Tak Tergiur Pindul Sukamto Memilih Bertani

oleh -
Sukamto saat mengumpulkan hasil panenan padi di dekat area parkir wisata Goa Pindul. KH/ Kandar.
iklan dispar
Sukamto saat mengumpulkan hasil panenan padi di dekat area parkir wisata Goa Pindul. KH/ Kandar.
Sukamto saat mengumpulkan hasil panenan padi di dekat area parkir wisata Goa Pindul. KH/ Kandar.

KARANGMOJO, (KH)— Seperti tak terpengaruh akan riuhnya pariwisata Goa Pindul di Desa Bejiharjo, Kecamatan Karangmojo. Warga yang tinggal di Padukuhan Gelaran ini lebih memilih menggarap sawahnya dari pada ikut saudara dan tetangganya yang lain tergabung dan terlibat dalam penyelenggaraan wisata minat khusus itu.

Saat ditemui di kompleks parkir bus, sepeda motor dan mobil pribadi wisatawan yang tak jauh dari sawahnya, ia sedang sibuk mengusung padi hasil panenan.  Bersama istri dan kerabatnya ia mengumpulkan dan menumpuk puluhan ikat padi yang akan dibawanya pulang.

“Memilih bertani sajalah, lagian kalau seumuran saya fisik kurang mendukung keluar masuk air,” kata lelaki yang belakangan diketahui bernama Sukamto ini beberapa waktu lalu.

Setelah menurunkan sepikul padi ia duduk, melepas topi dan mengipaskannya di dada dan muka agar gerah menyejuk serta peluh mengering. Dalam perbincangan, ia tahu betul seperti apa perkembangan wisata di kampungnya itu.

Ia juga tidak lupa seperti apa riwayat saat Pindul masih sepi, dimana dahulu kala Sungai Goa Pindul dan Sungai Oya yang melintas di wilayahnya dimanfaatkan sebagai tempat memandikan ternak sapi bagi warga sekitar.

Lain hal, warga juga memiliki kebiasaan setiap kemarau, mereka membendung kali/ anak sungai bernama Kali Gedong untuk mengaliri sawah. Kemajuan zaman membuat tradisi tersebut seolah sirna.

Sukamto mengisahkan masa kecilnya, sekitar tahun 1960-an apabila warga membendung kali bersamaan dilaksanakan tradisi bersik/ resik-resik atau membersihkan lahan yang cukup luas dan teduh itu kemudian menggelar tikar, tikar digelar untuk pelaksanaan Kenduri di dekat kali. Dirinya begitu yakin hal tersebut menjadi penyebab awal mula penyebutan wilayahnya bernama Gelaran.

Berdasar penuturan Sukamto beberapa kegiatan menyertai tradisi di hari Senin Pon itu salah satunya mengubur ingkung/ masakan ayam jantan di gundukan tanah pembendung anak sungai untuk irigasi. Hal tersebut disertai dengan membuat ambengan atau ubo rampe kenduri seperti pada umumnya.

Kemajuan wilayah dari berbagai aspek termasuk juga pariwisata yang luar biasa itu membuat tradisi seolah tersingkir, tanah lapang atau ruang teduh yang luas menjadi gelaran bagi bus-bus pariwisata, mobil pribadi dari dari luar daerah yang menginginkan menyusuri goa bawah tanah.

“Sekarang tradisi pindah ke balai padukuhan, tetapi tidak se sakral dahulu beberapa ritual juga hilang,” tambah Sukamto.

Dirinya mengaku akan terus bertani, meski seolah terdesak industri pariwisata ia akan upayakan untuk bertahan, tidak mengikuti ratusan warga yang lain mengupayakan peningkatan rezeki dengan melayani orang-orang berlibur.

“Sudah tua saya bertani saja, selain itu memang lebih memilih bertani. Nanti siapa yang menanam padi kalau semua kepingin ke goa, biarlah yang muda-muda saja,” pungkas Sukamto sambil tersenyum. (Kandar)

Komentar

Komentar