Peluang Ekonomi Digital Terbuka Lebar, AdhesiDev Academy Buka Pelatihan Gratis

oleh -
digital
A. Tuhu S Nugroho, pendiri AdhesiDev Academy. (doc. A. Tuhu)

GUNUNGKIDUL, (KH),– Saat ini, pemerintah Indonesia telah menyusun arah kebijakan transformasi digital 2024 dengan target pertumbuhan ekonomi digital dapat mencapai 3,17% sampai 4,66% (www.wantiknas.go.id). Sayangnya, terdapat persoalan besar yang mengganjalnya. Saat ini Indonesia masih kekurangan 9 juta Sumber daya Manusia (SDM) atau dapat diesbut talenta digital.

Seperti disampaikan Kementerian Komunikasi dan Informatika RI, bahwa Indonesia membutuhkan setidaknya 9 juta talenta digital pada tahun 2030 dengan tujuan agar mampu meraih manfaat maksimal dari ekosistem digital. Adapun potensi valuasi ekonomi digital Indonesia juga diproyeksikan mencapai Rp4.531 triliun, atau setara US$ 315,5 miliar pada 2030 (Siaran Pers Kominfo, 2022).

Merujuk pada hasil penelitian McKinsey Global Institut yang memperkirakan pada tahun 2030, 15-20 juta pekerja Indonesia akan digantikan oleh otomasi. Guna mengejar target dan menghadapi serta menanangkap potensi tersebut, salah satu yang perlu dipersiapkan diantaranya menyediakan sebanyak mungkin tenaga kerja (talenta digital) dalam negeri.

Fakta yang memprihatinkan, saat ini jumlah talenta yang tersedia baru 1,1 juta (DailySocial.id, 2021). Artinya, ada kebutuhan 600 ribu tenaga ahli di bidang digital per tahun. Riset Amazon Web Services (AWS) dan AlphaBeta pun menunjukkan, hanya 19% dari seluruh angkatan kerja di Indonesia yang mempunyai keahlian di bidang digital (Setyowati, 2022).

Masih hasil Riset AWS dan AlphaBeta, bahwa Indonesia membutuhkan cukup banyak pelatihan digital dalam lima tahun ke depan. Tujuannya agar kesenjangan keterampilan digital bisa dikurangi.

Sementara menurut digitalskillglobal.com, ada dua faktor utama dalam kesenjangan keterampilan digital (digital skill gap) sehingga mempengaruhi berbagai sektor dan ekonomi. Faktor pertama adalah rendahnya keterampilan digital yang dimiliki oleh tenaga kerja. Lantas, faktor kedua adalah kurangnya lulusan yang terlatih atau memiliki skill mengenai teknologi digital.

Lantas, dari laporan survei Building Skills for the Changing Workforce (Amazon Web Services & AlphaBeta), 99% perusahaan di Indonesia merasa membutuhkan pelatihan penerapan teknologi digital untuk keperluan kerja sehari-hari. Namun, perusahaan yang sudah menyediakan pelatihan tersebut hanya 36%.

Artinya, ada kesenjangan sebesar 63% antara kebutuhan dan realisasi pelatihan digital di lingkungan perusahaan Indonesia. Kesenjangan tersebut terjadi karena banyak perusahaan tidak siap mengeluarkan biaya besar untuk menyelenggarakan pelatihan.

Sebagai upaya mengatasi permasalahan kesenjangan skill digital tersebut, sejak tahun 2018 Pemerintah Republik Indonesia melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika (KOMINFO) sudah menyelenggarakan program Digital Talent Scholarship (DTS) secara gratis untuk semua lapisan masyarakat.

Namun, program ini tentu memerlukan persyaratan serta dibatasi kouta. Dari serangkaian data dan fakta di lapangan, Warga Karangmojo, A. Tuhu S Nugroho berinisiatif mendirikan wadah atau perusahaan yang memiliki misi membentuk talenta digital.

“Kami pernah lakukan survei pada tahun 2022, digital skill gap juga disebabkan karena tidak ada program pendampingan after course, kurikulum yang tidak relevan dengan industri, standarisasi pengajar/tentor, dan tidak ada program content costumization, serta biaya dan skema pembayaran yang terbatas,” papar Tuhu yang ditemui belum lama ini di Wonosari.

Persoalan tersebut, lanjutnya, juga ia rasakan saat memilih pelatihan pada suatu edutech untuk upskill pengetahuan dan persiapan sertifikasi internasional. Kebanyakan yang saya temui adalah edutech dengan metode self-learning. Tentu, metode ini tidak cocok bagi sebagian orang,” bebernya.

Dia menjelaskan, sebagian besar orang lebih suka belajar dengan cara didampingi oleh mentor, sehingga ketika ada yang tidak paham bisa langsung berdiskusi dengan mentor. Permasalahan tersebut menjadi latar belakang saya untuk membuat startup pada bidang pelatihan teknologi.

Berdasarkan permasalahan tersebut, dia menilai ada peluang usaha untuk membuka pelatihan dan pengembangan talenta digital di Indonesia. Sehingga dia mendirikan AdhesiDev Academy dengan misi dapat mencetak talenta digital yang adaptif dan transformatif.

“AdhesiDev Academy merupakan startup edutech dibidang pelatihan teknologi digital. Teknologi digital yang dimaksud adalah teknologi yang dibutuhkan di industri global seperti blockchain, cyber security, dan cloud computing,” ungkap pria yang supel ini.

Konsep pelatihan yang ditawarkan oleh AdhesiDev Academy terdiri dari level basic hingga advance yang dikemas dalam bentuk project guided, fundamental mentorship, job role bootcamp dan persiapan sertifikasi IT internasional.

Konsep pelatihan AdhesiDev Academy dirancang dan dikonsep secara mendalam menyesuaikan dengan kebutuhan konsumen. AdhesiDev berdiri pada 21 September 2022 dan mulai membuka kelas pelatihan pada 9 Mei 2023 merupakan sub-brand dari startup Rampung Edu yang sudah berbadan hukum dengan nama PT. Rampung Inovasi Digital (AHU 004127.AH.01.31.Tahun 2022).

Bisnis
Para pemenang Lomba Ide Bisnis berfoto bersama Sekda Gunungkidul, penyelenggara lomba, PLN ULP Gunungkidul serta jajaran Dispussip. Ide bisnis (AdhesiDev Academy) gagasan A. Tuhu menjadi juara 1. (KH/ Kandar)

Saat ini AdhesiDev Academy sudah memiliki peserta pelatihan sebanyak 14 peserta pada kelas project guided, 42 peserta pada kelas fundamental mentorship, dan 7 peserta pada kelas persiapan ujian sertifikasi IT dengan fokus pelatihan pada teknologi cloud computing dan blockchain.

“Selain kelas pelatihan, AdhesiDev juga memiliki brand bisnis di sektor lain yaitu: AdhesiDev Network (bidang media/berita seputar IT), AdhesiDev Store (toko online fokus pada merchand tentang IT), dan AdhesiDev Builder (layanan jasa solusi IT, contohnya software development),” terang Tuhu.

Melalui AdhesiDev Academy ini Tuhu dan tim berupaya untuk mengenalkan teknologi seluas-luasnya kepada masyarakat Indonesia melalui program AdhesiDev Invasion, yaitu program webinar dan pelatihan yang dapat diikuti oleh siapa saja secara gratis.

Pada tahun 2022, AdhesiDev Academy pernah mendapatkan beberapa penghargaan, antara lain: juara harapan 2 PKM Kewirausahaan pada lomba program kreativitas mahasiswa (PKM) yang diselenggarakan oleh Asosiasi MIPA LPTK Indonesia (AMLI), juara 2 UNY National Enterpreneur Competition (NEC) yang diselenggarakan oleh BEM KM UNY dan menjadi salah satu tenant LPIK ITB pada program MBKM Wirausaha Merdeka.

Agenda kedepan, AdhesiDev Academy memiliki target untuk menjadi mitra Kampus Merdeka (program MBKM), mitra program Kartu Prakerja, mitra program Digital Talent Scholarship KOMINFO, dan tentunya mitra pemerintah daerah Kabupaten Gunung Kidul melalui Rumah BUMN dan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan untuk menyelenggarakan program “Gunung Kidul Developer Camp” guna meningkatkan literasi khususnya teknologi digital sehingga target pertumbuhkan ekonomi digital Indonesia dapat tercapai. (red)

Berbagi artikel melalui:

Komentar

Komentar