Desa Purwodadi Hidupkan Lagi Kesenian Tradisional Srandul

oleh -
Salah satu pentas srandul. Foto : KH/Kandar
iklan dispar
Salah satu pentas srandul. Foto : KH/Kandar
Salah satu pentas srandul. Foto : KH/Kandar

TEPUS,  (KH) —  Setelah sempat mati suri, Desa Purwodadi Tepus kembali menghidupkan kesenian tradisional Srandul. Sebagai pusat lokasi latihan sekaligus sekretariat berada di padukuhan Brongkol, salah satu padukuhan di desa setempat.

Jaka Supriyana, Dukuh Brongkol, khawatir, jika tidak dihidupkan kembali kesenian tersebut, takutnya akan hilang tanpa ada yang mewarisi salah satu kesenian yang telah lama ada di wilayah itu. Upaya awal yang ditempuh dengan mengajak pemain-pemain lama untuk kembali berpentas untuk mengenalkan kesenian tersebut kepada masyarakat.

“Sasaran kami untuk regenerasi sebenarnya kepada kaum muda mudi. Mereka yang akan menggantikan pemeran-pemeran yang sudah sepuh, sehingga Srandul tidak mati atau hilang dari wilayah kami,” ungkapnya beberapa waktu lalu. Selain itu, rencananya sebagai pelengkap wisata budaya, khususnya di Desa Purwodadi. Untuk menyambut tamu wisatawan sekaligus memberikan hiburan.

Pada beberapa kesempatan, kesenian tersebut digelar. Saat bersih desa, atau sebagai pelengkap hiburan peringatan hari besar yang dipusatkan di balai desa. Bahkan, tidak menutup kemungkinan pentas untuk warga yang memiliki hajatan dan lainnya.

Endro Cahyono, ketua kelompok kesenian, mengutarakan, Srandul mirip dengan kethoprak, namun tidak sedikit adegan dilakukan dengan berjoget diiringi musik tradisional.

“Srandul adalah salah satu kesenian tradisional yang merupakan seni teater kerakyatan bernuansa Islami dengan mengangkat cerita dari Babad Menak,” jelas Endro.

Dirinya menambahkan, Srandul dapat dimainkan minimal 10 orang. Musik pengiringnya antara lain: kendang, angklung, rebana, kenthongan. Adapun beberapa tokohnya seperti: Tiyang Agung Jayeng Rana, Umar Maya, Umar Madi, Patih Bestak, Patih Maktal, dan lain-lain. (Kandar)

Komentar

Komentar