Tanah Longsor Kembali Terjadi di Gedangsari

oleh -
iklan dispar
Rumah terkena longsor. Foto : Atmaja
Rumah terkena longsor. Foto : Atmaja

GEDANGSARI, (KH) — Tanah longsor kembali terjadi di Kecamatan Gedangsari. Dalam waktu sehari longsor terjadi di dua tempat, Hargomulyo dan Watugajah.

Sebuah rumah milik Sarlan (44) warga Jatibungkus, Hargomulyo, Gedang sari terancam ambruk akibat tanah yang menyangga bangunan rumahnya mengalami longsor. “Longsor terjadi pada pukul 04.00 WIB. Saat itu terdengar suara gemuruh. Saya kira gempa,” katanya, Kamis (15/1/2015).

Untuk memberbaiki tanggul tersebut, warga sekitar melakukan kerja bakti bersama menahan tanah di pekarangan rumah Sarlan agar tidak terjadi longsor. Sarlan mengaku, setiap musim penghujan warga Hargomulyo cemas dengan adanya ancaman tanah longsor. Sedangkan untuk pindah ke tempat lain, Sarlan mengaku enggan, karena tanah tersebut merupakan tanah peninggalan dari orang tuanya.

Sementara itu tanah longsor juga menimpa rumah Marsudi (30) warga Taman Sari Watu Gajah, Gedangsari. Dalam musibah ini tidak ada korban jiwa. Bagian tembok belakang rumah korban hancur.

Marsudi mengaku, intensitas hujan yang sangat tinggi beberapa hari lalu sudah membuat tanah yang berada di belakangnya retak. Dikhawatirkan akan longsor, Marsudi mengajak istri dan ke-empat anaknya mengungsi ke tempat saudaranya pada hari Rabu (14/1/2015).

Berniat mengecek keadaan rumah, Marsudi dibuat kaget setelah mengetahui tembok bagian belakang rumahnya hancur diterjang longsor. “Kami sudah mempunyai firasat tidak enak. Maka dari itu, sebelum ada kejadian ini kami memutuskan untuk mengungsi. Pada tahun lalu tanah di depan rumah yang mengalami longsor,” jelas Marsudi.

Sementara itu, Paryono anggota Tagana Desa Watu Gajah mengatakan, beberapa kawasan di Desa Watu Gajah sangat rawan longsor. Paryono mengatakan, hampir setiap musim penghujan bencana longsor terjadi di wilayah Desa Watu Gajah.

Ia menambahkan, berbagai sosialisasi agar warga meningkatkan kewaspadaan sudah berulang kali dilakukan. Banyak warga yang berada di wilayah rawan longsor, harus pindah. Namun mereka enggan mengungsi karena pada umumnya tidak punya lahan yang lain.

“Tanah yang ditempati, hanya satu-satunya dan itu peninggalan nenek moyangnya. Hal Ini yang menjadi hambatan mereka pindah pada daerah aman,” ungkap Paryono.

Lebih lanjut Paryono menjelaskan, untuk evakuasi maupun perbaikan menunggu petunjuk dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Gunungkidul. “Kami sudah menghubungi BPBD, jika sudah ada petunjuk, kami bersama dengan warga siap membantu,” tandasnya. (Atmaja/Tty)

Komentar

Komentar