Eksistensi PAH di antara Telaga dan PAM

oleh -
Penampung Air Hujan (PAH) milik warga Bacak
Penampung Air Hujan (PAH) milik warga Bacak
iklan dispar

Penampung Air Hujan (PAH) memang identik dengan keadaan rumah para warga Gunungkidul, khususnya di wilayah Gunungkidul Zona Pegunungan Seribu dan di dua kapanewon yang berada di Zona Pegunungan Batur Agung Utara yakni Patuk dan Gedangsari. Kedua zona ini setiap tahun bisa dikatakan selalu mengalami kekurangan air. Hampir semua rumah warga yang berada di Zona Pegunungan Seribu memiliki PAH, seperti di Kapanewon Paliyan, Saptosari, Panggang, Tanjungsari, Girisubo, dan Rongkop. Menjadi pemandangan lazim ketika wisatawan berjalan-jalan ke wilayah itu untuk melihat PAH.

Penampung Air Hujan (PAH) di Gunungkidul mulai dibangun sekitar tahun 1984. Melalui Program PKAK, PAH telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan warga Gunungkidul. PAH adalah teknologi terapan untuk memanen air hujan (rainwater harvesting) yang telah terbukti sangat efektif dan mudah diterapkan di wilayah-wilayah kekurangan air di Gunungkidul.

PAH.[Foto:Padmo]
PAH.[Foto:Padmo]
Bentuk tubuh PAH menyerupai tabung separuh yang berdiri di samping rumah atau dapur warga. Tak jarang pula separuh tubuh PAH tampak mata berada di dalam rumah dan separuhnya di luar rumah warga. Tinggi rata-rata PAH dua meter, garis tengahnya 3 meter. PAH menggunakan bahan dasar semen dan mampu menampung sekitar 10.000 liter air. Suplai air untuk mengisi PAH adalah air hujan yang ditangkap oleh genting rumah warga kemudian dialirkan melalui talang yang ujungnya di masukkan ke dalam PAH.

“Dulu rangka bak ini (PAH) dari bilahan bambu,” kata Barjo (61 tahun), warga Dusun Bacak, Kelurahan Monggol, Kapanewon Saptosari, membuka obrolan dengan Kabar Handayani suatu siang di tengah kumpulan para warga yang sedang ngunjuk benteran kala sambatan.  “Setelah 35 tahun, struktur bangunannya tetap awet. Jika ada kerusakan-kerusakan kecil, paling ya retak sedikit dan biasa kami tambal,” imbuhnya. “Pembangunan PAH di sini bertahap, Mas, di masa Pak Harto (Presiden Suharto). Ada juga yang dibangun pakai tatanan batu,” Simbah Rajiyo menimpali kata-kata Barjo.

Mbah Sugiman juga ikut menceritakan kenangan sebelum tahun 1985, sebelum PAH dibangun, “Sebelum ada PAH ini kami warga 5 dusun mengandalkan air Telaga Mbacak (Telaga Blumbang Sari) untuk memenuhi segala kebutuhan air. Mulai dari mandi, mencuci, ngguyang (memandikan sapi), dan mengambil air untuk kebutuhan rumah. Biasannya air kami pikul dari telaga sampai rumah menggunakan gembreng (kotak kaleng bekas minyak).” Mbah Tono ikut menyela, “Setelah dari ladang, sebelum sampai rumah, kami biasa langsung njujug ke telaga untuk mandi, dan minum langsung di telaga, dan anehnya tidak sakit perut!”

Mbah Tono.[Foto:Padmo]
Mbah Tono.[Foto:Padmo]
Obrolan KH dengan warga Dusun Bacak menjadi gayeng dan sahut menyahut.  Para simbah itu terkenang masa muda mereka ketika air Telaga Mblumbang Sari masih menjadi andalan untuk mencukupi kebutuhan warga 5 dusun, yaitu Nasri, Pule Bener, Pucung, Baros, dan Bacak, Kalurahan Monggol. “Semua warga dari anak-anak sampai dewasa setiap pagi dan sore tumpah-ruah di telaga, Mas,” kata Mbah Rajiyo. “Bahkan kalau tidak mruput ke telaga tidak akan kebagian tempat,” imbuhnya.

Menurut cerita mereka, sebenarnya Telaga Bacak (Blumbang Sari) memang tidak pernah kering walau di musim kemarau. Namun pada tahun 1982 Telaga Blumbang Sari kering. Waktu itu diadakan ritual besik telaga, dengan diberi tumbal kepala kerbau. Percaya tidak percaya, sampai saat ini, Telaga Blumbang Sari tidak pernah kering lagi. Besik telaga selalu diadakan setahun sekali pada hari jemuah legi. Besik telaga di sana berbeda dengan Rasulan. Besik telaga dikhususkan oleh warga sebagai upacara adat untuk membersihkan lingkungan telaga dan nguri-uri telaga. Besik telaga adalah bentuk penghargaan dari warga karena air telaga menjadi barang utama untuk memenuhi kebutuhan warga akan air. “Dulu sering nanggap ledhek, Mas, jika acara Besik Telaga, tetapi sekarang tidak selalu, bergantung kesepakatan warga,” tutur Mbah Tono.

Kini, bersama-sama dengan Telaga Bacak dan PAM, keberadaan PAH masih sangat membantu kebutuhan warga akan air terutama untuk kebutuhan minum dan memasak. Volume satu PAH berkapasitas 10.000 liter senyatanya tidak bisa mencukupi kebutuhan air satu rumah tangga dalam satu tahun. Memang, di Dusun Bacak sudah masuk Perusahaan Air Minum (PAM). Airnya dialirkan oleh perusahaan dari sumber air di sekitaran Pantai Ngrenehan. Aliran airnya lumayan lancar kecuali di hari minggu. Peran air tangki sebagai penyuplai air di PAH sebenarnya bisa digantikan air PAM ini. Apalagi biaya rekening PAM kata para warga lebih irit dibanding membeli air tangki. Selain dengan air PAM banyak pula warga yang memenuhi PAH dengan air tangki. “Biasanya kami membeli air tangki, Mas, untuk satu musim kemarau rata-rata kami membeli 4 sampai 5 air tangki, dengan harga per tangki 120 ribu,” ujar Pak Barjo. “Saya cuma berdua dengan Mbah Putri, biasanya sebulan membayar 20.000 untuk PAM,” cerita Mbah Sugiman. “Kalau saya, yang jumlah anggota keluarga saya 6 orang, biasanya habis sekitar 60 sampai 70 ribu per bulan,” Pak Barjo menambahkan.

“Tetapi tetap saja rasanya tidak mengalahkan air hujan dari PAH itu, Mas, kalau dinggo gawe wedang rasanya seger dan lebih nikmat,” Pak Rajiyo berpendapat. Para warga lain yang mengajak wedangan KH waktu itu pun menyetujui. “Air PAM dan air tangki kalau digodhog terlalu banyak kapurnya, harus disaring,” Pak Barjo menguatkan pendapat Pak Rajiyo. “Jika ada program PAH lagi, banyak warga yang mau, Mas. Ia melanjutkan, “Kalau bisa satu rumah minimal dua bak. Syukur bisa lebih. Yang satu, penmpungan air hujan khusus untuk dikonsumsi. Yang lain diisi air PAM atau air tangki untuk kebutuhan MCK.”

Penampung Air Hujan (PAH) milik warga Bacak, yang separuh berada di luar rumah.[Foto:Padmo]
Penampung Air Hujan (PAH) milik warga Bacak, yang separuh berada di luar rumah.[Foto:Padmo]
Seperti itu lah, eksistensi PAH memang tepat-guna dan telah berdasarkan ilmu Teknik Sipil Tradisional di lingkungan rumah tangga. Menilik kembali catatan Kabar Handayani, ilmu Teknik Sipil Tradisional yang diajarkan kepada mahasiswa-mahasiswa di kampus seperti penciptaan teknologi tepat guna pemanfaatan air hujan, pembuatan saluran drainase desa, pembuatan jalan desa, pembangunan rumah sehat sederhana, tata ruang perdesaan, tata air sawah tradisional, dan sebagainya itu merujuk pada sistem tata kota dan percandian di DIY, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Teknik sipil tradisional tentang pembangungan PAH dirasa lebih tepat dan berguna dibanding PAM atau tangki angkut yang lebih mahal.

Di dalam ilmu teknik sipil tradisional jaman dahulu memang ada yang disebut pompa hidram (hydraulic-ram). Pompa jenis ini mampu mengangkat air dengan energi hidrolis dari perbedaan ketinggian pompa dan sumber air. Modifikasi pompa hidram pernah diterapkan sebagai pump as turbine (PAT) oleh Karlsruhe University dan dipasang di bendung Sungai Bawah Tanah Bribin II dan juga bendung dan pompa irigasi daerah Semanu yang belum lama ini dibiayai Pak Muldoko. Pompa air Bribin II tak menggunakan energi listrik sehingga operational cost-nya minim sekali. Berbeda dengan Bribin I yang pompa airnya dari listrik PLN yang membuat PDAM Gunungkidul menanggung biayanya mahal sekali. Sementara masyarakat menghendaki bagaimana agar air PDAM ben isa tekan ngomahku, tak berfikir biaya yang harus dikeluarkan oleh pemerintah.

Sejalan dengan kenyataan di atas, harapan para warga di Zona Pegunungan Seribu tentang program pengadaan PAH baru dan pelestarian PAH lama justru sebagai usaha yang tepat dalam rangka konservasi air, yaitu pengoptimalan cara memanen air hujan (rainwater harvesting).

Memanen air hujan menggunakan PAH sepintas memang kelihatan ketinggalan jaman, kalah trendi dengan mengalirkan air PAM berbayar yang para warga tinggal memutar keran untuk memakainya. Namun demikian eksistensi PAH yang kurang lebih telah berumur 35 tahun menemani warga Gunungkidul tentu tidak bisa dikesampingkan. PAH telah terbukti sebagai teknologi tradisional yang sederhana, murah, tepat dan efektif, serta berdaya guna bagi warga Gunungkidul sebagai solusi kekurangan air. Terlebih lagi, kata para warga di Dusun Bacak Kalurahan Monggol itu, air hujan dari PAH untuk wedangan lebih menang di rasa.

Wedangan dengan air hujan dari PAH lebih berasa.[Foto:Padmo]
“Wedangan” dengan air hujan dari PAH lebih berasa.[Foto:Padmo]
[KH/Edi Padmo]

Komentar

Komentar