Serangan Marak, Penanganan Monyet Harus Perhatikan Aspek Keseimbangan Alam

oleh -
Kiri: Petani bersiap menghalau Monyet dengan metode pengusiran eksperimental menggunakan petasan, dan ketapel. Kanan: Monyet ekor panjang sebagai salah satu sumber keanekaragaman hayati juga membutuhkan tempat hidup. KH.
iklan dispar
Kiri: Petani bersiap menghalau Monyet dengan metode pengusiran eksperimental menggunakan petasan, dan ketapel. Kanan: Monyet ekor panjang sebagai salah satu sumber keanekaragaman hayati juga membutuhkan tempat hidup. KH.
Kiri: Petani bersiap menghalau Monyet dengan metode pengusiran eksperimental menggunakan petasan, dan ketapel. Kanan: Monyet ekor panjang sebagai salah satu sumber keanekaragaman hayati juga membutuhkan tempat hidup. KH.

WONOSARI, (KH)— Serangan Monyet Ekor Panjang (MEP)/ Macaca fascicularis kembali terjadi di wilayah Gunungkidul pada awal musim tanam ini. banyak laporan dan keluhan yang masuk dari petani ke beberapa instansi terkait salah satunya ke Dinas Kehutanan dan Perkebunan (Dishutbun) Gunungkidul.

Sehingga belum lama ini beberapa pemangku kepentingan segera mengambil langkah sebagai upaya untuk menanggulanginya. Pada tahap awal telah dilakukan Forum Gorup Discussion (FGD) lintas sektoral membahas tentang keberadaan MEP yang menurut pengakuan warga telah merugikan.

Dalam FGD tersebut kepala Dishutbun Gunungkidul, Ir Bambang Wisnu Broto mengungkapkan, pengaduan masyarakat serangan kera mulai sering muncul pada 2010 silam. “Masyarakat mulai resah karena MEP telah merusak tanaman petani, awalnya hanya berada di wilayah 4 kecamatan yakni; Tepus, Girisubo, Ponjong, dan Saptosari. Namun saat ini telah menyebar ke wilayah kecamatan lain,” ungkapnnya.

Dalam forum yang diikuti oleh Dinas Pertanian, Dinas Peternakan, Akademisi (UGM dan UGK), LIPI, dan Bappeda tersebut, Bambang memaparkan, untuk menentukan penanganan serangan MEP yang tepat, harus didahului pengkajian yang cermat terhadap kehadiran MEP pada suatu tempat, setidaknya dua hal pokok perlu diperhatikan, keberadaan habitat dan ketersediaan sumber pangan.

MEP merupakan salah satu sumber keanekaragaman hayati yang mempunyai keistimewaan karena memiliki karakteristik yang menyerupai manusia, oleh karenanya tidak mengherankan ketika MEP sangat banyak ditemukan di sekitar aktivitas manusia.

MEP membutuhkan tempat hidup dan pada umumnya akan mencari tempat yang dekat dengan sumber pakan. MEP sendiri statusnya masuk dalam appendiks 2 (diperhatikan), boleh diperdagangkan tetapi dibatasi kuotanya.

“Upaya penanganan serangan MEP tidak bisa dilakukan hanya 1 instansi saja, harus dilakukan berbagai pihak dengan berbagai macam pendekatan. Keberadaan MEP pada suatu tempat juga harus diperhatikan dengan cermat apakah ada faktor over populasi, faktor daya dukung lingkungan, atau faktor lainnya,” urai Bambang.

Lanjutnya, langkah yang dapat diambil mencakup beberapa tahapan, seperti; mengindentifikasi populasi MEP yang bermasalah dengan manusia, menghitung secara kuantitatif kebutuhan hidupnya, menetapkan kuota maksimal pada suatu wilayah habitat, dan meningkatkan daya dukung kehidupannya termasuk dalam hal sumber pakan.

Sementara itu, Primatologist dari FKH UGM, Hery Wijayanto menambahkan, MEP memiliki kelebihan dibanding satwa lainnya, diantaranya; mudah belajar, memiliki ikatan sosial, salah satu spesies primata yang dapat hidup berdampingan dengan manusia, daya adaptasi sangat tinggi, dan tingkat reproduksinya juga tinggi.

Maka dari itu, sambungnya, perlu strategi menghadapi konflik seragan MEP, harus gotong-royong semua stake holders, terkoordinasi, sistemik, win-win solution, dan berkelanjutan. Fokus penanganannya melindungi kebun petani, sekaligus melindungi MEP sendiri.

Tindakan mandiri oleh petani dengan metode pengusiran eksperimental dirasa tidak efektif dalam jangka waktu yang panjang, seperti upaya akuistik dengan bunyi-bunyian rekaman atau petasan, dan mengusir menggunakan ketapel. (Kandar)

Komentar

Komentar