Sekolah Dolanan atau Dolanan Sekolah?

oleh -
iklan dispar
Sekolah adalah dolanan, sekolah adalah kegembiraan. KH/WG.
Sekolah adalah dolanan, sekolah adalah kegembiraan. KH/WG.

Dulu, waktu kecil saya sekolah, saya termasuk anak yang seneng ‘dolanan‘ pas pelajaran. Bapak guru marah. Lantas saya di-strap. Dihukum. Juga teman-teman saya yang senengnya ‘dolanan‘ ketika pelajaran. Para guru merasa tidak ‘diuwongke‘. Tak dihormati. Karena ‘pelajarannya’ tak digubris. Sabdanya tak didengarkan. Tidak belajar malah main-main. Apalagi nilai kognitif saya jelek. Nilai afektifnya? Buruk. Nah, sekarang waktu saya tak kecil lagi (paling tidak beberapa bagian tubuh saya pada waktu-wektu tertentu besar dengan sendirinya, atau akibat ‘stimulan’ tertentu membesar pula) dan mendengar, bahwa di sekolah-sekolah yang masuk kategori sekolah anak-anak juga banyak siswa yang asik ‘dolanan‘ waktu pelajaran. Artinya ‘dolanan‘ merupakan spirit yang ‘abadi’ di dalam kerja yang disebut sekolah; melalui penggal adegan pelajaran di dalam kelas.

Di sekolah-sekolah formal (meski bisa saja tak jelas yang formal itu yang seperti apa; namun umumnya kita paham sekolah formal itu yang mana) kala ‘dolanan‘ ditandingkan dengan keseriusan dan kesungguhan belajar. Tentu ‘dolanan‘ (yang berkonotasi tak serius, main-main, menyepelekan individu di sekitarnya, dan seterusnya) adalah musuh yang layak ditinggalkan, dijauhi, karena mengakibatkan hasil yang buruk tentang capaian ‘proses-belajar’. Ukuran, indikasi, suatu proses belajar yang baik adalah nilai-kognisi atas proses itu terwakili dalam simbol angka-angka yang ‘baik’ dan ‘memuaskan’ dengan standar yang ditentukan oleh sekolah atau BSNP. Tuntas atau tidak. Lulus atau tidak.

Dolanan, yang semangatnya dianggap kontra produksi dengan hasil proses belajar, tentu tak memiliki visi (baca: penglihatan ke depan-jauh) capaian angka-angka yang menakjubkan. Yang, hal ini diunggulkan sebagai penentu kesuksesan seorang manusia kelak ketika telah dianggap ‘menuntaskan’ sekolah.

Padahal, standar estetis, filosofis, sains, suatu ‘makhluk’ yang disebut sekolah, yang hadir di Nusantara bisa saya katakan baru-baru saja. Setelah Para Bangsa Pembelajar miskin ‘dolanan‘ dari belahan bumi sebelah Barat sana ‘rawuh‘ di sini membawa serta anak kebanggaanya dari proses perenungan yang panjang, dengan teknik hibridasi budaya Yunani-Mesir-Arab hingga tercerahkan kemudian melahirkan ‘makhluk’ ini (saya memilih kata ‘makhluk’ untuk sebentar menghindari kata cyborg, atau robot), adalah standar orang Eropa.

Sekolah yang mereka kenalkan dan ‘paksakan’ di Nusantara (juga bangsa-bangsa pribumi lainnya di Bumi) adalah dolanan mereka (mereka paham detilnya, bahkan motif dilahirkan sebuah sekolah). (Misal, pelajaran Bahasa Inggris yang ‘dinasionalkan’; yang dibangsakan sebagai bagian dari Bangsa Nusantara, atau Bangsa Indonesia, untuk kepentingan ‘akseleratif’ dengan tuntutan kebutuhan global, yang disebaliknya adalah jati-diri Bangsa Inggris [bangsa yang mana Inggris ini?], bukan ditempatkan sebagai pilihan-pilihan estetik bahasa untuk perlu atau tidak dikuasai).

Meskipun, standar-kuno sekolah Yunani, Mesir, Arab, adalah ‘dolanan‘ kode, simbol, imajinasi, mitologi, dan sebangsanya, yang pada perkembangannya melahirkan minimal dua tipe makhluk sekolah. Yang satu, lebih mendominasi, lantas menyebar ke luasan bumi seiring kolonialisasi Bangsa Eropa dan Neo-kolonialisasi. Dan, baju yang paling tepat untuk penyebaran ide dan motif tertentu adalah lewat makhluk yang disebut sekolah. Di dalamnya ada apologi in-telek-tualitas. Juga kepiyayian (borjuisitas).

Sebenarnya, jauh sebelem mereka ‘rawuh‘ di Nusantara, kita telah memiliki ‘makhluk’ yang sampai definisi tertentu sejajar dengan ‘sekolah’ orang Eropa ini. Dalam berbagai format dan istilah. Ada perguruan. Ada padhepokan. Ada ajar. Ada Nyantrik. Ada Ngenger. Pusat belajar manuskrip. Sinau Kehinduan. Kebudaan. Pencerahan. Teknologi. Pesantren. Belajar kebatinan. Teknik belajarnya dengan ‘dolanan‘, memainkan, merasakan pengalaman, berfikir dalam sebuah permainan, bermain namun berfikir, fikirannya bermain (mengembara, bermetaforma), begitu terus hingga yang sedang belajar mencoba berguru dengan berbagai teknik.

Dolanan itu teknik. Bahkan, ilmu-ilmu itu sebenarnya bentuk-formalnya ‘dolanan‘, puzzle, enigma. Yang sedang belajar berusaha bermain, memainkan, kode dalam ‘dolanan‘. Dan dolanan dalam arti dolanan dalam folklor adalah hakekat dari ilmu pengetahuan manusia yang distilisasi sedemikian rupa, dikodekan, agar para siswa memiliki motif belajar, selalu belajar, untuk memerolehnya. Motif ini melekat dalam diri kita sebagai bagian dari ‘dolanan‘ ala Nusantara.

Seperti halnya sekolah di jaman ini sebagai bagian dari dolanan sekelompok orang tertentu, atau mewakili ‘bangsa’ dan ide tertentu.

Maka, ruang-waktu di dalam dan luar pelajaran sekolah dimanfaatkan anak-anak untuk ‘dolanan‘. Selalu ‘dolanan‘. Yang sungguh bermain. Bermain peran; bermain teknik; bermain musik; bermain dengan air kali; bermain tanah. Bermain angin. Namun bukan dolanan yang hanya dolanan; yang main-main.

Karena, tampaknya, banyak ‘sekolah’ di jaman ini hanya ‘main-main’.

Ayo sekolah dengan ‘dolanan‘!
Ayo ‘dolanansekolah-sekolahan!

 

(WG).

Komentar

Komentar