Tentang Pagebluk dan Mitos

oleh -
Relief bencana di Candi Jago Jawa Timur. Dok: pulunggelungdrupadi.wordpress.com

Saya menyakini, buah pikir Milan Kundera “Melawan Lupa” memiliki korelasi dengan pendahulunya, Walter Benjamin. Walter Benjamin merumuskan gagasannya dalam konteks politik, persis seperti Milan Kundera.

Bagi Benjamin, “ingatan” adalah hal yang eksistensial. Masa lalu berperan membentuk eksistensi manusia di masa kini. Dalam hal ini, ingatan berperan menjembatani antara subyek yang mengingat dan hal yang diingat. Masa lalu akhirnya berulang dengan intensitas yang berbeda dan terjadi di masa kini. Ingatan adalah bentuk perlawanan. Di sinilah locus pagebluk dan mitos bagi orang Jawa mesti dikaji ulang.

Mitos

Mustahil untuk dibantah bahwa Covid-19 disebut sebagai pagebluk bagi orang Jawa. Tentu anggapan ini mendasarkan pada dampak Covid-19 terhadap hajat hidup manusia Jawa. Salah satu hal yang menarik dalam merespon Covid-19 adalah adalah munculnya kembali mitos-mitos yang selama ini dikenal oleh masyarakat.

Sejak kemunculan Covid-19 di Indonesia, tidak sedikit ikhtiar budaya dilakukan untuk mencegah wabah ini. Dalam catatan saya, mitos-mitos yang muncul adalah sayur lodeh, tembang-tembang anggitan Sunan Kalijaga, Sabdo Palon dan Naya Genggong, bala tentara Allah, memasang janur kuning dan kunyit di pintu rumah, makan kari ayam dan berjemur hingga teori konspirasi terkait Covid-19. Tidak sedikit unggahan tentang mitos-mitos ini bertebaran di media sosial.

Dalam masyarakat berkultur agraris, keberadaan mitos adalah hal yang biasa. Mitos bukanlah hal terkait benar dan tidak benar. Ia adalah sebentuk keyakinan masyarakat yang dirawat dan dipelihara. Bagi orang Jawa seringkali mitos dihubungkan dengan hal yang mistis, ganjil dan takhayul. Secara harafiah, mitos dianggap sebagai kepercayaan yang mendasarkan pada dongeng/narasi turun temurun yang sulit dibuktikan secara riil dan rasional. Bahkan kisah masa lalu sebagai tafsiran tentang alam dan semesta juga dianggap sebagai mitos.

Mitos lahir dari rasa gumun dan ketakjuban. Kegumunan dan ketakjuban itulah yang kemudian melahirkan sikap penasaran, keingintahuan dan pertanyaan. Mitos diciptakan untuk menjaga harmoni. Tanpa mitos, manusia Jawa mengalami kekeringan batin. Mitos adalah cara manusia Jawa berkomunikasi dengan entitas yang lain. Di era serba digital, kita tetap membutuhkan mitos sebagai penyelaras hal yang serba teknis dan matematis.

Menurut Roland Barthes, mitos tidak berhubungan langsung dengan mitologi. Mitos adalah cara pemaknaan dari sebuah narasi/cerita atau wicara. Sangat mungkin bahwa apa yang saat ini diyakini sebagai mitos, tiba-tiba hilang dan tergantikan oleh mitos yang lain. Mitos bukanlah tentang objek apa yang dituturkan melainkan bagaimana obyek itu disampaikan dan dalam situasi seperti apa.

Oleh karena itu, apapun bisa menjadi mitos, tergantung ideologi yang ada dibalik mitos tersebut. “Pembaca” dituntut jeli untuk menemukan asosiasi tentang apa dan siapa yang ada dalam mitos. Dalam bahasa Karen Amstrong, selain bagaimana mitos itu disampaikan, hal terpenting yang ada dalam mitos adalah nilai positif dan makna denotasi dibalik keberadaan mitos tersebut.

Penutup

Sebuah puisi pendek pernah ditulis oleh Erick Kastner. Demikian bunyinya: “Siapa yang lupa akan hal indah maka dia akan jadi jahat. Siapa lupa hal yang jelek maka ia akan jadi bodoh.” Pagebluk Covid-19 tidak untuk dilupakan. Covid-19 adalah bentuk lain pengulangan sejarah wabah penyakit yang menyerang umat manusia, manusia Jawa termasuk didalamnya.

Kemampuan mengingat dan menghidupkan kembali mitos dan nilai didalamnya merupakan upaya menjaga keseimbangan semesta dan menumbuhkan harapan untuk hidup. Kemampuan manusia berikhtiar secara budaya adalah bagian dari identitas manusia Jawa. Tanpa mitos, siapakah diri kita?

***

Penulis Wahyu Widayat, warga Baleharjo Wonosari. Pegiat fotografi dan aktivis Sekolah Kebhinekaan Gunungkidul dan LSM Imaji Gunungkidul.

Komentar

Komentar