Masjid Al Huda Telah Direhab, Juara I Lomba Masjid se-Gunungkidul

oleh -
ilsutrasi. Jamaah sehabis Jumatan di serambi masjid Al Huda. Foto : Sarwo
kadhung tresno
 Jamaah sehabis Jumatan di serambi masjid Al Huda. Foto : Sarwo

Jamaah sehabis Jumatan di serambi masjid Al Huda. Foto : Sarwo

PLAYEN,(KH)– Setelah mengalami rehab total Masjid Al Huda Sumberjo Ngawu Kecamatan Playen Gunungkidul yang menghabiskan dana Rp 900 juta, dan dikerjakan sendiri, membuat Masjid Al Huda menjadi Masjid tercantik se-Kecamatan Playen. Masjid direhab mulai 09 juli 2013 dan selesai 2014. Masjid Al Huda pernah keluar sebagai juara I lomba masjid se-Gunungkidul dalam lomba masjid 17 juni 2015 yang diumumkan 20 Juni 2015. Hal tersebut dikatakan H. Badri Hudaya, SPd didampingi semua pengurus Takmir masjid A Huda, Jumat (03/07/2015).

Masjid AlHuda termasuk masjid Kuno yang dibangun tahun 1800-an yang lalu. Masjid Alhuda disebut Masjid Krajan, karena dibangun di atas tanah pemberian Kraton Ngayogyakarto Hadiningrat. Ada 5 masjid krajan yang dibangun atas pemrakarsa Sultan HB VIII, antara lain Masjid Al Huda Sumberjo Ngawu Playen; Masjid di komplek Makam Sada Paliyan; Masjid Wonosari (dekat makam), Masjid Semanu, dan Masjid Ponjong.

Pada awalnya Masjid dibangun seluas 160 m2 di atas tanah seluas 5.295 m2, kemudian diperluas menjadi 224 m2. Masjid Al Huda merupakan hadiah dari Kraton, ketika Muhammad Dasuki menjadi Naib Kapanewon (kecamatan) Playen, pernah bertugas menikahkan keluarga Kraton, karena waktu itu Naib tidak digaji, sebagai gantinya hadiah berupa tanah.Tanah hadiah tersebut dikukuhkan dengan SK Gubernur Nomor 2 tahun 1960, tentang pemberian hak milik atas tanah yang dibagi untuk Masjid dan M. Dasuki. Sejak tahun 1960 masjid Al Huda digunakan untuk menikahkan pengantin, kebetulan di dekatnya dibangun Kantor Urusan Agama (KUA) kecamatan Playen.

Masjid Al Huda menurut H. Zuhari BA, Takmir Masjid Al Huda, kepada KH Jumat (03/07/2015) menyatakan, Masjid Al Huda pernah dimanfaatkan sebagai markas Tentara Pemuda Muhammadiyah yang disebut Hizbullah pada masa perang kemerdekaan. Hizbullah dipimpin M. Abdani, penerus M Dasuki.

Karena usia masjid cukup tua, kayu-kayunya banyak yang lapuk, masjid Al Huda Playen direhab dengan dana gotong-royong. Bentuk bangunannya disesuaikan dengan jaman sekarang. Luas bangunan tetap 15 x 15 meter = 225 m2, lantainya granit. Joglo masjid lama dilestarikan dan dipasang di bagian atas. Sedang kayu-kayunya masih dimanfaatkan untuk melapisi tiang masjid, dan menambah bangunan serambi. Total menghabiskan dana Rp 900 juta secara gotong royong dan pembangunannya dikerjakan sendiri yang apabila diborongkan sekitar Rp 1,3 Milyar.

Badri Hudaya SPd. Panitia pembangunan masjid Al Huda menambahkan, berkat kegotong-royongan umat Islam di Desa Ngawu, kecamatan Playen, berhasil memiliki Masjid yang baik, dan menjadi juara I Lomba Masjid se Gunungkidul. Dalam menyambut bulan Ramadhan dibentuk panitia khusus untuk menyelenggarakan kegiatan Salat Taraweh, Membaca Al Qur’an setelah Tarawih (tadarusan), dan salat Subuh berjamaah. (Sarwo)

Komentar

Komentar