Cara Pengendalian Hama Puthul

oleh -
kadhung tresno
Hama Puthul. Foto: Juju
Hama Puthul (Phyllophaga hellery). Foto: Juju

WONOSARI,(KH)— Pengendalian hama uret atau puthul dapat dilakukan melalui pendekatan Pengendalian Hama Terpadu (PHT), yaitu dengan memadukan berbagai teknik pengendalian yang disesuaiakan kondisi setempat sehingga dapat dipertanggung jawabkan secara teknis ekologis, ekonomis, dan sosial.

Penyuluh Pertanian Gunungkidul, Budi Kuncoro mengatakan, pengendalian hama puthul dapat dilakukan dengan cara melakukan pengolahan tanah dengan kedalaman 30 cm. Sehingga larva yang berdiapause dan kepompong dapat keluar.

“Jika pengolahan tanah dalam, populasi uret secara otomatis akan terangkat keluar, tekena sinar matahari dan akan mati. Ini salah satu cara pemusnahan,” kata Budi saat ditemui di kantornya sepekan lalu.

Cara lainya pengendalian hama puthul dapat dilakukan dengan melibatkan semua komponen mulai petani, kelompok tani, dan aparat terkait. Cara penangkapanya dilakukan dengan penangkapan masal serempak di beberapa kawasan.

“Berburu puthul yang dilakukan masyarakat sebenarnya salah satu upaya pemutusan siklus puthul. Cara tersebut sangat efektif dan efisien dalam pengendalian hama puthul,” terangnya.

Budi menjelaskan, penggenangan lahan persawahan saat musim hujan dengan mambuat pematang untuk menampung air juga bisa sebagi pengendalian uret, karena uret yang berada didalam tanah akan mati. Disamping itu pada lahan persawahan sebaiknya ditaburi kapur.

“Saat melakukan budidaya tanaman yang sehat dengan pemupukan mengandung unsur N, P dan K sehingga kondisi tanaman dapat tumbuh dengan baik. Dengan demikian tanaman kurang disukai uret,” jelasnya.

Untuk daerah endemis uret, sebaiknya sebelum sebar benih, dapat dicampur menggunakan pestisida seed treatment, sehingga dapat bertahan selama 1 bulan pada pengakaran. Pada pempukan kedua, sebaiknya dilakukan dengan mencampur pestisida sistematik, sehingga uret akan mati.

Cara lainya, yakni dengan melakukan pengumpanan pada persawahan dengan mencampur gabah dengan parutan gadung. Menggunakan pestisida nabati, antara lain mahoni, tembakau, daun mindi dan daun mimba. Menggunakan agensia hayati Metharizium sp, untuk mengendalikan uret yang terdapat dalam tanah.

“Pengendalian hama uret, ditentukan biokologi (perilaku hama) sehingg dapat melakukan tindakan pengendalian dengan cara atau teknik yanh tepat dan keberhasilan bisa maksimal,” jelasnya. (Juju/Jjw)

Komentar

Komentar