Rabu Abu Awali Aksi Puasa Pembangunan 40 Hari Umat Katolik Gunungkidul

oleh -
Umat Katolik Paroki Santo Petrus Kanisius Wonosari menerima abu suci dalam tanda salib di dahi dalam prosesi misa rabu abu. Misa rabu abu menandai dimulainya Aksi Puasa Pembagunan selama 40 hari jelang perayaan paskah 2020. (ist)
iklan-idul-fitri-smkn3-wno

WONOSARI, (KH),– Misa perayaan Rabu Abu umat Katolik berlangsung khidmad di Gereja Paroki Santo Petrus Kanisius Wonosari, Selasa (25/2) pukul 18.00 WIB.

Misa yang menandai awal memasuki pra paskah tahun 2020 ini dipimpin Romo JB Clay Pariera SJ. Misa yang diwarnai rintik hujan tersebut dihadiri ribuan umat yang datang dari berbagai wilayah.

iklan kejari

Prosesi misa rabu abu diantaranya terdapat ritual pemberian abu suci kepada setiap umat yang hadir dalam bentuk tanda salib di dahi. Bagi umat Katolik, abu menjadi makna pertobatan tulus persiapan paskah dengan dimulainya pantang dan puasa untuk 40 hari sampai menjelang paskah mendatang.

Romo Clay mengatakan, masa pra-paskah tahun ini mengusung tema “Bertobat, Terlibat dan Berbuah Berkat”. Dijelaskan, umat Katolik harus berani rendah hati mengakui sebagai manusia dengan segala dosa dan kesalahan diri. Menurutnya, tidak cukup hanya bertobat saja, tetapi hendaklah umat juga bergegas diri melakukan perbuatan yang baik mewujudkan karya-karya kasih yang nyata bagi sesama dan dunia.

“Segala tindakan perbuatanya harus membuahkan berkah kebahagiaan dan keselamatan,” ujar Romo Clay.

Romo Yesuit yang selama ini berkiprah di pendidikan ATMI di Solo juga mengingatkan masa pantang dan puasa perlu dimaknai sebagai laku spiritualitas iman secara total kepada Tuhan, seperti bacaan kitab suci yang menegaskan tentang perihal berpantang dan puasa wajib dijalani tanpa mengurangi kadar beraktivitas dan berkarya.

Puasa ala Katolik jangan sampai malah membuat muka murung, terbebani, apalagi  menjadi alasan menurunkan kualitas bekerja. Sebaliknya, romo menyatakan,  puasa sebagimana diajarkan dalam kitab suci tidak perlu dipamerkan kepada orang lain.

Bidang Pelayanan Kemasyarakatan, FX Endro Tri Guntoro, mengatakan, perayaan rabu abu diselenggarakan serentak oleh seluruh paroki di Rayon Gunungkidul. Paroki Santo Yusuf Bandung, Playen, Paroki Petrus Paulus Kelor Karangmojo dan Paroki Petrus Kanisius Wonosari menjangkau wilayah stasi untuk melayani umat Katolik berjumlah hampir 12.000 jiwa di Kabupaten Gunungkidul. Bahkan, Paroki Wonosari sebagai paroki tertua di Gunungkidul yang memiliki teritori 57 lingkungan harus menggelar delapan kali misa di wilayah seperti Kapel Singkil Paliyan, Kapel Semanu, Baran dan Girisubo. Adapun Rabu (26/2) masih dilaksanakan di Kapel Jati, Kapel Ngeposari, Kapel Pulutan dan Wonosari.

Perihal masa pantang dan puasa umat Katolik ini, Endro menyatakan seluruh pengusaha kuliner dan warung di Gunungkidul tidak tidak perlu tutup atau berhenti beroperasi.

“Pemkab dan aparat pun tidak perlu menggelar razia. Pedagang makanan tetap harus bersemangat untuk buka karena sama sekali tidak mengganggu aktvitas pantang dan puasa,” kata Endro.

Ada yang menarik dari gerakan masa pra-paskah atau dikenal Aksi Puasa Pembangunan (APP) setiap tahun ini. Setiap keluarga Katolik menggalang gerakan menyisihkan uang jajan, atau uang belanja, atau sebagian dari pendapatan yang dikumpulkan untuk mendukung karya amal kasih peduli bagi sesama yang masih  membutuhkan. Bantuan amal kasih tidak memandang perbedaan suku, agama, ras dan antar golongan. Wujud amal kasih diwujudkam dalam bentuk pemberian bantuan sembako, beasiswa pendidikan, biaya perawatan orang sakit, santunan, bedah rumah, modal kewirausahaan dan karya amal lainnya. (Red)

hut gk kh

Komentar

Komentar