Begini Inovasi BP2KP Gunungkidul Sehingga Masuk TOP 99 Nasional

oleh -
Kepala BP2KP Gunungkidul, I Ketut Santosa.
iklan dispar
Kepala BP2KP Gunungkidul, I Ketut Santosa.
Kepala BP2KP Gunungkidul, I Ketut Santosa.

WONOSARI, (KH)— Beberapa waktu lalu, dua inovasi pelayanan publik di Gunungkidul mendapat penghargaan, masuk ke dalam Top 99 inovasi pelayanan publik yang diselenggarakan Kementrian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PAN RB). Salah satunya yakni Pengembangan Klinik Konsultasi Agribisnis (KKA) yang dilakukan oleh Badan Pelaksana Penyuluhan dan Ketahanan Pangan (BP2KP) Gunungkidul.

Menegok lebih dalam, seperti apa inovasi tersebut, Kepala BP2KP, I Ketut Santosa memberikan gambaran kepada KH saat ditemui di kantornya. Disampaikan, mulai adanya gagasan membikin KKA dilakukan sejak 2014 lalu, I Ketut untuk pertama kalinya merintis di Balai Penyuluhan Pertanian, Perikanan Dan Kehutanan (BP3K) Playen.

“KKA yang diterapkan di BP3K Playen sebelumnya manual saja, artinya laporan dari masyarakat tindaklanjutnya tidak maksimal, belum ada alat bantu apapun, tetapi  sekarang dapat melalui telepon melalui tv, dan informasi yang diberikan juga melalui radio berbahasa jawa,” kata I Ketut menjelaskan.

Bahkan, lebih lanjut diutarakan, dalam memperoleh pelayanan konsultasi masyarakat dipersilahkan memilih petugas penyuluh yang diinginkan sesuai bidang konsultasinya apakah pertanian, perikanan atau pengembangan usaha pada bidang-bidang tersebut, baik dalam hal pengolahannya juga terkait bagaimana pemasarannya.

Setelah mendapat pelayanan, masyarakat dipersilahkan menentukan kesimpulan, apakah pelayanan memuaskan atau tidak dengan cara memasukkan kartu ke kotak yang telah  disediakan. Dari situ, masih ada tindak lanjutnya, mereka yang merasa tidak puas dikemudian hari akan diperjelas perihal apa yang belum sesuai kemudian akan diberikan pelayanan lanjutan.

“Bukti manfaat inovasi ini banyak, salah satunya berdirinya Pusat Pelatihan Pertanian dan Pedesaan Swadaya (P4S) berikut UKMnya di Playen. Contoh hasil konsultasinya juga ada, contohnya, UKM dampingan kini dapat mengolah mie dengan 7 varian berbahan dasar lokal. Produk telah sampai ke Kalimantan, Depok, Jawa Barat, juga masyarakat IKG di Surabaya dan Jakarta telah menggunakan produk olahan makanan non beras ini,” papar dia.

Harapan dari inovasi pelayanan ini tak lain untuk meningkatkan pendapatan petani, karena mereka didorong untuk tidak hanya menjual bahan baku tetapi sudah menjual produk olahan. Fasilitas di BP3K Playen juga telah disediakan untuk kaum difabel, rung laktasi, perpustakaan, dan nanti akan dibuat demplot-demplot sebagai sampel untuk menunjang pelayanan konsultasi.

“Tidak hanya sekedar memproduksi saja, tetapi ada pembinaan supaya tidak kalah bersaing dalam pemasaran. Selalu kita linkkan dengan lembaga yang berkompeten, praktisi atau sesuai kebutuhan masyarakat dan UKM. Kedepan, BP3K di kecamatan lain akan dirintis demikian,” kata I Ketut lagi.

Terpisah, ditambahkan oleh Koordinator BP3K Playen, Sarijo, Kamis, (7/4/2016), KKA di BP3K Playen mempunyai motto “Mitra Setia Petani Sejahtera,”. (Kandar)

Komentar

Komentar