Sorgum Belum Dimanfaatkan dengan Maksimal

oleh -
Ilustrasi (Tanaman Sorgum)
iklan dispar
PLAYEN, kabarhandayani.– Sorgum atau sorgum sp. merupakan tanaman yang dikenal serbaguna sebagai sumber pangan, pakan ternak dan bahan baku industri seperti bioetanol. Sorgum ini merupakan bahan pangan ke-lima setelah gandum, jagung, padi dan jelai. Makanan ini pun menjadi makanan pokok penting di Asia Selatan dan Afrika sub-sahara.
Tumbuhan yang memiliki tinggi sekitar 2 hingga 4 meter ini pohon daun-daunnya sangat mirip dengan jagung. Biji sorgum berbentuk bulat dengan ujung mengerucut, berukuran diameter sekitar 2 mili meter. Satu pohon sorgum mempunyai satu tangkai buah yang memiliki beberapa cabang buah.
Tanaman ini pun sudah akrab dan dikembangkan di beberapa daerah di Indonesia seperti halnya Gunungkidul sejak dulu. Tanaman yang lazim di kenal masyarakat dengan nama canthel atau tebon ini pun juga ditemui di beberapa wilayah di Gunungkidul. Sayangnya, komoditas ini yang satu famili dengan jagung, padi, gandum ini nyaris tidak berkembang.
Slamet (60) warga Gading 5, Desa Gading, Kecamatan Playen, Gunungkidul yang menanam sorgum menjelaskan, sorgum yang ia tanam hanya digunakan sebagai isi ladang di musim kemarau. Pasalnya, tidak ada tanaman lain yang dapat ditanam di musim kemarau selain sorgum yang dapat tumbuh tanpa banyak air.
“Ini hanya sebagai tanaman sela-sela, sebagai persediaan pakan ternak saja karena ketika musim kemarau akan susah mencari pakan ternak,” ungkapnya pada Kamis (10/7/2014).
Menurut Slamet, menanam sorgum lebih mudah dan menguntungkan. Pasalnya, di atas lahan seluas 2.000 meter persegi ini, ia hanya menanam benih satu genggam biji sorgum dari hasil sorgum yang ia tanam tahun lalu. Terlebih, periode waktunya pun hanya sekitar 3 hingga 4 bulan untuk bunganya mekar. Untuk dijadikan pakan ternak, tanaman sorgum ini harus ditunggu hingga bunganya mekar agar racun yang terkandung di dalam batang sorgum dapat hilang.
Slamet menambahkan, mayoritas warga yang menanam sorgum saat ini hanya memfungsikan sorgum sebagai isi lahan dan pakan ternak. Sedangkan, biji sorgum tidak terlalu difungsikan, melainkan hanya untuk persediaan bibit untuk ditanam tahun depan.
Menurut keterangan Slamet, sebelum tahun 1960 dulu ini menjadi makanan pokok akibat harga beras yang melambung. “Bijinya sekarang hanya dimakan burung, jadi tinggal batang dan daunnya saja. Perhatian dari pemerintah untuk pengembangan tanaman ini juga minim padahal dengar-dengar tanaman ini tanaman yang serba guna,” pungkas Slamet. (Mutiya/Hfs)

Komentar

Komentar