Reog Gadhuhan Pasti Beber dalam Tradisi Bersih Telaga Jonge

oleh -

SEMANU, kabarhandayani,– Pelaksanaan tradisi Bersih Telaga Jonge oleh warga Padukuhan Kwangen Lor dan Kwangen Kidul, Desa Pacarejo secara sekilas yang terlihat sama dengan kegiatan serupa di tempat lain. Namun, ada hal unik yang selalu dihadirkan dalam tradisi Bersih Telaga Jonge, yaitu pentas Reog Gadhuhan dari Hargosari Tanjungsari dan tempat kenduri memakai tenong.
Grup reog Gadhuhan dari Tanjungsari ini ternyata sudah turun-temurun senantiasa pentas menyemarakkan bersih Telaga Jonge, Pacarejo, Semanu. Ini sebagaimana yang dituturkan Mujiman (55), salah satu peraga reog dari Padukuhan Gaduhan Desa Hargosari Kecamatan Tanjungsari. Ia tidak tahu pasti kapan tradisi bersih telaga Jonge mulai menggunakan grup reog dari Gaduhan. Yang ia terima dari penuturan lisan, ini sudah lama turun temurun.
Setelah mengikuti kirab bersih Telaga Jonge, Grup Reog Gaduhan kemudian menggelar beber di depan petilasan Kyai Jonge, “Sebagai sebuah penghormatan kepada Kyai Jonge mas. Reog Gaduhan ini merupakan reog kelangenan Kyai Jonge, jadi setiap acara bersih telaga Jonge pasti kami diundang,” ungkap Mujiman.
Mujiman melanjutkan, menurut cerita turun-temurun, jika reog Gaduhan tidak diundang, biasanya akan ada warga yang dirasuki Kyai Jonge untuk mengulang tradisi bersih Telaga Jonge. “Dulu udah pernah, tapi sudah lama sekali. Lupa tahun berapa,” tutur Mujiman.
Grup Reog Gaduhan merupakan grup reog yang masih mempertahankan keaslian dan ciri khas reog dhodog Gunungkidul. Dari gerakan, kostum tetap klasik tidak ada yang dikreasi tetapi tetap sarat makna.
Selain pementasan grup reog yang khas, hal unik lainnya dari pelaksanaan tradisi bersih telaga Jonge adalah tempat kenduri yang dibawa masyarakat masih menggunakan tenong bambu. Tenong adalah tempat menaruh makanan pada saat hajatan yang berasal dari bambu. Masyarakat sekitar Telaga Jonge yang menghadiri kenduri semua membawa makanan dengan menggunakan tenong, tidak ada yang menggunakan wadah lainnya.
Bardi (62), warga Kwangen Kidul yang ikut dalam prosesi kenduri menuturkan, sebetulnya tidak ada aturan khusus untuk membawa makanan yang akan mengikuti kenduri, namun tenongan ini sudah menjadi kebiasaan. “Pokoknya yang penting ikhlas dan tulus, makanan ataupun tempatnya tidak ada aturan. Hanya kebiasaan saja pakai tenong, kalau makanan pokoknya semampunya saja, tidak harus pakai ingkung ayam,” tutur Bardi.
Bardi menambahkan, dahulu semua warga yang ada di sekitar Jonge mengikuti kenduri bersih Telaga Jonge pasti menggunakan tenong. Halaman pendopo Telaga Jonge tidak muat, karena banyaknya yang mengikuti kenduri. “Sekarang sudah berkurang, banyak yang titip, satu tenong bisa 4 sampai 5 orang yang ngisi,” pungkasnya.
Pada akhir acara kenduri warga juga berebut gunungan yang berisi sayuran dan palawija. Menurut kepercayaan seluruh sayuran dan palawija yang diikutkan prosesi kenduri banyak berkahnya. Bahkan banyak masyarakat dari luar Pacarejo dan Semanu yang ngalap berkah. Seperti halnya yang dilakukan Sakiranto (52), warga Karangtengah Sumberwungu Tepus yang rela jauh-jauh ikut ngalap berkah bersih Telaga Jonge. Ia mendapatkan seikat padi yang akan dicampurkan dengan benih padi yang akan ditanam pada musim penghujan mendatang. (HeryFosil/Jjw)

Komentar

Komentar