Sentra Produksi Krecek di Desa Bedoyo

oleh -
krecek telo. Foto : Gemma.
iklan dispar
krecek telo. Foto : Gemma.
krecek telo. Foto : Gemma.

PONJONG, (KH) — Kabupaten Gunungkidul selain kaya destinasi wisata, kabupaten Gunungkidul memiliki berbagai macam makanan khas. Salah satu makanan khas tersebut adalah Krecek. Makanan olahan dari ketela pohon ini diolah dengan teknik tertentu, sehingga bisa membentuk persegi panjang. Rasanya yang gurih, dan renyah, menjadi daya tarik tersendiri, sehingga tidak sedikit warga Gunungkidul yang menyukai makanan ini yang di daerah lain sering disebut Manggleng tersebut.

Keberadaan Krecek ini tersebar di daerah Gunungkidul, dan memiliki daerah sentra produksi sendiri yang diresmikan pada November 2012 oleh Badingah selaku bupati Gunungkidul yakni di Desa Bedoyo, Ponjong.

Daerah Bedoyo menjadi sentra produksi Krecek, karena merupakan kawasan dengan pengrajin krecek dengan jumlah terbanyak. “Bahkan satu dusun pun ada yang hampir satu RT, yaitu sebanyak 30 KK menjadi pengrajin krecek” ungkap Dian salah satu pengrajin Krecek di Bedoyo.

Yang membedakan krecek Bedoyo dengan krecek lain, adalah kekhasan irisan krecek itu sendiri. Irisan krecek dibuat secara manual dengan pisau biasa atau pisau dapur. Ada beberapa yang menggunakan pasahan kripik namun hasil irisannya serta teksturnya berbeda dengan irisan yang dibuat dengan pisau biasa.

Selain itu, warna krecek Bedoyo lebih putih jernih alami tanpa pewarna ataupun pemutih. warna putih sebenarnya karena jenis ketela yang digunakan adalah ketela dengan jenis warna putih bersih. Untuk rasa sendiri, Bedoyo lebih khas dengan rasa gurih dan pedas manis. Produk krecek Bedoyo lebih banyak dijual masih mentah, atau belum digoreng.

“Lebih dari 40 orang menjadi pengrajin di Desa Bedoyo. Saat musim ketela mereka aktif memproduksi krecek, namun ketika musim penghujan atau ketika ketela mahal, jumlah pengrajin berkurang. Penghasilan untuk pengrajin kecil dalam satu musim bisa sekitar 350-500rb bersih. Untuk pedagang besar lebih dari itu.” kata Dian.

Dian mengungkapkan, menjadi pengrajin Krecek ini bisa menambah penghasilan keluarga. Untuk pengrajin skala besar bisa merekrut beberapa tenaga kerja musiman. “sudah sampai beberapa kota besar seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, tetapi pemasaran masih melalui pedagang besar. Untuk penjualan yang dilakukan pengrajin sendiri, jangkauan pemasarannya belum jauh, karena kebanyakan produk diambil ke rumah pengrajin.” Tambahnya.

Dengan sistem penjualan seperti ini pun terkadang produsen sudah kewalahan melayani permintaan pembeli. Dian menjelaskan “bahkan untuk musim hujan stok produk semakin menipis, sementara permintaan tetap.” ungkapnya.

Saat dihubungi KH, Dian berharap  pengrajin krecek bisa bersatu dan terorganisir, sehingga ke depannya dapat menguasai pasar. “setidaknya bisa mempertahankan harga, tidak dipermainkan oleh pedagang besar di luar. jika pengrajin bisa terorganisir dengan baik, tentunya akan berkembang dengan baik pula. Selain itu kita mungkin bisa memperoleh modal dari pihak-pihak tertentu agar kita bisa berkembang.” paparnya.

Menjadi pengrajin krecek merupakan kebanggaan tersendiri bagi Dian. Selain mengembangkan makanan khas yang menjadi ikonnya Desa Bedoyo, juga dapat melestarikan makanan khas Bedoyo secara turun temurun.
“menjadi kawasan sentra industri krecek yang telah dipatenkan, harusnya mampu menjadi peluang warga Bedoyo untuk mngembangkan bisnis ini lebih maju.” pungkasnya. (Gemma)

Komentar

Komentar