Buwage: Panorama Eksotik di Kawasan Batur Agung

oleh -
iklan dispar

NGLIPAR, kabarhandayani,– Bukit Watu Gede di Desa Kedung Poh Kecamatan Nglipar sebenarnya merupakan kawasan yang eksotis panoramanya. Area yang merupakan bagian dari kawasan utara Gunungkidul atau yang dikenal dengan Zone Batur Agung ini kondisi alamiahnya sangat potensial untuk dijadikan sebagai destinasi wisata di Gunungkidul.
Bukit Watu Gede atau Buwage persisnya terletak di Padukuhan Sinom Desa Kedung Poh Kecamatan Nglipar. Watu Gedhe dalam bahasa Indonesia berarti batu besar, sesuai dengan ukuran fisik bebatuan di Watu Gedhe yang besar jika dibandingkan dengan batu-batu yang ada di sekitarnya.
Suparman, Dukuh Sinom menjelaskan, masyarakat setempat meyakini bahwa Bukit Watu Gedhe merupakan gunung aktif pada ribuan tahun yang lalu. Konon, orang sakti bernama Ki Bromo Kendali melakukan ritual di sisi timur Watu Gede yang biasa disebut Watu Amben. Karena kesaktian Ki Bromo, gunung tersebut mati dan menyisakan batu besar yang disebut Watu Gedhe.
Uniknya, batu yang disebut Watu Amben tidak pernah basah atau terkena air, bahkan di musim hujan. Menurut Suparman, batuan di Buwage merupakan batuan purba. Hal ini didukung dengan adanya penelitian dari berbagai universitas di Yogyakarta yang menyatakan bahwa Buwage merupakan lahar yang mengeras berjuta-juta tahun yang lalu.
Berdasarkan penuturan Suparman, Buwage sudah sering dikunjungi orang sejak lama, bahkan pernah digunakan sebagai lokasi makrab salah satu universitas di Yogyakarta. Melihat potensi tersebut, akhirnya dibentuklah Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Bukit Watu Gedhe (Buwage). Kelompok pengembang kegiatan kepariwisataan berbasis pemberdayaan masyarakat ini telah mulai aktif mengelola potensi kawasan ini sejak 2013 lalu.
“Sekilas barisan Bukit Batur Agung hanya sekedar bukit dan gunung. Tetapi ada potensi wisata alam yang belum tersentuh,” katanya, Minggu (21/9/2014).
Lanjut Suparman, Bukit Watu Gedhe masih alami dan sangat cocok untuk wisata dan pendidikan alam seperti bumi perkemahan dan outbond. Saat ini telah terdapat 3 gasebo yang dijadikan tempat beristirahat dan menikmati pemandangan. Jumlah pengunjung saat ini rata-rata sekitar 50-100 orang per minggu. Kondisi akan lebih ramai saat hari libur. Untuk menikmati pemandangan di puncak, pengunjung harus melakukan pendakian selama sekitar 15 menit dengan melewati tangga yang sudah dibangun pengelola.
“Harapan dengan dikelolanya potensi ini nanti dapat bermanfaat bagi masyarakat sekitar dengan turut mengangkat ekonomi warga. Kalau banyak pengunjung, masyarakat bisa jualan di sekitar sini. Tentunya butuh kerjasama dg berbagai pihak seperti pembenahan jalan menuju lokasi yang belum beraspal,” tambahnya.
Yosita Anggraini (18), pengujung dari Desa Mengger Kecamatan Nglipar mengaku senang dengan suasana di Buwage. Menurutnya, pemandangan dari puncak Buwage sangat bagus. “Baru pertama kali kesini. Naiknya capek, tapi sampai atas pemandangannya bagus. Bisa liat seluruh penjuru,” ungkapnya sembari menikmati panorama dari gardu pandang.
Sementara Cika (16), pengunjung dari Karang Tengah Wonosari mengaku sudah sering berkunjung ke tempat ini. “Kalau libur sering kesini bersama teman-teman bawa makanan dari rumah. Pemandangannya bgus dan udara sejuk,”pungkasnya. (Mutiya/Jjw).

Komentar

Komentar