Telaga Winong dan Telaga Suci, Ceritanya Dulu dan Sekarang

oleh -
Telaga
Telaga Winong. (KH/ WG)

SAPTOSARI, (KH),– Sumber utama air baku di wilayah bagian selatan Gunungkidul adalah telaga. Keberadaan telaga hampir merata di wilayah yang disebut Pegunungan Seribu ini. Ratusan telaga ini selama berabad-abad turut mengiringi kehidupan masyarakat. Telaga menjadi tumpuan warga untuk mencukupi kebutuhan air, mulai dari minum, mandi, mencuci, maupun “ngguyang” ternak mereka.

Sebelum hadirnya bak penampung air hujan (PAH) dan PAM, telaga punya peran utama untuk pemenuhan air masyarakat Pegunungan Seribu. Setiap hari, banyak warga yang berkumpul di telaga dengan berbagai aktivitas. Baik untuk mandi, mencuci, mengambil air, memandikan ternak, memancing ikan, atau sekedar bersantai dan bercengkerama sambil “momong” atau mengasuh anak.

Pada sekeliling telaga umum dijumpai banyak pohon-pohon besar perindang, entah itu beringin, klumpit,jambu klampok, winong, trembesi, bulu, atau pohon resan lainnya. Suasana telaga yang asri dan nyaman menjadikan kawasan telaga menjadi semacam tempat berkumpul alami bagi warga untuk melepas lelah setelah warga bekerja seharian di ladang.

Rutinitas warga di telaga menjadi wahana interaksi sosial antar warga. Telaga menjadi semacam titik pusat berkumpul. Dari kebiasaan ini lahir adat istiadat atau budaya masyarakat yang terkait langsung dengan keberadaan dan fungsi air di telaga.

Seiring berjalannya waktu dan peradaban, lambat laun fungsi telaga makin tergerus oleh perkembangan jaman. Berbarengan dengan alih fungsi atau rusaknya lingkungan kawasan pendukung telaga, air telaga pun banyak yang mulai mengering saat musim kemarau.

Sebenarnya pemerintah bermaksud baik dengan program revitalisasi telaga yang pernah dilakukan. Revitalisasi dilakukan dengan mengeruk dan memperdalam telaga agar debit airnya bertambah. Namun, pembuatan talud permanen yang mengelilingi telaga justru malah membuat telaga semakin cepat mengering. Akhirnya telaga tidak lagi mampu menyimpan air hujan.

“Banyak faktor yang membuat telaga-telaga di Gunungkidul mengering airnya. Disamping rusaknya kawasan pendukung dengan kurangnya vegetasi tanaman yang berfungsi konservasi, biasanya faktor terbukanya “luweng” bisa menjadi penyebab utama,” terang Siddiq Asiyanta (43), seorang pemerhati telaga, warga Padukuhan Bulurejo, Kalurahan Kepek, Kapanewon Saptosari, Gunungkidul, Minggu (29/8/2021).

“Luweng ini adalah semacam lubang (ponour) pada dasar telaga. Biasanya berbentuk vertikal atau kadang horizontal yang terhubung dengan jalur atau jaringan sungai bawah tanah. Jadi kalau luweng ini terbuka, maka air telaga akan habis mengalir pergi,” lanjut Siddiq.

Siddiq menerangkan, ada banyak kasus keringnya telaga setelah dibangun talud permanen. Menurutnya, ini terjadi karena hilangnya lapisan dasar telaga yang berupa membran tipis kedap air alami, yang terbentuk selama ratusan tahun yang berfungsi sebagai penahan air.

“Orang-orang desa biasanya menyebut lapisan ini dengan istilah “lemi”. Wujudnya berupa butiran atau partikel sangat lembut, menjadi semacam membran alami yang melapisi dasar telaga. Pada proses pembangunan telaga, ada alat berat yang masuk dan mengeruk tanah, sehingga lapisan ini rusak,” imbuhnya

Siddiq yang sehari hari bekerja sebagai pendamping Program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas) ini mencontohkan, dua telaga dalam satu kawasan tetapi keadaanya saat ini berbeda, yaitu Telaga Winong dan Telaga Suci. Kedua telaga ini terletak di Kalurahan Kepek, Kapanewon Saptosari.

“Telaga Winong adalah salah satu contoh telaga yang keadaanya relatif masih alami, puluhan pohon resan masih lestari, tumbuh di sekeliling telaga,” terang Siddiq.

Siddiq melanjutkan, luas Telaga Winong mencapai kurang lebih 3 hektar, melintasi Kampung Winong di sisi timur, Kampung Gondang di sisi barat, Kampung Ngepung di sisi selatan dan di sisi utara merupakan wilayah Padukuhan Tileng.

“Air Telaga Winong belum pernah kering, orang yang paling tua di desa kami juga mengatakan bahwa dirinya juga tidak tahu kapan telaga Winong airnya mengering,” lanjutnya.

Pemanfaatan air Telaga Winong bagi masyarakat saat ini hanya terbatas untuk keperluan mandi, sedangkan pada bulan-bulan tertentu oleh Kelompok Mina Lestari ditebar benih ikan untuk pemancingan.

“Telaga Winong termasuk telaga yang belum banyak dilakukan revitalisasi, hanya penguatan talud di beberapa pinggir telaga. Sebagian besar talud masih alami berupa tatanan batu kosong dan batu utuh yang menyatu dengan akar pohon resan yang mengelilinginya,” lanjut Siddiq lagi.

Dari hasil obrolan Siddiq dengan para tetua desa, Telaga Winong adalah telaga yang sangat tua. Dari generasi ke generasi. Sejak dulu desa-desa lain banyak yang “nglurug” untuk memanfaatkan atau mengambil air telaga.

“Akan tetapi, sejak akhir tahun 1990, fungsi telaga mulai berkurang diakibatkan oleh kondisi kualitas air yang semakin menurun. Air tidak jernih lagi dan mulai berkurang jenis ikan, udang dan kepiting. Sekitar tahun 1993 saat terjadi kemarau panjang, airnya mengalami penyusutan drastis dan mengalami perubahan warna menjadi kehijauan,” lanjut Siddiq lagi.

Faktor lain berkurangnya fungsi telaga menurut Siddiq, juga mulai masuknya program pemerintah melalui pembangunan bak Penampung Air Hujan (PAH). Program pembangunan PAH ini mulai masuk ke desanya sekitar tahun 1993.

“Melalui program PKAK, Pemerintah mulai membangun PAH, baik secara komunal maupun individu sebagai tabungan air hujan, dan bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan minum dan memasak. Selanjutnya pelayanan air PDAM juga mulai masuk, sehingga warga kadang tidak perlu lagi ke telaga,” imbuhnya.

Aktivitas memandikan ternak sapi yang sangat umum dilakukan oleh masyarakat petani dulu, lambat laun juga mulai ditinggalkan sejak awal tahun 2000 hingga saat ini.

Pemanfaatan air telaga saat ini hanya untuk mandi dan mencuci pakaian, itupun terbatas pada golongan usia tertentu yaitu rata-rata usia di atas 45 tahun.

“Mereka orang-orang tua yang sudah terbiasa sejak kecil mandi dan mencuci di telaga. Sehingga sudah menjadi kebiasaan mandi di telaga. Mereka adalah warga Padukuhan Bulurejo, Padukuhan Gondang, Padukuhan Tileng dan Padukuhan Wareng,” terang Siddiq.

Siddiq melanjutkan, untuk adat atau ritual masyarakat terkait telaga, sampai saat ini masih terus dilakukan. Kegiatan bersih telaga ini biasanya bersamaan dengan acara bersih dusun/desa (rasulan) yang dilaksanakan pada hari Jumat Wage setiap tahunnya.

Di setiap pohon resan yang ada di Telaga Winong, ada banyak “panjang ilang” ataupun angsangan untuk meletakkan berbagai ubo rampe, baik berupa makanan ataupun syarat sesaji lainnya sebagai sarana ritual besik telaga. Beberapa di antaranya tampak sudah kering dan melapuk karena sudah lama digantungkan di pohon. Ini menjadi pertanda bahwa adat kepercayaan warga sekitar untuk menghormati yang “mbaurekso” memang masih dilakukan.

Untuk Telaga Suci, menurut cerita tutur masyarakat setempat keberadaannya lebih tua daripada Telaga Winong. Jarak keduanya hanya sekitar 500 meter dipisahkan oleh sebuah bukit atau cempluk. Namun, keadaan telaga ini pada musim kemarau tahun ini memang betul-betul telah kering. Tanah dasar telaga tampak merekah atau “nelo”. Banyak warga yang memakai telaga kering ini untuk menjemur gaplek atau jengki (kulit singkong).

Masyarakat di tempat ini juga menyebut sebagai Telaga Sawah. Karena letak sisa telaga yang masih ada airnya ketika musim hujan. Letak telaga ini ada di Kampung Sawah Padukuhan Wareng Kalurahan Kepek Kapanewon Saptosari.

“Telaga Suci merupakan telaga tertua yang ada di wilayah Kalurahan Kepek. Dulu ukurannya sangat luas yaitu mencapai 11 ha. Areanya melintasi 2 bukit (cempluk ) terletak di antara dua bukit sepanjang kurang lebih 1500 meter memanjang melintasi Kampung Galeng, Sawah, Dukuh,” terang Siddiq.

Menurut cerita para sesepuh dusun, Telaga Suci pada sekitar tahun 1984 mengalami penyusutan air yang sangat drastis. Diperkirakan terjadi karena ada kebocoran pada luweng telaga. Meskipun dilakukan perbaikan namun kondisi air semakin berkurang hingga pada tahun 1987 kondisi air benar-benar menghilang.

Telaga
Telaga Suci. (KH/WG)

Pada tahun 2008 pasca gempa bumi dilakukan pembangunan kembali Telaga Suci, Namun hanya 1/3 dari luas telaga yang terletak di Kampung Sawah Padukuhan Wareng. Sedangkan untuk sisi barat ke utara yang dulu masuk kawasan telaga, saat ini sudah menjadi tanah tegalan.

Pembangunan meliputi pengerukan sedimen, penguatan talud, serta penanaman pohon perindang di sepanjang pinggir telaga.

Pemanfaatan air telaga sawah hanya pada musim penghujan untuk mandi, mencuci pakaian serta kegiatan pemancingan.

“Setelah musim penghujan, air telaga hanya bertahan kira kira 1 bulan selanjutnya pada musim kemarau menjadi mengering. Pada masanya dahulu telaga suci dimanfaatkan oleh seluruh masyarakat Kalurahan Kepek dan dari luar wilayah kalurahan yaitu Kalurahan Ngloro, Kanigoro dan Jetis,” lanjut Siddiq.

Menurut cerita tutur masyarakat setempat, Telaga Suci ini pada waktu masih bagus. Kondisinya sangat elok seperti sungai yang mengitari dua bukit dengan pepohonan di sekeliling telaga yang rindang.

“Pada acara-acara tertentu misalnya ruwatan atau orang memiliki hajat, warga menanggap wayang di ujung telaga sisi utara. Pada acara khitanan anak juga dilakukan kesenian Terbangan (semacam Hadroh) atau Tayuban. Kesenian-kesenian adat memang lebih banyak dilakukan oleh warga di telaga Suci, karena ini adalah telaga yang diyakini paling tua,” pungkas Siddiq. (Edi Padmo)

Berbagi artikel melalui:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Komentar

Komentar