yakni informasi yang massif menyebar mengenai Campur Sari 90 jam non stop itu.

Selain ditujukan sebagai apresiasi terhadap sang maestro Campursari, Manthous, acara digelar juga sebagai pesta rakyat, dimana semua diajak untuk merayakan ulang tahun tanah kelahiran ini. Sayang, masih ada diantara masyarakat yang tidak tahu, bahkan sebatas mengenai informasi bahwa di Bulan Mei ini Gunungkidul merayakan hari jadinya.

Dapat dimungkinkan masyarakat yang ketinggalan informasi karena faktur umur, dan keterbatasan pergaulan. Seperti petani yang tinggal di wilayah di Kecamatan sebagai Ibu kota Kabupaten ini, pengakuannya memang belum mendengar bahwa Gunungkidul merayakan hari jadi, apalagi adanya serangkaian kegiatan perayaan termasuk Campursari itu.

“Iya to, malah tidak tahu,” jawab  Barjo, Sabtu, (21/5/2016). Warga Pulutan saat ditemui sedang mencari rumput ini mengaku tidak ada informasi melalui lingkup RT di tempat tinggalnya.

Ditanya apakah akan menonton pagelaran Campursari, ia membuka senyum lebar, dia menjawab memang ada keinginan untuk menonton, ikut merasakan meriahnya peringatan hari jadi.

“Kalau ada yang mengajak ya melihat,” jawabnya sambil tersenyum.

Ia menilai, saat ini diakui banyak kemajuan dari Gunungkidul, contoh sederhana ia sebutkan, mengenai pembangunan jalan aspal kini sudah menyentuh jalur antar dusun.

Memaknai momentum hari jadi oleh masyarakat yang lain datang dari Purwono, Blantik sapi asal Trowono, Karangasem, Paliyan. Menanggapi mengenai hari jadi dengan datar-datar saja. “Setiap tahun demikian, ada perayaan, dampak bertambahnya umur dari sisi kemajuan segala hal tidak begitu terasa hingga ke masyarakat bawah,” ungkapnya.

Rutinitasnya, sambung dia, seperti itu terus, biasanya ada pawai, ada pasar malam, dan sekarang Campursari non stop. Ditanya sebagai masyarakat di pinggiran apa yang dirasakan, menurutnya sama-sama saja.

“Apa yang beda bagi daerah kami, kalau mau ikut menikmati ya harus ke Wonosari untuk menengok. Tidak banyak yang diharapkan, lagipula juga tidak baik terlalu mengharapkan dari orang lain atau pemerintah,” ulasnya.

Semoga saja, pinta dia, ada keberpihakan dari pihak terkait berupa upaya nyata untk menjaga kestabilan harga ternak. Tak hanya kepada dirinya saja tentunya, kepada semua masyarakat golongan bawah dengan berbagai profesi lain tentunya. (Kandar)

Komentar

Komentar