Cerita Kecil tentang Penanaman “Resan”

oleh -
Penanaman Gayam di Sumber Gayam, Kulwo Bejiharjo Karangmojo
Penanaman Gayam di Sumber Gayam, Kulwo Bejiharjo Karangmojo
iklan dispar

Keberadaan suatu sungai berhubungan erat dengan keberadaan sumber air atau mata air. Lingkungan sungai berada di tempat terendah dimana suatu wilayah geografi berada. Mata air berada lebih tinggi dibanding sungai. Air selalu mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang lebih rendah. Lingkungan sungai yang gundul, ketika musim hujan, akan menyebabkan tanah longsor dan banjir karena dialiri air berlebih dari atas. Sementara itu lingkungan sungai yang terdapat banyak pohon di sekitarnya ketika hujan lebat turun akan cenderung terlindung dari kerusakan akibat banjir.

Air hujan tidak akan begitu saja terus mengalir ke wilayah lebih bawah, namun disimpan dan dijaga oleh pepohonan di sekitarnya (resan). Setelah beberapa waktu, air hujan akan berubah menjadi air tanah. Air tanah dikumpulkan dan dijaga oleh resan, kemudian di beberapa tempat dikeluarkan menjadi tuk atau mata air yang menyokong adanya sungai. Keberadaan resan di lingkungan sungai amat mendesak untuk direvitalisasi. Jika resan sekitar sungai mulai menghilang, maka siklus hidup masyarakat sekitar sungai pun akan terganggu, bahkan berubah.

Bermula dari pemahaman seperti itu, para muda yang tergabung dalam Komunitas Gabungan Orang-orang Penuh Perjuangan (Garangan) dari Dusun Mojosari Desa Playen Kecamatan Playen Kabupaten Gunungkidul tergerak untuk melakukan aksi konservasi sungai. Mereka menceritakan sebuah cerita kecil dari masa kecil mereka bahwa sumber air yang berada di dusunnya seperti Sumber Srumbung, Sumber Klumpit, dan Sumber Plangkahan dulu merupakan sumber air melimpah yang menyokong keberadaan Sungai Mojosari. Sekarang kondisi aliran air Sungai Mojosari sangat sedikit. Beberapa sumber mata air tersebut tak lagi menyokong jumlah air yang mengaliri sungai. Berkurangnya intensitas hujan akan mempercepat Sungai Mojosari menjadi kering.

Penanaman ficus oleh Garangan. Foto: Padmo
Penanaman ficus oleh Garangan. Foto: Padmo
Penanaman ficus oleh Garangan. Foto: Padmo
Penanaman ficus oleh Garangan. Foto: Padmo

Mereka kemudian melakukan pelacakan terhadap 10 mata air di sepanjang Sungai Mojosari yang sedang mengalami “tidur”. Keputusannya adalah, mereka segera melakukan aksi langsung berupa penanaman pohon konservasi di beberapa titik. Aksi ini sebagai bentuk komitmen Komunitas Garangan untuk menghidupkan kembali dan menjaga Sungai Mojosari. “Tidak ada kata terlambat!” begini kemauan mereka. Berbicara sumber air adalah berbicara tentang kehidupan universal. Mereka harus segera memulainya. Bersama dengan pihak donatur resan dan komunitas jejaring resan yang lain, penanaman ficus dan pohon-pohon penyimpan air dilaksanakan dengan bergotong-royong.

Menurut penglihatan saya, semangat dan komitmen Komunitas Garangan untuk menjaga Sungai Mojosari sangat luar biasa. Gerakan mereka bisa jadi menjadi gerakan penyadaran bersama tentang arti pentingnya konservasi sungai di Gunungkidul. Di kemudian hari, gerakan mereka dapat menginspirasi teman-teman dari desa-desa yg lain di Gunungkidul yang bisa saling membantu dalam aksi konservasi baik sungai, tuk atau sumber, dan telaga.

Keresahan yang hampir sama dengan apa yang dirasakan oleh Komunitas Garangan muncul juga di Dusun Kulwo Desa Bejiharjo Kecamatan Karangmojo. Seorang sesepuh di sana merasa resah, Sumber Air Gayam yang berada di perbatasan Dusun Kulwo dengan Dusun Ngringin mulai mengering airnya. Di Sumber Gayam tak lagi ditemui pohon gayam padahal namanya adalah “sumber gayam”. Sumber Gayam terletak sealur dengan Sumber Elo di wilayah lebih atas di Dusun Gunungsari (yang telah mati) dan Sumber Beji di wilayah lebih bawah yang lebih melimpah airnya karena masih dijaga oleh banyak resan.

Sebenarnya setiap kali memasuki musim kemarau, air di Sumber Gayam tidak pernah kering. Hanya saja jumlahnya tidak melimpah dan tidak lagi digunakan sebagai sumber air untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Memang, setiap tahun diadakan upacara bersih kali di Sumber Gayam, sekedar untuk nguri-uri tradisi. Upacara Bersih Kali yang diadakan di Sumber Beji, yang masih memiliki resan banyak, harus didahului Upacara Bersih Kali di Sumber Gayam terlebih dahulu. Artinya, Sumber Gayam dituakan dibanding Sumber Beji.

Penanaman ficus di Sumber Beji. Foto: Padmo
Penanaman ficus di Sumber Beji. Foto: Padmo
Mbah Juru Kunci melakukan penanaman ficus di Sumber Beji. Foto: Padmo
Mbah Juru Kunci melakukan penanaman ficus di Sumber Beji. Foto: Padmo

Aliran air dari Sumber Gayam ini, bersatu dengan Sumber Beji di sisi bawah, Mudal, Klumpit, kemudian mengalir melalui Sumber Selang, nJebul, Sruwoh, Pindhul, dan Banyumata, akhirnya muncul di Sumber Gedhong dan berakhir di Kali Oya. Sumber Gayam dan Sumber Beji ikut mendukung aliran air yang digunakan untuk pariwisata dan pertanian di bagian hilir.

Keadaan pohon-pohon penyangga Sumber Gayam kurang diperhatikan oleh masyarakat. Masih ada satu resan penjaga di sana, yaitu pohon bulu. Pohon bulu ini lah yang menjaga air di Sumber Gayam walaupun kondisinya tidak terawat. Kemungkinan besar mata air di Sumber Gayam tertutup longsoran batu. Pemberian ikan ikan sidat di tuk atau Sumber Gayam merupakan salah satu upaya agar mata air bisa kembali membesar. Hutan di sekitar Sungai Gayam sebagai penyangga daerah tangkapan air pun sudah gundul.

Penanaman beberapa resan seperti gayam, ringin, bulu, dhuwet, dilakukan di Sumber Gayam dan Sumber Beji. Penanaman dilakukan oleh juru kunci beserta tim juru kunci kurang lebih sejumlah 7 orang. Meskipun kebanyakan orang tua, mereka menuturkan bahwa merawat sumber seperti menyapu atau kerjabakti sering mereka lakukan. Mereka juga resah seperti saya, sedikit sekali bahkan tak ada pemuda yang senang merawat sumber air di dusun mereka. Namun paling tidak, kesadaran untuk melakukan penanaman di kawasan sabuk hijau dan daerah penangkapan air telah mereka miliki. Dan mereka telah melakukannya.

Harapannya, penanaman pohon konservasi air di Sumber Gayam dan Sumber Beji Dusun Kulwo Desa Bejiharjo Kecamatan Karangmojo memberi manfaat untuk alam dan generasi. Para muda semoga menyusul tergerak untuk menanam.

Sebenarnya semua bermula dari keresahan saya dan kawan-kawan tentang keadaan sumber air di Dusun Tanjung, tempat tinggal saya. Saya dan kawan-kawan terinspirasi laku hidup Mbah Sadiman di Gunung Gendol daerah Wonogiri sana yang bagi saya luar biasa. Mbah Sadiman menanam 17 pohon beringin di sebuah bekas mata air di lereng Gunung Gendol. Yang bertahan hidup hanya 3 pohon. Setelah 20 tahun, mata air hidup kembali. Pesan Beliau: hal yg paling berat bukanlah menanam, tetapi merawat apa yg telah kita tanam. Kemudian saya dan kawan-kawan tergerak untuk menanami ficus di sebuah bekas mata air dan Daerah Aliran Sungai (DAS)  Tanjung. Di bulan ke-4 penanaman ficus di sepanjang DAS Sungai Tanjung ini, dari 42 pohon yg kita tanam hampir separuhnya gagal. Kita perlu instrospeksi dan evaluasi tentang apa yang seharusnya kita lakukan di kemudian hari. Berkilo-kilo meter Daerah Aliran Sungai yang akan kita hijaukan. Berpuluh mata air yang harus kita bangkitkan.

Saya dan kawan-kawan hanya menjawab keresahan kita sendiri tentang keadaan tempat tinggal kita sendiri dengan ikhtiar kecil. Harapannya, semoga mata air yang hilang dapat lahir kembali, semoga tanah kita subur lestari. Siapa yang akan ngreksa (menjaga) sumber air dan tanah kita jika bukan kita sendiri.

Salam Resan, Salam Lestari!


[Penulis: E. Padmo]

Komentar

Komentar