Warisan Menu Mbah Dawet Tiada Duanya

oleh -
Kios jajanan pasar Mbah Dawet di kompleks taman bunga Wonosari. KH/ Kandar.
kadhung tresno
Kios jajanan pasar Mbah Dawet di kompleks taman bunga Wonosari. KH/ Kandar.
Kios jajanan pasar Mbah Dawet di kompleks taman bunga Wonosari. KH/ Kandar.

WONOSARI, (KH)— Memiliki nama Yatinah, namun ia populer dipanggil Mbah Dawet. Hal inilah yang dialami penjual jajanan pasar di Gadungsari, Wonosari kompleks taman bunga. Berkat ketulusan melakoni profesi menjual menu-menu era zaman dahulu ia berhasil menegakkan identitas hingga populer sebagai penyedia menu yang khusus dan khas.

Butuh waktu lama agar opini masyarakat terbangun sepakat bahwa menu Jenang dawet sebagai jajanan andalan hanya ada di tempat ia berjualan. “Mendiang ibu merintisnya sejak tahun 1965, menu khas jenang dawet membuat ibu saya dipanggil Mbah Dawet,” demikian kata Suparti (54) penerus usaha penjual jajanan pasar Mbah Dawet, Sabtu, (31/12/2016).

Dikisahkan oleh Suparti, Yatinah (alm) mengawali usaha menjual berbagai menu yang memiliki cita rasa lokal dan tradisional. Selain jenang dawet, beberapa diantaranya ada brangkal, puli, tempe mandhing, gembus bacem dan lainnya. Sedikit saja olahan yang menggunakan minyak goreng.

Kenang Suparti, memiliki 9 anak bukan hal yang sepele bagi ibunya. Kebutuhan hidup dan pendidikan menjadi keharusan untuk diupayakan kala itu. Berharap menjadi jalan keluarnya, mulailah Yatinah menjual jenang dawet dan aneka jajanan pasar itu.

Ketelatenan dan keuletan menjadi hal yang patut ditiru oleh setiap wirausaha pemula di era sekarang ini. Tidak terlalu bernafsu agar usaha yang dijalankan memiliki progress kilat segera menjadi besar merupakan salah satu kuncinya.

Berkat kegigihannya menjalankan usaha, ia berhasil mengantarkan anak-anaknya lulus jenjang SGO. Keberhasilan pendidikan anaknya kala itu adalah sesuatu yang membanggakan. Terlebih salah satu puteranya pernah menjabat sebagai seorang kepala desa. “Seolah itu semua hasil dari jenang dawet,” celetuk Suparti.

Kondisi sekarang, usaha semakin berkembang. Suparti selaku anak ke 3 melanjutkan usaha untuk terus melayani berbagai kalangan pelanggan, baik masyarakat umum, pejabat di lingkungan Pemkab Gunungkidul termasuk bupati saat ini.

Selain menu warisan, terjadi perkembangan jumlah menu jajanan. Ada menu sayur, lauk-pauk, dan menu jajanan baru baik olahan sendiri maupun titipan dari para penghasil produk jajanan dan kue yang sebagian besar masih merupakan saudara.

“Setiap buka dipagi hari jumlah jenis menu hampir mencapai ratusan. Sebagian yang lain merupakan titipan para pembuat,” terang Parti.

Suparti mengaku tak hanya mendapat warisan menu dari Mbah Dawet, tetapi juga warisan semangat untuk terus bertahan dan berkembang dengan apa yang dirintis. “Penghasilan kotor Rp. 3,5 juta perhari yang mampu diperoleh saat ini merupakan buah kerja keras ibu,” kata Suparti lagi. (Kandar)

Komentar

Komentar