WONOSARI, (KH),– “ASI saya cukup tidak, ya?” Pertanyaan sederhana seperti itu kerap muncul di benak ibu, terutama mereka yang baru pertama kali memiliki bayi. Kekhawatiran juga bisa muncul ketika bayi lebih sering menangis meski sudah disusui. Apakah ASI tidak cukup? Apakah bayi sudah menyusu dengan benar?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi bagian dari edukasi yang diberikan RSUD Wonosari bersama Puskesmas Wonosari II dalam kegiatan edukasi dan pendampingan ibu hamil dan ibu menyusui, Sabtu (8/8/2026).
Kegiatan tersebut digelar dalam rangka Pekan ASI 2026 dengan mengangkat tema “Menyusui sebagai Investasi Berkelanjutan bagi Kehidupan.”
Bukan sekadar seminar, kegiatan ini memberi kesempatan kepada peserta untuk mendapatkan penjelasan, berkonsultasi, sekaligus mempraktikkan secara langsung berbagai hal yang berkaitan dengan persiapan dan proses menyusui.
Edukasi ASI sejak 1.000 Hari Pertama Kehidupan
Dokter Spesialis Anak RSUD Wonosari, dr. Tri Kusumawijayanti, Sp.A, memberikan edukasi mengenai pentingnya ASI bagi tumbuh kembang anak, terutama dalam periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan.
Peserta juga diajak membahas sejumlah pertanyaan yang masih sering muncul di masyarakat. Di antaranya, apakah bayi yang sering menangis berarti ASI ibu tidak cukup, apakah bayi boleh diberi air putih sebelum berusia enam bulan, hingga berbagai mitos seputar pemberian ASI.
Edukasi tersebut penting agar ibu tidak mudah mengambil kesimpulan ketika menghadapi kondisi tertentu selama masa menyusui. Sebab, bayi yang menangis tidak selalu berarti kekurangan ASI. Demikian pula berbagai persoalan menyusui perlu dilihat berdasarkan kondisi ibu dan bayi secara menyeluruh.
Selain mendapatkan materi, peserta juga memperoleh pendampingan dari Konselor Laktasi sekaligus Ahli Gizi RSUD Wonosari, Ambar Sakti Sukmaraningsih, S.Tr.Gz.
Pendampingan lebih banyak menyentuh persoalan praktis yang sering dialami ibu menyusui. Mulai dari posisi menyusui, perlekatan bayi, tanda bayi menyusu secara efektif, berbagai keluhan saat menyusui, hingga cara memerah dan menyimpan ASI bagi ibu yang harus bekerja.
Menariknya, peserta tidak hanya mendengarkan penjelasan. Dengan menggunakan boneka bayi dan boneka payudara, ibu dapat mempraktikkan langsung posisi menyusui yang benar. Konselor laktasi kemudian memberikan koreksi sehingga peserta mengetahui bagian mana yang perlu diperbaiki.
“Jadi, ibu tidak hanya tahu teorinya, tetapi juga bisa langsung mencoba. Kalau selama ini masih bingung bagaimana posisi bayi, bagaimana perlekatannya, atau merasa bayi tidak menyusu dengan efektif, di sini bisa langsung dikonsultasikan,” ujar Ambar.
Pendekatan praktik seperti ini diharapkan membuat ibu lebih percaya diri ketika nantinya menghadapi proses menyusui di rumah.

Ada Yoga Ibu Hamil hingga Konsultasi Laktasi
Pendampingan dalam kegiatan tersebut tidak hanya ditujukan bagi ibu yang sudah melahirkan. Ibu hamil juga mendapatkan kesempatan mengikuti Yoga Ibu Hamil, sementara ibu setelah melahirkan dapat mengikuti Yoga Postpartum.
Bagi ibu yang mengalami kendala dalam proses menyusui, panitia juga menyediakan konsultasi manajemen laktasi berdasarkan hasil skrining. Selain itu, tersedia layanan akupuntur bagi ibu dengan indikasi ASI kurang lancar.
Kegiatan diawali dengan registrasi dan skrining peserta, termasuk skrining terhadap ibu yang mengalami kesulitan menyusui.
Ketua Pelaksana dari RSUD Wonosari, dr. Achmad Suparmono, SpOG, turut memberikan sambutan sebelum kegiatan dibuka oleh Kepala Puskesmas Wonosari II.
Kolaborasi RSUD Wonosari dan Puskesmas Wonosari II tersebut menjadi salah satu upaya menghadirkan edukasi kesehatan yang lebih dekat dengan masyarakat.
Sebab, keberhasilan menyusui bukan semata-mata bergantung pada kemampuan seorang ibu. Pengetahuan yang cukup, pendampingan tenaga kesehatan, serta dukungan keluarga dan lingkungan juga memiliki peran penting.
Achmad menegaskan, apabila menghadapi masalah menyusui, ibu tidak seharusnya merasa sendirian atau langsung menyimpulkan bahwa dirinya gagal memberikan ASI. Dengan adanya pendampingan yang tepat, berbagai kendala dapat dikonsultasikan dan dicari solusinya sesuai kondisi ibu dan bayi.





