Teh Favorit Masyarakat Gunungkidul

oleh -
Teh disajikan dalam sebuah acara. Foto : Kandar
kadhung tresno
Teh disajikan dalam sebuah acara. Foto : Kandar
Teh disajikan dalam sebuah acara. Foto : Kandar

GUNUNGKIDUL, (KH) — Suguhan minuman teh seperti hal yang wajib ada pada setiap acara, baik formal maupun tidak yang diselenggarakan sebagian besar masyarakat Gunungkidul. Hajatan pernikahan, pertemuan warga, rapat-rapat, atau sekedar dalam suasana santai berkumpul bersama keluarga tercinta, minuman teh acap kali menjadi pelengkap momentum tersebut.

Penyajian air teh biasanya dengan rasa manis, karena diberi tambahan gula pasir atau gula batu. Tidak sedikit yang menginginkan rasa natural. Cukup seduhan teh saja, atau biasa disebut ‘teh pahit’. Banyak juga yang suka menikmati minuman teh dingin atau es teh.

Pada warung-warung kuliner, teh menjadi salah satu sajian andalan yang dikombinasikan dengan kuliner utama, seperti nasi goreng, bakmi jawa, ikan bakar, atau kuliner khusus wedang teh (pocinan) ditambah aneka cemilan goreng (Tahu, Bakwan, dan mendoan).

Dari sekian banyak merek teh yang beredar, ada beberapa teh yang memang digandrungi masyarakat. Teh favorit diketahui dari larisnya teh tersebut di sejumlah toko grosir di Wonosari, misalnya Toko Manunggal dan Toko Sumber Waras di Jl. Brigjen Katamso, kedua toko tersebut menyebutkan tiga teh yang laris adalah Teh Pecut, Jawa dan Poci.

“Pokoknya tiga merek itu yang laris, baru setelahnya ada beberapa merek lain seperti, Teh Goro-goro, Sadel, Medali srimpi, Tang Super, dan lainnya,” kata salah satu pelayan toko beberapa waktu lalu

Di Toko Grosir lain yang berada di salah satu kios Pasar Argosari memberikan keterangan agak lebih rinci terkait larisnya beberapa merek teh dalam kurun waktu satu minggu. Nur, pemilik kios mengutarakan, Penjualan di kiosnya, Teh Jawa mencapai 10 bal (varian jawa biru), Teh Pecut 10 bal, dan Teh Poci 3 bal.

“Untuk merek lain, antara 2 hingga 3 bal tiap minggu. Biasannya terdapat perbedaan antara wilayah satu dengan yang lain,” ujarnya.

Dirinya mencontohkan, untuk wilayah Kecamatan Nglipar, Teh Jawa dapat terserap sekitar 50 bal tiap minggu. Sedangkan di Paliyan, lanjut Dia, penjualan Teh Goro-goro lebih dominan, tiap minggu bisa mencapai kurang lebih 30 bal. Menurutnya, hal demikian sangat mungkin terjadi di wilayah kecamatan lainnya.

Terkait larisnya salah satu merek teh, distributor Teh Jawa yang memiliki kantor perwakilan di Yogyakarta, saat dihubungi via telepon menyebutkan, jumlah pasokan teh tiap minggu ke Gunungkidul mencapai 200 bal lebih. (Kandar)

Komentar

Komentar