Bedah Buku Novel Lintang Lantip, Sejalan Dengan Visi Pendidikan

oleh -
Penyelenggara bedah buku berfoto bersama usai kegiatan. KH
iklan dispar
Penyelenggara bedah buku berfoto bersama usai kegiatan. KH
Penyelenggara bedah buku berfoto bersama usai kegiatan. KH

WONOSARI, (KH)— Dalam rangka Milad Muhammadiyah ke 104 M, Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Gunungkidul mengadakan kegiatan Bedah Buku Novel Lintang Lantip, Minggu, (13/11/2016).

Kegiatan yang dihadiri Sekertaris Disdikpora Gunungkidul, Bahron Rosyid, praktisi sastra Gunungkidul Esti Nuryani Kasam, dan diikuti ratusan peserta yang diantaranya merupakan siswa tersebut berlangsung di aula Disdikpora Gunungkidul.

Sesaat setelah membuka kegiatan bedah buku, Bahron mengatakan, pihaknya sangat mengapresiasi kegiatan bedah buku dan pelatihan jurnalistik karena sejalan dengan visi pendidikan.

Penulis Novel Lintang Lantip, Aishworo Ang mengungkapkan, dari kelima novel yang pernah di tulis, Lintang Lantip/MARS adalah karya yang penulisanya paling sederhana, tetapi justru novel inilah yang membawa berkah baginya.

“Berkat Novel ini saya dapat berkunjung ke beberapa daerah di Indonesia secara gratis. Yang paling jauh ke Padang, Sumatera Utara. Barangkali ini karena doa seorang ibu,” ujarnya.

Lanjut Aisworo, novel Lintang Lantip memiliki tema besar ibu dan pendidikan, meski begitu, isi novel berkisah pula tentang dakwah, sains, mitos pulung gantung dan juga cinta.

Sementara itu pembedah buku, Esti mengaku merinding saat membaca novel Lintang Lantip, isi novel mengingatkannya akan sosok Kartini, perempuan yang berjuang sendirian. Namun ia merasa bahwa Tupon, tokoh utama dalam Lintang Lantip lebih dramatis karena dia mengalami ketertindasan yang lebih berat.

Perbedaannya, jika Kartini hidup di keluarga berkecukupan, namun Tupon hidup serba kekurangan, selain itu juga Tupon hidup di lingkungan yang kurang memprioritaskan pendidikan.

“Kelemahan terbesar novel ini adalah editanya, terlihat acak-acakan juga terlalu banyaknya penggunaan kalimat dalam bahasa Jawa. Lalu di beberapa sub judul banyak dimulai dengan percakapan. Mestinya itu dihindari, tapi secara umum kelemahan-kelemahan itu tidak meruntuhkan kualitas novel,” terang Esti. (Kandar)

Komentar

Komentar