Prosesi Kenduri Tandai Tradisi Sedekah Laut Pantai Krakal

oleh -
iklan dispar

TANJUNGSARI, kabarhandayani,– Tradisi sedekah laut atau sering disebut sadranan di Pantai Krakal diselenggarakan hari ini, Minggu (14/9/2014). Acara tahunan yang selalu dilaksanakan menjelang musim tanam ini dihadiri Camat Tanjungsari Drs Witanto, Kepala Desa Ngestirejo Thomas Probowidiarjo, para perangkat Desa Ngestirejo, dan ratusan warga.
Acara sedekah laut menjadi tontonan menarik bagi ribuan wisatawan yang sedang berkunjung di Pantai Krakal. Tak sedikit para fotografer dari berbagai daerah sengaja datang untuk mengabadikan momentum ini.
Setelah Kramadimeja selaku juru kunci Pantai Krakal mendoakan permohonan warga secara khusus di tempat pendapan, ia langsung menuju ke bawah tenda untuk mengikuti jalannya kenduri. Proses kenduri merupakan acara inti tradisi sedekah laut ini, karena setelahnya tak ada acara labuhan yang biasa dilakukan saat upacara sadranan.
Tahun menika mboten wonten acara larungan, mbenjang larunganipun diwontenaken tahun ngajeng. Tahun ini tidak ada acara labuhan, labuhan akan diadakan tahun depan”, ujar Kramadimeja.
Prosesi kenduri dipimpin oleh Darsungkana, yang dimulai sekitar pukul 11.00 WIB. Berbagai sesaji, nasi tumpeng, dan tak ketinggalan ayam ingkung menjadi sajian utama dalam prosesi ini. Puluhan orang turut bergabung dalam lingkaran acara, sementara yang lain mengikuti dari luar tenda.
Beberapa tamu undangan termasuk Camat Tanjungsari dan Kades Ngestirejo turut serta dalam prosesi kenduri. Setelah usai, warga yang berkumpul segera makan bersama dengan sajian menu kenduri yang tersedia.
“Tahun depan telah kita rencanakan untuk menyeting acara ini lebih menarik lagi. Pastinya dengan perencanaan agar acara semacam ini menjadi daya tarik bagi wisatawan,” tutur Thomas.
Kepala Desa Ngestirejo ini juga mengungkapkan, sadranan akan menjadi agenda khusus sebagai sebuah kegiatan yang direncanakan untuk mendukung Desa Ngestirejo sebagai Rintisan Desa Budaya, “Hal ini nantinya akan semakin memperkuat ikon Desa Ngestirejo sebagai Desa Budaya,” pungkasnya. (Maryanto/Jjw).

Komentar

Komentar