POGI dan Pegadaian Gelar Boksos Merdeka Stunting 2026, Sasar 30 Ibu Hamil di Gunungkidul

Baksos POGI
Perwakilan POGI memberikan edukasi kepada ibu hamil mengenai perawatan kehamilan. (KH)

GUNUNGKIDUL, (KH),– Kasus stunting di Gunungkidul jadi perhatian. Tingginya angka stunting menjadi dasar Persatuan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI) bersama PT Pegadaian menyelenggarakan bakti sosial Merdeka Stunting 2026 di kabupaten terluas di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) ini.

Kegiatan yang mengusung tagline “Dari Ibu Hamil, Semua Jadi Penting” setidaknya menyasar 30 ibu hamil. Dalam kegiatan ini, POGI memberikan tiga layanan secara gratis, mulai dari pemeriksaan kehamilan hingga edukasi bagi ibu hamil.

Bacaan Lainnya

Ketua POGI DIY, Dr. dr. Muhammad Nurhadi Rahman, Sp.O.G., Subsp. Urogin-RE, mengatakan kegiatan Merdeka Stunting 2026 merupakan bagian dari bakti sosial POGI Indonesia yang dilaksanakan secara serentak di 36 kota di Indonesia.

Menurutnya, pencegahan stunting tidak cukup dilakukan ketika bayi sudah lahir. Upaya tersebut justru perlu dimulai sejak awal kehamilan melalui pemantauan kondisi ibu dan janin, pemenuhan nutrisi, serta persiapan kehamilan yang baik.

“Stunting merupakan persoalan kita semua. Tidak bisa dicegah hanya saat bayi lahir, tetapi sejak awal masa kehamilan,” ujarnya disela pelaksanaan baksos di Pegadaian Wonosari, Kamis (20/8/2026).

Dalam bakti sosial tersebut, terdapat tiga layanan gratis yang diberikan kepada ibu hamil. Pertama, pemeriksaan kehamilan melalui USG. Pemeriksaan ini menjadi bagian penting untuk mengetahui kondisi kehamilan sekaligus melakukan deteksi sejak dini.

Layanan kedua berupa suplementasi gizi ibu hamil. Sementara layanan ketiga adalah penyuluhan mengenai cara mengelola kehamilan dengan baik, termasuk persiapannya, sebagai bagian dari upaya mencegah stunting.

Nurhadi menjelaskan, kualitas kesehatan ibu selama kehamilan berkaitan erat dengan upaya menyiapkan generasi penerus bangsa yang berkualitas.

Gunungkidul Jadi Perhatian

Gunungkidul dipilih sebagai lokasi kegiatan di DIY karena angka kejadian stunting di wilayah ini masih menjadi perhatian. Nurhadi menyebut, pemetaan awal yang sebelumnya dilakukan menjadi alasan untuk bekontribusi ikut menurunkan angka stunting di Gunungkidul.

Karena itu, kegiatan kali ini diharapkan tidak berhenti pada 30 ibu hamil yang menjadi penerima manfaat langsung. Pengetahuan yang diperoleh selama kegiatan diharapkan dapat diteruskan kepada ibu hamil lainnya di lingkungan masing-masing.

“Diharapkan tidak hanya berguna kepada peserta penerima bakti sosial, tetapi informasi dan pengetahuan yang diterima dapat ditularkan kepada ibu hamil yang lain,” jelasnya.

Pendekatan tersebut dinilai penting karena pencegahan stunting membutuhkan keterlibatan banyak pihak. Edukasi mengenai kesehatan kehamilan, pemenuhan nutrisi, serta persiapan persalinan perlu terus diperluas agar semakin banyak keluarga memahami pentingnya menjaga kesehatan sejak masa kehamilan.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Departemen Non Gadai PT Pegadaian Area Yogyakarta, Prayitno, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari program tanggung jawab sosial perusahaan atau Corporate Social Responsibility (CSR) dari PT Pegadaian.

Program dari tingkat pusat tersebut kemudian diturunkan ke berbagai daerah, termasuk DIY.

Menurut Prayitno, pemilihan Gunungkidul sejalan dengan perhatian terhadap angka stunting di wilayah ini. Program tersebut juga selaras dengan upaya pemerintah dalam menangani persoalan stunting.

“Selaras dengan program kesehatan dari pemerintah yang sedang menangani stunting. Kami salah satu BUMN memberikan kontribusi,” ujarnya.

Melalui kolaborasi POGI dan PT Pegadaian, kegiatan Merdeka Stunting 2026 diharapkan dapat memberikan manfaat langsung kepada ibu hamil sekaligus memperluas pemahaman masyarakat bahwa pencegahan stunting perlu dimulai sedini mungkin atau setidaknya sejak masa kehamilan.

Sementara itu Kepala Dinas Kesehatan Gunungkidul Ismono mengucapkan terimakasih kepada penyelenggara baksos yang telah memilih Gunungkidul sebagai sasaran kegiatan. Dia berharap, kegiatan yang secara teknis dilaksanakan petugas medis dari RSUD Wonosari dan Puskesmas ini mampu mengecilkan risiko stunting pada anak Gunungkidul.

Sebagaimana diketahui, prevalensi stunting di Gunungkidul terus menunjukkan tren penurunan, dari 22,2 persen pada 2023 menjadi 19,7 persen pada 2024 dan 16,62 persen pada 2025. Meski terus menurun, Gunungkidul masih menghadapi tantangan stunting yang relatif tinggi dibandingkan daerah lain di DIY.

“Kami atas nama bupati dan masyarakat mengucapkan terimakasih atas kolaborasi POGI dan PT Pegadaian yang turut serta menanggulangi stunting di Gunugkidul,” tukasnya.

Berbagi artikel melalui:

Komentar

Komentar

Pos terkait