Wasiman, Penyandang Difabel Tak Kenal Menyerah Bekerja

oleh -
Wasiman dan istrinya, meski difabel tetap gigih bekerja. Foto: Atmaja.
iklan dispar
Wasiman dan istrinya, meski difabel tetap gigih bekerja. Foto: Atmaja.
Wasiman dan istrinya, meski penyandang difabel tetap gigih bekerja. Foto: Atmaja.

KARANGMOJO,(KH) — Terik panas matahari sudah menjadi sahabat setianya sehari-hari. Tanpa mengenal rasa lelah, ia tak pedulikan fisik sepasang kakinya yang kurang sempurna. Ya, mencari nafkah menjadi tujuan utama Wasiman (39). Ia tak kenal menyerah berjuang hidup dengan berjualan mainan anak-anak di seputar area Kecamatan Karangmojo.

Pak Man, demikian sapaan akrabnya, sehari-hari ini mencari nafkah dari pagi hingga pukul 15.00 sore, bahkan terkadang sampai malam hari. Setelah seharian berkeliling menjajakan dagangan, ia tidak lupa menjalankan ibadah shalat secara berjamaah di masjid. Baginya, hidup susah bukan berarti ia harus marah dengan Sang Maha Kuasa atas ketidaksempurnaan fiisiknya. Wasiman mampu menerima keadaan dirinya dan menjalani hidup dengan sebaik mungkin.

“Harus banyak bersyukur, jangan jadikan hidup susah alasan untuk mangkir dari kewajiban kita sebagai makhluk ciptaan Tuhan,” ujar pria yang tinggal di Padukuhan Tompak Desa Wiladeg ini, Minggu (7/12/14).

Pak Man menceritakan, ia mensyukuri penghasilan sebagai penjual mainan anak keliling, meskipun tidak selalu pasti hasilnya berapa. Pernah dalam sehari keliling jualan ia hanya memperoleh pemasukan Rp 25 ribu. Ia dapat meraup pengahasilan bersih sampai Rp 70 ribu per hari pada saat ada pertunjukan rasulan, dan keramaian lainnya.

Bersama istrinya yang juga mengalami keterbatasan fisik, mereka sehari-hari berkeliling jualan mainan di beberapa sekolah di Kecamatan Karangmojo. “Saya memodifikasi sepeda motor saya dengan menggunakan roda tiga agar bisa membantu saya dalam beraktivitas,” jelasnya.

Keberuntungan memang belum sepenuhnya memihak pada Wasiman. Sang istri Sukini terkadang masih sering sakit, karena kedua kaki yang menekuk ke belakang menjadikan aliran darah tidak berjalan secara optimal. “Istri hanya melakukan pekerjaan ringan, karena jika terlalu lelah ia sering jatuh sakit,” ujarnya.

Wasiman menuturkan, keinginan kuatnya untuk memberikan naskah keluarga membuatnya tidak ada kata menyerah dalam kamus hidupnya. Meski mempunyai fisik yang tidak sempurna, ia mengaku akan terus bekerja untuk mencukupi kebutuhan keluarga yang dicintainya.

“Yang penting uang buat kebutuhan dapur itu ada. Kalo saya nggak kerja, siapa yang kasih makan anak dan istri saya,” pungkasnya. (Atmaja/Bara).

Komentar

Komentar