SMAN 1 Panggang: Guru Terus Berjuang Memotivasi Siswa Hadapi UN

oleh -
Proses belajar-mengajar di satu kelas SMAN 1 Panggang. Foto: Kandar.
iklan dispar
Proses belajar-mengajar di satu kelas SMAN 1 Panggang. Foto: Kandar.
Proses belajar-mengajar di satu kelas SMAN 1 Panggang. Foto: Kandar.

PANGGANG, (KH)— Ujian Nasional (UN) untuk tingkat SMA/ SMK tinggal satu bulan lagi. Sekolah-sekolah di pinggiran wilayah Kabupaten Gunungkidul mulai mengintensifkan persiapan guna menyambutnya. Seperti halnya SMAN 1 Panggang, sekolah yang terletak di Desa Giriwungu Panggang ini telah melaksanakan sedikitnya 5 kali try out ujian sebagai salah satu persiapannya.

“Sebanyak dua kali try out dari Disdikpora, dan 3 kali dari guru pengampu. Secara keseluruhan hasilnya belum sesuai harapan,” kata Nurhidayat S Pd, Waka Humas SMAN 1 Panggang, Selasa (3/3/2015).

Guru mata pelajaran Fisika tersebut menuturkan, selain try out, selama ini telah dilaksanakan pendalaman materi oleh masing-masing guru bidang studi kepada 90 siswa kelas XII. Diakui, dirinya masih menyayangkan hasil nilai siswa pada try out yang telah terlaksana.

Dirinya beranggapan bahwa antusiasme siswa dalam mempersiapkan diri untuk menghadapi UN biasa-biasa saja, bahkan cenderung menurun. Hal tersebut menyusul adanya regulasi baru terkait penentuan kelulusan siswa yang tidak lagi mengacu pada hasil UN sebagai faktor penentu utama.

“Sepertinya siswa merasa santai karena penentu kelulusan merupakan kewenangan sekolah. Selain itu faktor latar belakang siswa sangat mempengaruhi minat untuk memperoleh prestasi akademik yang baik,” jelas Nurhidayat.

Faktor latarbelakang yang paling dominan adalah banyaknya siswa yang tinggal terpisah dengan orang tua kandungnya. Kurangnya perhatian orang tua secara langsung mengakibatkan semangat belajar siswa hampir tidak ada.

“Tidak dalam hal UN saja, dari total keseluruhan sebanyak 320 siswa hampir sekitar 40% nya tidak tinggal lengkap bersama kedua orang tuanya dengan beberapa kondisi, karena bekerja dan transmigrasi,” tambahnya. Menurut Nurhidayat, pengawasan dan perhatian oleh kakek, nenek atau salah satu orang tua saja sepertinya kurang.

Nurhidayat mengungkapkan, para guru mengamati, keinginan siswa untuk memperoleh perhatian terkadang diekspresikan dengan tindakan yang cenderung melanggar tata tertib sekolah. Sebagai salah satu upaya antisipasif, pihak sekolah mengintensifkan fungsi Bimbingan Konseling (BK) dan membentuk komunitas facebook sebagai wadah untuk bertukar pengalaman serta mendapatkan solusi permasalahan pribadi siswa.

“Memang tidak keseluruhan, tetapi kita khawatir pengaruhnya terhadap siswa lain. Jujur saja, masih agak susah mendorong siswa untuk lebih serius mempersiapkan diri menghadapi UN,” pungkasnya. (Kandar)

Komentar

Komentar