Rasulan, Masihkah Menjadi Ritual Merti Desa?

oleh -
Kirab gunungan rasulan Desa Wonosari tahun 2015. KH/Bara.
iklan dispar
Kirab gunungan rasulan Desa Wonosari tahun 2015. KH/Bara.
Kirab gunungan rasulan Desa Wonosari tahun 2015. KH/Bara.

KABARHANDAYANI, — Siklus waktu antara Mei sampai dengan Agustus merupakan “bulan baik” bagi siapapun yang ingin benar-benar melihat dan menikmati sebuah acara tradisional yang khas di wilayah Gunungkidul. Pada periode waktu tersebut, hampir di setiap dusun atau dalam lingkup desa secara bersamaan menggelar ritual tradisional yang disebut “rasulan“.  Belum diperoleh referensi memadai yang bisa menerangkan, bagaimana sebuah istilah “rasulan” yang berkonotasi bahasa Arab dan Aram tersebut disematkan sebagai padanan kata untuk sebuah upacara tradisional yang di beberapa dusun atau desa disebut “merti dusun” atau “bersih dusun” atau “bersih desa” itu.

Masyarakat Gunungkidul sendiri tak begitu mempermasalahkan, kenapa tradisi peninggalan para leluhur pendiri kabuyutan atau padukuhan sebagai unit terkecil komunitas masyarakat agraris itu diberi istilah “rasulan”.  Boleh jadi ketika mengucapkan atau mendengar kata rasulan, maka akan tertuju pada istilah yang dalam agama Samawi menjadi sakral karena “rasul” bermakna “utusan Tuhan”. Lantas, apakah “rasulan” itu bermakna sebagai “sesuatu hal berkaitan dengan utusan Tuhan”?

Siapapun yang pernah mengalami masa kanak-kanak dan bersekolah di perdesaan Gunungkidul pada era sebelum tahun 80-an barangkali pernah mengalami sekolah SD bubar karena sedang ada tradisi rasulan. Begitu terdengar suara tetabuhan kelompok reog, anak-anak sekolah sudah gusar. Akhirnya sang guru membubarkan sekolah agar anak-anak dapat mengikuti rasulan di balai desa.

Mengikuti tradisi rasulan memang membawa kembali kepada memori kehidupan masyarakat agraris perdesaan. Di mana persaudaraan, kegotongroyongan, rasa senasib sepenanggungan menjadi sendi-sendi perekat hidup masyarakat perdesaan dalam menghadapi senang dan susahnya kehidupan. Rasulan juga menjadi pelebur jarak di antara si kaya dan si miskin, antara si Raden dan si Suto atau Noyo, antara orang yang berada dan yang papa. Semua merasakan kebersamaan ketika duduk bersila dalam doa kenduri dan bersama-sama menikmati sedekah yang dibagi di antara mereka.

Ensiklopedi Gunungkidul (Sugiyanto dkk, KPAD Gunungkidul, 2013) mencatat, bahwa rasulan merupakan upacara adat tradisional pada masyarakat di Gunungkidul dalam rangka mengucap syukur atas segala anugerah dan memohon keselamatan kepada Tuhan. Di beberapa tempat, tradisi ini disebut merti dusun atau merti desa. Rasulan pada umumnya dilaksanakan setelah selesai melakukan panen pertanian. Kegiatan rasulan biasanya diselenggarakan per padukuhan dengan waktu pelaksanaan yang berbeda-beda, misalnya Rabu Wage, Senin Legi, Jumat Legi, Senin Pon, Senin Pahing, Kamis Kliwon, dan sebagainya sesuai dengan adat yang telah diselenggarakan oleh masing-masing wilayah.

Ada banyak rangkaian kegiatan yang dilaksanakan dalam tradisi rasulan. Pada umumnya kegiatan diawali dengan kegiatan bersih dusun dengan melakukan kerja bakti kebersihan lingkungan dan sumber-sumber air (tuk atau kali) yang ada di wilayahnya. Acara pokok dalam sebuah ritual rasulan adalah doa bersama dan sedekah yang dipimpin oleh kaum atau modin desa. Sebelum doa bersama dan pembagian sedekah, tradisi ritual ini tak terlepaskan dari pembuatan ancak atau gunungan oleh masing-masing padukuhan yang dibawa ke tempat pertemuan doa bersama. Setelah selesai didoakan, aneka rupa isi ancak berupa aneka hasil bumi dan makanan matang tersebut menjadi sedekah yang bisa dinikmati oleh siapa saja yang ingin memperolehnya.

Komentar

Komentar