Beringin Pasar Kawak yang Diduga Sengaja Dirusak, Akhirnya Mati

oleh -
Beringin
Beringin di depan Balai Padukuhan Seneng mati. ( KH/ Edi Padmo)

WONOSARI, (KH),– Kamis siang (29/4/2021), terik matahari terasa menyengat. Angin awal musim kemarau yang bertiup di halaman Balai Padukuhan Seneng, Kalurahan Siraman, Kapanewon Wonosari, Gunungkidul terasa kering.

Suasana teduh di tempat itu kini tak terasa lagi. Pohon Beringin berusia ratusan tahun yang telah lama menaungi tempat yang dahulu disebut Pasar Kawakberingin kondisinya saat ini tampak memprihatinkan. Daunya meranggas habis. Ranting, dahan dan batangnya telah mengering mati.

Gejala kematian Beringin berawal sekitar pertengahan bulan November 2020. Masyarakat Padukuhan Seneng terkejut saat melihat daun-daun pohon Beringin di halaman balai dusun yang biasanya hijau dan rimbun tampak menguning dan rontok.

Mereka semakin gusar saat mendapati bahwa tanah di sekitar pohon itu tumbuh, tercium bau minyak Solar yang menyengat. Penasaran dengan apa yang terjadi, masyarakat dan pemuda serta pemangku adat Dusun Seneng berinisiatif untuk menggali tanah di sekitar akar pohon bersejarah itu.

Dan betapa terkejutnya mereka, saat mendapati tanah sekitar pohon penuh dengan minyak Solar, Oli, dan tercium bau racun tanaman. Akar pohon tampak rusak dan beberapa bagian tampak bekas dibakar.

Masyarakat Dusun Seneng yang peduli kemudian bertindak. Mereka berusaha membersihkan dengan menyemprot air untuk mensterilkan tanah dari racun.

“Waktu itu kami menghabiskan 7 tangki air untuk menyemprot tanah di sekitar pohon,” terang Mahmudi (63), Kamis (29/4/2021). Mahmudi merupakan salah satu pemerhati adat Pasar Kawak.

Konon, kawasan tersebut merupakan cikal bakal Pasar Argosari yang dinamai Pasar Kawak.

Upaya lain untuk menyelamatkan pohon juga dilakukan, yaitu mengganti tanah yang tercemar, dan memberikan zat perangsang tumbuh untuk akar.

“Berbagai upaya telah kami lakukan, tapi kayaknya Solar dan racun itu telah masuk ke batang pohon Beringin,” ujar Dias, tokoh pemuda Dusun Seneng.

Kegusaran sebagian masyarakat Padukuhan Seneng memang bukan tanpa alasan. Tempat pohon Beringin itu tumbuh, dahulunya merupakan mula buka atau tempat pertama berdirinya pasar di wilayah Wonosari.

“Tempat ini dahulunya adalah Pasar Kawak, atau asal muasal pasar, yang sekarang dipindah ke pasar Argosari Wonosari,” terang Sigit Nurwanto (31). Sigit adalah cucu dari Mbah Darso, juru kunci Pasar Kawak.

Cerita tutur yang menyertai keberadaan pasar kawak memang melekat pada kisah berdirinya Dusun Seneng. Bahkan setiap Jumat pasaran Pon, masyarakat masih melangsungkan upacara “Midang” untuk melestarikan adat dan budaya leluhur mereka.

“Cerita turun-temurun, pemindahan pasar dari Seneng ke Wonosari dilakukan oleh Pakubuwono VI, hal ini terkait erat dengan cerita ‘babat alas Nangka Doyong’ atau asal muasal berdirinya kota Wonosari,” lanjut Sigit.

Setelah rentang waktu sekitar 6 bulan sejak dugaan perusakan pohon Beringin itu terjadi, akhirnya Beringin bersejarah tersebut mati dan mengering.

“Sungguh kami merasa sangat sedih, pohon Beringin itu adalah saksi sejarah dari beberapa generasi. Orang tua kami selalu bercerita bahwa dimasa kecil mereka, di bawah pohon itu mereka bermain-main,” ujar Sigit sedih.

Kini pohon itu sudah benar-benar mati dan mengering. Upaya yang dilakukan dengan “menyulam”, atau mengganti tanaman juga sudah dilakukan.

“Kami akan mengupayakan penggantian pohon lagi, saat ini kami sudah koordinasi dengan Pemerintah Kalurahan, dan Komunitas Resan Gunungkidul juga siap membantu sepenuhnya,” pungkas Sigit. [Edi Padmo]

Berbagi artikel melalui:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Komentar

Komentar