Kebiasaan Mengganti Nama Anak Karena Sering Sakit Mulai Luntur

oleh -
cb supriyanto
Ketua Dewan Budaya Gunungkidul, CB Supriyanto. KH/ Kandar

WONOSARI, (KH),– Masyarakat Jawa memiliki kebiasaan mengganti nama anak. Penggantian nama dilakukan atas alasan kesehatan si anak. Tradisi tersebut juga menjadi salah satu kearifan lokal masyarakat di Kabupaten Gunungkidul.

Ketua Dewan Budaya Gunungkidul, CB Supriyanto membenarkan kebiasaan masyarakat tersebut. Bedasar pengamatannya, nama anak yang umumnya masih bayi diganti karena kondisi kesehatan yang dialami.

“Umumnya karena sakit-sakitan. Ide itu mulanya muncul dari sesepuh wilayah atau tokoh yang dianggap sebagai ‘orang pintar’,” kata dia ketika ditemui di kediamannya belum lama ini.

Nama diganti, sambungnya karena dianggap tidak cocok atau terlalu berat maknanya. Dalam bahasa Jawa disebut ‘kabotan jeneng’.

Perkembangannya, besar kemungkinan ide itu menunjukkan keberhasilan. Upaya yang menunjukkan keberhasilan itu, diyakini CB Supriyanto sebetulnya tak lepas dari upaya memperoleh kesembuhan dengan cara tradisional maupun ilmu kesehatan modern. Misalnya saja berobat ke tenaga kesehatan.

Akan tetapi ritual mengganti nama yang kemudian membuat kesehatan anak membaik secara kebetulan terjadi berulang. Sehingga masyarakat zaman dahulu timbul keyakinan. Secara psikologis penggantian nama juga menguatkan keyakinan. Masyarakat punya harapan besar atas penggantian nama yang dilakukan.

“Kabotan jeneng itu macam-macam. Ada yang terlalu panjang atau terlalu ‘berat’ maknanya dan lain-lain. Karena pemberian nama anak itu tentu direncanakan matang-matang. Sedianya menjadi wujud do’a dan pengharapan orang tua terhadap diri pribadi si anak. Nama yang disematkan untuk buah hati diharapkan dapat membawa berkah, mengantarkan masa depannya lebih baik, serta membawa keberuntungan dan kesuksesan,” terang CB Supriyanto.

Namun, ketika dalam perkembangan pertumbuhan, anak mengalami sakit-sakitan, anggapan bahwa si anak ‘kabotan jeneng’ muncul pada diri orang tua. Hal tersebut tentu saja dipengaruhi kebiasaan para pendahulu. Tidak jarang, tokoh sesepuh menguatkan dengan memberi usul bagi keluarga agar segera mengganti nama anak.

Adapun ritual penggantian nama anak berbeda dengan ritual pemberian nama anak yang sebelumya. Penggantian nama dilakukan melalui ritual wilujengan atau kenduri yang disaksikan lingkungan. Tanpa ritual penggantian nama tidak sah.

Perbedaan pada saat ritual penggantian nama anak antara nama pertama dan kedua salah satunya terletak pada sesaji.

“Disiapkan sesaji simbol kiblat papat lima pancer, sebelumya tidak harus menggunakan jenang. Kalau penggantian disiapkan jenang merah, putih, dan kuniung,” jelas dia.

Menurut CB Supriyanto, nama baru anak sebagian besar sekedar menjadi nama panggilan saja. Nama baru itu tak diikuti pelaporan ke lembaga administratif.

Saat ini, berdasar pengamatannya, kebiasaan itu tak lagi banyak dilakukan. Kalaupun ada hanya dilakukan oleh masyarakat pada skala lokal tertentu saja.

Tokoh di Kalurahan Karangasem, Kapanewon Paliyan, Sigit Purnomo membenarkan tradisi tersebut mulai luntur. Anggapan dia, lunturnya kebiasaan itu seiring dengan semakin hilangnya dukun bayi.

Sebelum perkembangan dunia kesehatan modern maju, keberadaan dukun bayi yang berperan membantu persalinan cukup banyak berpengaruh terhadap kebiasaan itu. Dukun bayi digolongkan ‘orang pintar’ khususnya dalam tumbuh kembang anak. Sebab, tak hanya keterampilan membantu proses kelahiran saja yang diandalkan. Tetapi dukun bayi masih dibutuhkan keluarga yang punya momongan untuk memandikan rutin si bayi, memijat dan memantau kesehatan bayi.

Banyak kelurga era dahulu datang ke dukun bayi saat anaknya mengalami sakit. Sehingga orang tua akan menurut jika memang diperlukan penggantian nama sebagaimana saran si dukun bayi.

“Menurut saya secara psikologis juga menjadi upaya menjawab suatu kebuntuan. Apalagi mendapati buah hati yang sakit-sakitan. Sehingga apapun akan ditempuh, kalau disarankan oleh orang yang punya ‘kelebihan’ maka akan diikuti,” tukas dia. (Kandar)

Berbagi artikel melalui:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Komentar

Komentar