Kyai Jonge: Tokoh Sakti, Bersahaja, dan Suka Menolong

oleh -

SEMANU, kabarhandayani,– Bersih Telaga Jonge yang digelar warga Padukuhan Kwangen Lor dan Kwangen Kidul, Desa Pacarejo, Kecamatan Semanu pada Jumat siang (19/9/2014) memiliki nilai-nilai kearifan lokal yang tetap kontekstual untuk kehidupan masa kini.
Ada nilai-nilai kesetaraan, kebersamaan dan kesetiakawanan dalam membangun komunitas. Juga ekspresi berkesenian serta teknologi pelestarian lingkungan melalui kiprah warga untuk membersihkan, merawat, menjaga, dan melestarikan sumber daya air sebagai salah satu sumber kehidupan pentKyai Jonge merupakan tokoh yang dipercaya menjadi inspirasi bagi masyarakat, Tokoh yang diyakini sakti dan ambeg paramarta atau bersahaja, suka menolong, dan gemar berbagi ilmu pengetahuan kepada masyarakat.
Pemangku adat Telaga Jonge Mursono menuturkan, Kyai Jonge merupakan tokoh yang diyakini oleh masyarakat setempat memberikan inspirasi bermasyarakat. Tokoh yang sakti, tetapi tetap bersahaja, suka menolong dan tidak pelit untuk mengajarkan ilmunya kepada masyarakat.
Kyai Jonge suka berbagi ilmu pengetahuan dan berbagi ilmu soal pertanian. Sehingga tidak heran, Kyai Jonge yang diyakini sebagai seorang pendatang dari pelarian Majapahit bisa diterima oleh masyarakat setempat. Untuk mengenang jasanya, masyarakat setiap tahun mengadakan ritual “Bresik Telaga Jonge” atau Bersih Telaga Jonge.
Prosesi ritual Bersih Telaga Jonge biasanya dilakukan pada hari Jumat Legi. Acara dimulai pukul 14.00 WIB dengan kirab budaya dari Balai Padukuhan Kwangen Lor menuju Pendopo Telaga Jonge. Sebelumnya, peserta kirab berputar mengelilingi telaga, kemudian dilanjutkan acara kenduri-doa, dan pentas kesenian berupa jathilan, reog serta doger.
Subardi, Ketua Panitia Bersih Telaga Jonge dalam sambutannya menjelaskan, ritual bersih Telaga Jonge merupakan tradisi wujud syukur masyarakat Jonge kepada Tuhan Yang Maha Esa atas hasil pertanian yang melimpah, juga sebagai sarana silaturahmi dan sedekah. Bersih Telaga Jonge juga media pembelajaran bagi masyarakat tentang pentingnya menjaga sumber air. Telaga Jonge yang tak pernah kering sepanjang musim perlu dijaga agar tetap lestari.
“Dahulu Telaga Jonge merupakan sumber air yang sangat dibutuhkan masyarakat untuk kebutuhan mandi dan mencuci. Namun dalam perkembangannya Telaga Jonge juga dikelola sebagai tempat wisata,” ujar Subardi.
“Saat ini pemanfaatan Telaga Jonge untuk mandi dan mencuci sudah tidak seperti dahulu lagi, tetapi kami yakin ke depan jika wisata telaga Jonge maju akan lebih bermanfaat lagi bagi kami,” jelas Subardi.
Subardi menambahkan, ritual bersih Telaga Jonge juga dapat dikemas sebagai suguhan wisata religi atau wisata budaya, kemasan acaranya meriah sarat dengan pesan moral, seluruh hasil bumi masyarakat dibawa, disuguhkan dan dapat dinikmati setiap orang yang datang.
Sementara itu, Bupati Gunungkidul yang diwakili oleh Staf Ahli Bupati Siwi Irianti menyampaikan rasa haru dan bangga terhadap masyarakat Kwangen Lor, Kwangen Kidul, Jonge, Wilayu, para pemuda, orang tua, anak-anak di sekitar Telaga Jonge yang telah berpartisipiasi dalam upacara Bersih Telaga Jonge. Pemerintah Kabupaten Gunungkidul berterimakasih kepada masyarakat yang masih setia menjaga tradisi dan budaya turun-temurun di Gunungkidul ini.
“Paket wisata berupa atraksi budaya, kuliner, wisata alam dapat dikelola dan dikemas menjadi lebih menarik. Kalau secara mandiri saja bisa semeriah ini. Tahun depan jika bisa dikemas lebih matang dan didukung dengan dana keistimewaan maka akan lebih meriah lagi Bersih Telaga Jonge ini,” pungkas Siwi Irianti. (HeryFosil/Jjw)

Komentar

Komentar