Berdiri Sejak 1956, Warung Wedangan Mbah Tomo Menjadi Yang Tertua di Gunungkidul

oleh -
Arsyad, cucu Mbah Tomo penerus usaha warung Wedangan Sor Pring. (KH/ Padmo)
kadhung tresno

WONOSARI, (KH),— Kebiasaan wedangan adalah salah satu budaya masyarakat Gunungkidul yang masih eksis sampai sekarang. Sebuah bentuk budaya lokal masyarakat terutama pedesaan. Filosofi wedangan ini bagi masyarakat Gunungkidul punya arti yang sangat mendalam, kata wedang mempunyai “keratabasa”, “ngawe kadang”. Artinya dalam, bahwa wedangan merupakan bentuk keramah-tamahan, senang menjalin silaturahmi dan menghormati tamu tamunya.

Ritual wedangan umum dilakukan pagi sebelum bekerja, atau pas istirahat jeda bekerja, serta sore atau malam hari ketika sedang santai. Di waktu-waktu tersebut biasanya masyarakat Gunungkidul mengisi waktunya untuk wedangan dengan mengundang teman, atau tetangga. Wedangan ini juga berkembang menjadi sebuah pilihan bisnis yang menjanjikan. Booming wisata Gunungkidul tak bisa lepas dari perkembangan tren kuliner khas yang mengikutinya. Sekarang ini banyak sekali tempat-tempat makan yang menyediakan menu untuk wedangan.

Banyak warung makan yang sengaja menata warungnya dengan tema wedangan. Mulai dari menu yang dihidangkan ataupun penataan tempat yang merujuk ke bentuk bangunan ataupun properti etnik khas “ndesa”. Dan tradisi wedangan ini sekarang menjadi sebuah tren di Gunungkidul yang digemari tidak hanya masyarakat kalangan masyarakat bawah, tapi sampai ke kalangan masyarakat menengah ke atas. Otomatis warung wedangan sekarang juga menjadi sebuah pilihan bisnis yang menjanjikan di antara bisnis sektor kuliner khas daerah Gunungkidul lainnya.

Tradisi wedangan yang menyertai kehidupan masyarakat Gunungkidul sejak dulu, bahkan sudah menjadi semacam budaya. Ada salah satu warung berkonsep wedangan, yaitu wedangan Mbah Tomo. Warung wedangan legendaris yang berlokasi di Jl. Agus Salim No 10, Wonosari Gunungkidul. Ada hal menarik dari warung wedangan ini, diantaranya yakni mulai didirikan tahun 1956. Usia warung ini kini sudah 64 tahun. Pengelolaannya sudah turun ke generasi yang ke 3, atau cucu dari Mbah Tomo.

Nggodok air tetap memakai kayu bakar, ini ciri khas simbah sejak dulu,” kata Arsyad Hamdani (36) kepada KH, Rabu (28/10/2020) siang. Dia adalah cucu mantu dari Mbah Tomo. “Semua teko, cangkir, dipan dan meja ini masih tinggalane simbah,” ujar Arsyad sembari membetulkan kayu bakar di perapian.

Tampak asap putih mengepul dari perapian, seiring air di dalam ceret mulai mendidih. Dengan cekatan Arsyad menuang air itu ke dalam teko keramik yang sudah diisi dengan teh, lalu memasukkan gula batu ke dalam cangkir-cangkir keramik, meletakkannya ke dalam baki dan siap menyajikan ke pelanggan yang sudah menunggu di dipan-dipan atau lincak-lincak bambu di depan.

Bangunan warung Mbah Tomo sangat sederhana. Sebuah bangunan kampung kecil berdinding anyaman bambu. Tampak kontras dengan bangunan-bangunan gedung beton yang menjulang tinggi di sekelilingnya. Di parkiran depan tampak sepeda motor dan beberapa mobil milik para pelanggan.

“Untuk saat ini kebanyakan pelanggan saya adalah makelar, baik itu makelar kendaraan, ataupun makelar tanah. Di pagi hari biasanya pegawai-pegawai THL Dinas PU yang bertugas menyapu jalan. Mereka beristirahat dan wedangan di sini,” lanjut Arsyad

Dari cerita Mbah Tomo, Arsyad menyampaikan bahwa dulu warung wedangan ini terkenal dengan nama warung Sor Pring, karena di sekelilingnya dulu banyak ditumbuhi rumpun bambu. Mbah Tomo buka warungnya pagi-pagi sekali. Pelanggannya dulu adalah bakul-bakul, utamanya bakul palawija dari daerah lain di luar Wonosari. Di tahun-tahun awal dibuka, para bakul yang dilayani masih mengangkut dagangan menggunakan kuda atau dipikul. Bakul-bakul itu akan menjual dagangannya ke pasar, atau ke seorang juragan palawija berskala besar, namanya Pak Prapto Sujiyat. Nah wedangan Sor Pring ini dijadikan tempat mampir para bakul sembari istirahat menikmati teh poci dan bercengkrama dengan para bakul lainnya.

Menu Warung Wedangan Mbah Tomo. (KH/Edi Padmo)

Menu yang disajikan dari dulu sampai sekarang masih sama, wedang poci gula batu, jadah, puli, tempe, dan nasi bungkus. “Sampai saat ini masih saya pertahankan jajanan itu, teko-teko dan cangkir-cangkir keramik itu masih asli tinggalan Simbah,” cerita Arsyad.

Arsyad bercerita, awal dia memutuskan untuk meneruskan usaha warung wedangan Mbah Tomo, sebelumnya ia bekerja sebagai Satpam di sebuah Bank. Karena Bank tempat dia bekerja dimerger dengan kantor lain, dan Arsyad dipindah ke bagian marketing, dia memutuskan untuk keluar dari pekerjaan. Sempat bekerja serabutan ke sana ke mari, akhirnya Arsyad memutuskan untuk membuka dan menekuni warung wedangan milik Mbah Tomo yang sempat tutup sekitar 3 tahun.

Komentar

Komentar