Trauma, Remaja Saptosari Menyesali Perkenalannya Lewat Facebook

oleh -
Pelaku (Tsk) saat ditangkap di wilayah Yogyakarta setelah membawa lari remaja Saptosari. KH
iklan dispar
Pelaku Tsk saat ditangkap di wilayah Yogyakarta setelah membawa lari remaja Saptosari. KH
Pelaku (Tsk) saat ditangkap di wilayah Yogyakarta setelah membawa lari remaja Saptosari. KH

SAPTOSARI, (KH)— Adanya kejadian perginya remaja putri bersama teman kenalannya di facebook membuat kaget orang-orang sekitarnya, Tetangga, saudara, karang taruna hingga pamong desa tak menyangka hal tersebut akan menimpa Khus (15) warga saptosari yang masih duduk di bangku SMP ini.

Pj Dukuh setempat, Mujiyono, salah satunya, ia heran si anak dapat lalai hingga pergi mengikuti ajakan pemuda berinisial Tsk (17)  yang belum dikenal sepenuhnya itu. Dilihat dari kesehariannya, Mujiyono mengatakan, remaja kelas 2 SMP tersebut tidak pernah memiliki perilaku negatif.

“Mungkin diluar dugaannya, ajakan pergi lantas tidak pulang itu, lingkungan saya kira positif, remaja sebagian besar juga tertampung di Pondok Pesantren, perhatian dari keluarga juga tidak kurang,” ujarnya, Selasa, (5/4/2016).

Melihat dari trauma yang dialami, lanjut Mujiyono, Khus sepertinya sangat menyesal berkenalan, lantas kemudian mau diajak pergi. Selaku orang yang dituakan ia berpesan untuk menjadikan hal tersebut pelajaran berharga bagi remaja lainnya. Dalam waktu dekat pada pertemuan lingkup dusun, RT atau karang taruna akan menyampaikan himbauan-himbauan seperlunya, baik kepada orang tua maupun anak-anak.

Sementara itu, Ketua Karang Taruna desa setempat, Eko Andang Darmawan mengaku prihatin atas peristiwa itu, diharapkan, orang tua lebih intens dalam memperhatikan putra putrinya. Diakui, gadget menjadi barang yang lumrah dimiliki setiap remaja, namun demikian orang tua perlu melakukan pengawasan dalam penggunaannya.

“Langkah karang taruna kedepan akan mengoptimalkan kegiatan kepemudaan, diisi dengan hal-hal positif. Menjalin komunikasi yang kuat dan penuh keterbukaan antar anggota. Dalam berbagai kegiatan kita menggandeng LSM Rifka Annisa atau juga remaja yang tergabung dalam Pusat Informasi dan Konseling Kesehatan Reproduksi Remaja (PIK-KRR),” jelas Eko.

Terpisah, Manajer Divisi Pengorganisasian Masyarakat dan Advokasi LSM Rifka Annisa, Muhammad Thonthowi, mengatakan, pihaknya akan mendampingi kasus ini hingga tuntas. Ia menyayangkan, begitu mudahnya remaja percaya dengan ajakan dan janji pelaku.

“Kami mengharapkan kepada anak-anak atau remaja agar tidak mudah terbujuk oleh orang-orang baik yang sudah lama dikenal apalagi yang baru dikenal. Termasuk lewat media sosial facebook dan lainnya,” pintanya.

Menurutnya, perkenalan dalam konteks hubungan antar remaja putra dan putri meskipun dilakukan secara tatap muka, apa yang disampaikan kepada lawan bicaranya itu tidak menjamin 99% suatu kebenaran. Apalagi melalui medsos yang sangat mungkin terjadi manipulasi atau pembohongan.

Thontowi mencontohkan, kasus serupa juga pernah ditangani Rifka Annisa dan Polres Gunungkidul terhadap remaja putri yang dicabuli oleh pelaku berusia 50-an tahun. Dalam perkenalan lewat facebook pelaku mengaku masih berusia 20-an tahun serta masih bujang.

“Di dalam facebook terjalin komunikasi yang sangat mesra sampai pada akhirnya mereka saling mencintai. Di kemudian hari mereka janjian ketemuan di salah satu penginapan di daerah pantai Gunungkidul,” urai Thontowi mengisahkan.

Betapa kagetnya ketika yang dilihat ternyata sudah tua. Tapi karena sudah cinta, si remaja ini mau diajak kencan degan pelaku. Sampai pada akhirnya terjadi tindak pidana yang dilaporkan. Ternyata dari penyidikan petugas keamanan pelaku sudah melakukan modus serupa sebanyak 13 kali dengan korban yang berbeda.

“Kami menghimbau kepada para ortu agar lebih mengawasi anak-anak mereka tanpa membuat mereka merasa dibatasi, karena memang dunia anak dan remaja ya bermain,” tegas dia. (Kandar)

Komentar

Komentar