Warga Difabel Gedangsari Tak Mau Menganggur

oleh -
Warga difabel Gedangsari dan karya kreatifnya ditinjau Bupati Gunungkidul. Foto: Atmaja,
iklan dispar
Warga difabel Gedangsari dan karya kreatifnya ditinjau Bupati Gunungkidul. Foto: Atmaja,
Warga difabel Gedangsari dan karya kreatifnya ditinjau Bupati Gunungkidul. Foto: Atmaja,

GEDANGSARI,(KH) — Warga difabel yang berada di Desa Sampang dan Tegalrejo Gedangsari terus didorong oleh pihak Kecamatan Gedangsari untuk dapat berdaya dan kreatif berkarya. Perhatian dan pemberdayaan tersebut dilakukan dengan memberikan pelatihan dan program fasilitasi untuk dapat menghasilkan karya-karya kreatif yang mampu menopang kehidupan perekonomiannnya.

Camat Gedangsari Setiawan Indriyanto mengatakan, pemberdayaan tersebut memang baru berjalan pada tahun 2014 yang lalu. Warga yang mengalami difabel diikutkan dalam pelatihan industri kerajinan di Pundong Bantul.

“Pemberdayaan kepada difabel di Gedangsari dapat berjalan berkat kerjasama antara pihak Kantor Kecamatan, Desa dan LSM Karina,” jelas Setiawan kepada KH, Selasa, (24/03/2015).

Ia menambahkan, melalui pemberdayaan tersebut warga difabel dimaksudkan agar mereka juga mampu melakukan kegiatan kreatif dan mendapatkan penghasilan. Adanya kerajinan yang dihasilkan oleh para difabel yang berada di Desa Sampang dan Tegalrejo diharapkan dapat menambah warna kerajinan yang ada di Gedangsari.

“Kami terus lakukan pendampingan bersama dengan LSM Karina. Pemasaran produk kerajinan tersebut akan kami bantu, sehingga warga yang mengalami difabel dapat mempunyai penghasilan dan tetap bisa berkarya seperti warga lainnya,” jelasnya.

Sementara itu Jumadi (31), salah satu warga Jelok Watugajah yang mengalami difabel mengungkapkan kegembiraannya setelah ia selesai mengikuti pelatihan dan dapat memiliki ketrampilan yang bisa menambah penghasilan. Ia memilih kerajinan print mug (gelas) untuk menambah penghasilan dan mengisi waktu luangnya.

“Saat ini baru bisa membuat design karena belum ada mesin printingnya, namun sangat bersyukur ketika kami mendapatkan perhatian dan mampu berkarya,” ungkapnya.

Jumadi menjelaskan, pada tahun 2004 memgalami kecelakaan yang mengakibatkan saraf belakangnya lumpuh, sehingga ia tidak lagi bisa berjalan. Kursi roda menjadi teman sehari-harinya untuk beraktivitas dan membuat kerajinan.

Lebih lanjut ia berharap agar dapat mengembangkan usaha yang saat ini dilakukannya. “Saya mempunyai mimpi menjadi seorang pengusaha di dalam keterbatasan saya,” pungkas Jumadi. (Atmaja).

Komentar

Komentar