Hati-Hati, Ditemukan Jajanan Anak Di Sejumlah SD Mengandung Formalin

oleh -
Seksi Farmasi Dinas Kesehatan Gunungkidul, Dono Anggarjito S. Fam. Apoteker. KH/ Kandar
iklan dispar
Seksi Farmasi Dinas Kesehatan Gunungkidul, Dono Anggarjito S. Fam. Apoteker. KH/ Kandar
Seksi Farmasi Dinas Kesehatan Gunungkidul, Dono Anggarjito S. Fam. Apoteker. KH/ Kandar

WONOSARI, (KH)— Demi kesehatan buah hati dan keluarga, masyarakat dihimbau waspada terhadap makanan atau jajanan yang dikonsumsi anak saat berada si sekolahan. Hal ini mengingat adanya temuan jajanan yang mengandung bahan kimia berbahaya pada beberapa jenis jajanan.

Diungkapkan oleh Seksi Farmasi Dinas Kesehatan Gunungkidul, Dono Anggarjito S. Fam. Apoteker, dari hasil pengujian sampel di sejumlah Sekolah Dasar (SD) di berbagai wilayah Gunungkidul terdapat jajanan yang positif mengandung bahan kimia berbahaya.

“Dari hasil uji jajanan mengenai kandungan tiga bahan berupa formalin, borax serta pewarna rhodamin, kami menemukan beberapa jenis jajanan mengandung formalin,” terang Dono, Kamis, (17/11/2016).

Ia merinci, beberapa jenis sampel jajanan di sejumlah SD yang mengandung bahan kimia terutama formalin diantaranya; pilus pedas, makaroni pedas, dan berbagai jenis tempura diantaranya; tempura bintang, tempura bakso, tempura bulan sabit, serta tahu, slondok pedas dan juga saos bantal.

Sambung Dono, uji sampel jajanan dilakukan di beberapa lokasi yang diambil secara random. Secara umum, demikian dikatakan, jajanan tersebut dijual oleh pedagang keliling di sekolah- sekolah.

“Semestinya kandungan bahan-bahan tersebut tidak boleh ada pada makanan atau 0 %, pengujian yang dilakukan bersifat kualitatif, antara ada dan tidak. Mengenai kadarnya masih butuh pengujian secara mendetail,” ujarnya.

Disebutkan, beberapa tempat yang positif ditemudian adanya jajanan mengandung bahan kimia pengawet terutama formalin dinataranya di SD 1 Nglipar, SD Nglindur Girisubo, dan SD Kwarasan Nglipar. Selain di sekolah tersebut tentunya tidak menutup kemungkinan dapat ditemukan di sekolah lain.

Dirinya menambahkan, Pengambilan sampel dilaksanakan secara terus menerus, tetapi karena anggaran terbatas sehingga dalam setahun rata-rata hanya dilaksanakan sebanyak dua kali. Disampaikan pula, hasil uji akan disampaikan ke SKPD terkait, dalam hal ini ke Disdikpora Gunungkidul agar kemudian disampaikan ke institusi pendidikan guna peningkatkan kewaspadaan.

Masyarakat tidak boleh terlena, himbau dia, karena resiko apabila mengkonsumsi makanan mengandung bahan berbahaya efeknya tidak langsung terlihat seketika. Bahan berbahaya terlebih dahulu akan terakumulasi dalam darah lalu dalam jangka 10 atau 20 tahun berikutnya rentan mengakibatkan penyakit-penyakit degeneratif seperti jantung, gula darah, stroke, hipertensi dan ginjal. (Kandar)

Komentar

Komentar