Puthul Tak Kalah Rasanya Dengan Belalang

oleh
image
Puthul, serangga yang jadi kuliner ekstrim di Gunungkidul. Foto: Juju.

WONOSARI,(KH)— Selain Belalang, munculnya hewan Puthul bagi sebagian warga Gunungkidul merupakan berkah tersendiri. Mereka yang suka, biasa memburunya untuk dijadikan makanan tambahan.

Belalang dan Puthul merupakan salah satu kuliner ekstrim di Gunungkidul. Makanan ini memiliki banyak protein dan rasanya enak dan gurih. Tak heran jika hewan jenis serangga ini banyak diburu untuk dijadikan pundi-pundi rupiah.

Bagi penggemarnya, kedua sajian ini bagai klangenan, tak jarang orang yang sudah merantau keluar dari Gunungkidul sesekali merindukan Belalang dan Puthul goreng, serangga ini menjadi makanan yang renyah saat digigit setelah digoreng.

Salah satu penikmat Puthul, Edi (29) warga Kranon, Kepek, Wonosari mengatakan, Puthul akan mudah dijumpai saat memasuki musim hujan. Hewan berwarna coklat dan memiliki sayap ini biasa hinggap pada ranting dan daun yang berada di area persawahan.

“Pencarian Puthul tidaklah sulit, kita hanya membutuhkan lampu penerangan. Hewan yang memiliki panjang 1,2-1,4 cm ini akan keluar setelah matahari terbenam,”katanya, Sabtu (6/12/2014).

Saat berburu Puthul, Edi tidak sendiri. Ada 3-4 orang yang menemaninya, satu orang bertugas membawa lampu, teman lainya bertugas mengamankan hasil tangkapan dan melaksanakan perburuan.

Setelah hewan ini terkumpul, Edi langsung membawanya pulang dan memasaknya dengan cara di-bacem. Sebelum proses dilaksanakan, Puthul tersebut di masukan ke dalam air mendidih agar mati dan bulu yang ada pada tubuh Puthul terlepas.

“Saat proses perebusan, diberi bumbu garam dan bawang putih yang telah dihaluskan, setelah itu dibacem dan digoreng, rasanya hampir mirip sama belalang,” ungkap Edi sembari menunjukan hasil masakannya.

Pecinta Puthul lainya, Teplek (37) mengaku, Puthul bacem sangat cocok dimakan dengan nasi hangat, dia mengaku cita rasa Puthul hampir mirip dengan belalang. Teplek menerangkan, berburu Puthul sering dilakukan usai hujan turun.

“Rasanya renyah, banyak yang bilang kaya dengan protein, kegiatan berburu Puthul ini sering kita lakukan bersama teman-teman,”ulasnya.

Selain dimakan sendiri, Teplek mengaku banyak mendapat pesanan Puthul dari luar kota. Tidak tanggung-tanggung, 1/4 kilogram Puthul dijualnya dengan harga Rp.25.000. Meski harganya mahal, pesanan Puthul dari luar kota terus mengalir.

“Karena banyak yang cari saat ini habitatnya agak berkurang, beda dengan saat awal musim penghujan dulu. Tetapi jika mau teliti, masih bisa kita dapatkan 1/2 kilogram setiap malamnya,” katanya. (Juju/Bara)

Komentar

Komentar