Rasulan 5 Padukuhan, Sendratari Ramayana Menjadi Kesenian Baru di Candirejo

oleh -
iklan dispar
image
Sendratari Ramayana dipentaskan pada Rasulan 5 Padukuhan di Cuwelo. KH/Kandar

SEMANU,(KH) — Lima padukuhan di Desa Candirejo, Kecamatan Semanu secara serentak menggelar tradisi Rasulan. Kelima padukuhan tersebut ialah; Cuwelo Kidul, Gebang, Soka, Pace, Kropak dan Mranggen, serta satu perkumpulan perantau asal Cuwelo dan sekitarnya ikut berpartisipasi menyemarakkan tradisi tahunan tersebut.

Kemeriahan berbagai hiburan telah dimulai sejak Kamis, (10/8/2015) siang dan berakhir hingga Jum’at. Hiburan pendukung kemeriahan yang digelar meliputi pertandingan sepak bola, wayang kulit, campur sari Sangkuriang dengan bintang tamu Dimas Tedjo dan Yati Pesek, Uyon-uyon, Reog, Jathil, dan Kirab budaya serta sendratari Ramayana yang digelar pada salah satu padukuhan.

Disampaikan Dukuh Padukuhan Cuwelo Kidul, Sunarto, sendra tari Ramayana pertama kalinya digelar oleh Padukuhan Pace di suatu tempat bekas ritual Nyadran pada zaman dahulu, suatu tempat di mana masih banyak ditumbuhi pohon-pohon besar (Resan) dan selalu rimbun meski kemarau panjang.

“Dahulu ditempat tersebut saat menjelang Rasulan digunakan untuk Nyadran/ Ngalap berkah, setelah berhenti sudah agak lama, kini dirubah kemasannya, kali ini pertama kali digunakan untuk pementasan kesenian Sendra Tari Ramayana, sekaligus kenduri atau doa bersama, seluruh makanan kita niatkan sebagai sajian makan bersama,” Ujar Prayoto Samadikun, Dukuh Padukuhan Pace.

Ia menambahkan, Kalau dahulu mungkin pelaksanaan tradisi Nyadran di tempat-tempat pohon besar dikaitkan dengan hal gaib, angker dan mistis, namun saat ini dikemas berbeda, kesenian Wayang Orang yang pernah ada dirintis lagi.

Seluruh pemain beserta pengiring musik berasal dari warga setempat, pelatih sebagian berasal dari  sesepuh mantan pemain kesenian Wayang Orang, meski cuaca sedang terik namun acara digelar tanpa penggunaan perangkat peneduh tenda, karena pohon-pohon besar berusia ratusan tahun mampu memberikan kenyamanan dari panas terik bahkan memberikan hawa sejuk.

“Ada pohon Kepuh, Wadang, Klampok dan lainnya, selain sebagai eksplorasi kesenian yang sudah ditinggalkan, ini bernilai edukasi bahwa kita mengajak generasi penerus, ke depan untuk mencintai alam lingkungan, serta mencintai budaya. (Kandar)

Posted from WordPress for Android

Komentar

Komentar