Ribuan Umat Hindu Gelar Upacara Melasti Di Pantai Ngobaran

oleh -
Iring-iringan Kirab dalam Upacara Melasti di Pantai Ngobaran. KH/ Kandar
iklan hut ri multazam
Iring-iringan Kirab dalam Upacara Melasti di Pantai Ngobaran. KH/ Kandar
Iring-iringan Kirab dalam Upacara Melasti di Pantai Ngobaran. KH/ Kandar

SAPTOSARI, (KH)— Ribuan umat Hindu Gunungkidul dan beberapa wilayah DIY dan Jateng mengikuti upaca Melasti Hari Raya Nyepi Tahun Baru 1938 SAKA/ 2016 Masehi di Pura Segara Wukir Pantai Ngobaran, Desa Kanigoro, Kecamatan Saptosari, Senin, (22/2/2016).

Upacara Melasti kali ini mengusung tema “Melasti ngarania ngiring prewatek dewata angayutaken laraning jagat, papa klesa, letuhing buwana, ngamet sarining amerta ring telenging segara”. Disampaikan Ketua Panitia Pelaksana Upacara Melasti di Gunungkidul, Haryanto, jumlah umat peserta pelaksanaan kali ini meningkat dibanding tahun kemarin.

“kurang lebih ada 1500-san umat, datang dari 15 Pura di Gunungkidul, sedangkan dari luar seperti; Klaten, Yogya, Karanganyar, Kulonprogo, sleman dan Bantul,” katanya disela rangkaian upacara.

Diinformasikan, keseluruhan umat di Gunugkidul jumlahnya ada sekitar 3000-an, tetapi sebagian dari mereka merantau sehingga tidak bisa mengikuti pelaksanaan Melasti kali ini.

Haryanto  menjelaskan, rangkaian upacara melasti dimulai dari prosesi ngiring 15 Bhatara, serta  pekuluh, Sesaji, dan Gunungan dari 15 pura yang tersebar di Gunungkidul menuju tempat upacara utama (Paseban pantai), kemudian diadakan ritual persembahan sekaligus prosesi labuhan, dilanjutkan dengan memohon Tirta Amerta (air kehidupan) dari laut.

Upacara Melasti atau Segara Kertih, Lanjut Haryanto, dilaksanakan dengan melarung berbagai sesaji yang bermakna membuang kekotoran dunia dengan tujuan mensucikan diri dari segala perbuatan buruk di masa lalu dan membuangnya ke lautan.

Dalam sambutan pembuka, Panitia atau perwakilan umat khususnya di Gunungkidul memohon kepada Disbudpar, jika akan ada pengembangan destinasi wisata khususnya Pantai Ngobaran, pihaknya meminta agar ada komunikasi terlebih dahulu, sehingga tidak ada hal yang tidak diingingkan, mengingat telah ada bangunan pura dan tempat peribadatan umat Hindu di kawasan tersebut. Sudah menjadi keyakinan umat Hindu bahwa ditempat itulah Raja Brawijaya VI mendapat kesempurnaan hidup (Moksa)

Melengkapi rangkaian kegiatan tersebut juga dilaksanakan grebeg gunungan. Selain gunungan yang dibuat sekelompok umat masing-masing pura, sebagian secara pribadi juga membawa sesaji untuk dipersembahkan ke Hyang Widi Wasa. Salah satu umat dari Pura Ngawen, Intari mengatakan, isi dari sesaji persembahan yang ada di dalam wadah semacam besek tersebut umumnya berupa buah-buahan.

“umumnya buah-buahan, ada juga nasi, dan makanan yang lain, apa yang dimiliki saja. Semua itu sebagai persembahan kita kepada Hyang Widi Wasa,” terangnya.

Ia bersama 100-an umat Hindu dari Ngawen datang menggunakan mini bus, truk dan puluhan sepeda motor.(Kandar)

Komentar

Komentar