Dwijo Sumarto, Pembaca Cupu Panjala: Saya Hanya Melaksanakan Tugas

oleh -

PANGGANG, kabarhandayani,– Kesibukan persiapan ritual pembukaan cupu Kyai Panjala telah terlihat di kediaman Dwijo Sumarto sejak siang ini Senin (22/9/2014). Dwijo merupakan penerus generasi ke-7 dari keluarga trah Kyai Panjala.
Dibantu keluarga dan masyarakat sekitar, Dwijo menyiapkan perlengkapan pembukaan cupu, pendirian tenda, merebus air, persiapan lokasi parkir. Mereka juga telah menyiapkan berbagai masakan untuk selamatan atau kenduri sekaligus untuk sajian kepada pengunjung yang ingin menyaksikan ritual yang akan berlangsung nanti malam.
Seperti diketahui, setiap kali pelaksanaan ritual ribuan warga DIY dan sekitarnya datang untuk melihat secara langsung di kediaman sang pemilik, yang berada di RT 09 Padukuhan Mendak Desa Girisekar Kecamatan Panggang.
Lelaki sepuh tersebut menyampaikan, sebelum dini hari nanti cupu akan dibuka dan dilakukan kenduri sedikitnya dua kali. Yang pertama merupakan kenduri syukuran terutama bagi mereka yang hajatnya terkabul di tahun lalu setelah menyampaikan permohonan sebelumnya, kemudian yang kedua merupakan kenduri selamatan sebelum pembukaan cupu.
Siang ini tampak warga sekitar kediaman Dwijo berdatangan membawa ayam jantan Jawa serta beras komplit dengan bumbu untuk membuat nasi uduk. Itu dilakukan sebagai ungkapan syukur karena hajat telah terkabul. Setiap kali ritual sekitar 50 ingkung dimasak untuk santap bersama ketika pelaksanaan.
Ia melanjutkan, ketiga cupu yang bernama Semar Kinandhu, Palang Kinantang, dan Kenthi Wiri, memiliki makna berbeda. Urut dari yang pertama memiliki arti semu, lalu pralampita atau perlambang, kemudian terakhir kasunyatan atau kejadian nyata.
Sebagian juga memaknai kondisi cupu serta gambar yang muncul pada kain pembungkus cupu dapat dijadikan gambaran kejadian yang akan terjadi ditahun mendatang terkait kehidupan sosial, ekonomi dan politik.
Semar Kinandhu untuk kalangan atas, elit politik atau pejabat negara atau orang dengan jabatan tinggi. Palang Kinantang untuk golongan menengah, serta Kenthi Wiri perlambang untuk rakyat kecil.
“Saya selaku penerus yang dipercaya oleh trah hanya melaksanakan tugas. Gambar yang muncul coba saya sampaikan. Mengenai kebenaran makna dari gambar yang muncul di kain mori tersebut silahkan mau percaya atau tidak,” jelasnya.
Sejak tahun 1957, pembukaan cupu dilaksanakan tiap tahun pada malam Selasa Kliwon. Dwijo menuturkan, saat ini dirinya belum mempunyai calon penerus untuk menggantikannya, “Belum ada, entah dari trah atau orang lain itu hak saya yang menentukan,” kata Dwijo. (Kandar/Jjw).

Komentar

Komentar