GUNUNGKIDUL, (KH),– Tantangan guru dalam menjalankan tugas sebagai pendidik dinilai semakin kompleks. Selain dituntut profesional dan mampu menghadirkan pembelajaran yang inovatif, guru juga menghadapi perbedaan persepsi dengan orang tua, terutama dalam penerapan pendidikan karakter dan disiplin positif.
Hal tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam kegiatan Pembinaan dan Motivasi Guru yang digelar PGRI Cabang Kapanewon Patuk, Rabu (19/8/2026). Agenda yang berlangsung di Grha Sabitah Laudza ini diikuti sekitar 400 guru dari berbagai jenjang pendidikan, mulai TK, SD, SMP hingga SMA sederajat.
Ketua Panitia, Ponikem, mengatakan kegiatan tersebut menjadi momentum untuk menyamakan langkah dan membangun satu frekuensi di kalangan guru. Menurutnya, tuntutan terhadap perilaku profesional, dedikasi, serta peran guru sebagai sosok yang menginspirasi semakin tinggi.
” Tantangan menjadi guru semakin berat. Apresiasi dari pemerintah dan masyarakat bisa kita lihat. Namun, pada saat yang sama, tindakan guru terkadang justru dipersepsikan negatif,” ujarnya.
Ia mencontohkan persoalan pendidikan karakter. Guru memiliki tanggung jawab untuk meluruskan dan membentuk karakter peserta didik. Namun, upaya tersebut terkadang berhadapan dengan persepsi orang tua yang berbeda.
Padahal, dari sisi kebijakan pendidikan, berbagai pendekatan pembelajaran telah diarahkan agar proses pendidikan berjalan sesuai perkembangan kebutuhan peserta didik. Pembelajaran kontekstual hingga penerapan disiplin positif menjadi bagian dari upaya tersebut.
“Semua sudah diorkestrasi, dibuat sedemikian rupa agar metode pendidikan sesuai. Tetapi persepsi orang tua dengan latar belakang pendidikan yang berbeda-beda juga menjadi tantangan,” jelas pendidik di SMPN 2 Patuk ini.
Karena itu, menurut dia, komunikasi antara sekolah dan orang tua perlu terus diperkuat. Orang tua perlu mendapatkan pemahaman yang sama mengenai pola pembelajaran dan pendidikan yang diterapkan di sekolah.
Dia berharap kegiatan pembinaan dan motivasi dapat memberikan inspirasi baru bagi para guru. Terlebih, kehadiran narasumber diharapkan mampu menjadi pemantik bagi guru untuk menghadirkan pembelajaran yang lebih kreatif dan inovatif.
“Kami berharap memperoleh inspirasi dari narasumber. Ada trigger sehingga guru terinspirasi menghadirkan pembelajaran inovatif,” harapnya.
Guru Diminta Tidak Lelah Belajar
Ketua PGRI Cabang Patuk, Tri Kumardono, S.Pd., menegaskan guru tidak boleh berhenti belajar. Menurutnya, perkembangan dunia pendidikan menuntut guru untuk terus meningkatkan kompetensi.
PGRI, lanjut dia, tidak hanya menjadi organisasi profesi, tetapi juga diharapkan hadir sebagai rumah bersama bagi para guru. Melalui organisasi tersebut, para pendidik dapat saling menguatkan, meningkatkan kompetensi, sekaligus mengisi energi positif.
“Guru-guru tidak berjalan sendiri. PGRI hadir sebagai rumah bersama untuk meningkatkan kompetensi dan mengisi energi positif, tetap kompak serta memperjuangkan kehormatan dan kesejahteraan guru,” katanya.
Ia berharap kegiatan pembinaan dan motivasi dapat menjadi energi baru bagi para guru untuk menjalankan tugasnya. Guru diharapkan mampu terus berkembang dan menjadi pendidik yang inspiratif bagi peserta didik.
Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) Sekretaris Dinas Pendidikan Kabupaten Gunungkidul, Syaifuddin Zuhri, S.IP., M.Eng., yang mewakili Kepala Dinas Pendidikan Gunungkidul, mengingatkan para pendidik agar tetap bekerja secara profesional meskipun menghadapi berbagai tantangan.
Ia menyampaikan bahwa kualitas pendidikan Skor Kemampuan (PISA): literasi, matematika, dan sains siswa Indonesia masih menghadapi pekerjaan besar. Bahkan, Skor PISA Indonesia disebut masih di bawah rata-rata negara anggota OECD (Organisasi Kerjasama dan Pembangunan Ekonomi).
Dalam kesempatan tersebut, ia juga menyinggung pandangan pakar mengenai kebutuhan peningkatan kesejahteraan guru. Untuk mengantarkan kualitas pendidik Indonesia agar dapat menyamai level Singapura, terdapat pandangan bahwa penghasilan guru perlu mencapai sekitar Rp30 juta per bulan.
Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan bahwa peningkatan kualitas pendidikan merupakan tantangan besar yang tidak hanya menjadi tanggung jawab guru, tetapi juga negara.
“Ini menjadi tantangan berat bagi negara,” ujarnya.
Syaifuddin juga mengaitkan tantangan pendidikan dengan kondisi pembangunan manusia di Gunungkidul. Berdasarkan data yang disampaikannya, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Gunungkidul berada di angka 72,14, terendah di Daerah Istimewa Yogyakarta. Sementara rata-rata IPM DIY mencapai 82,48.
Ia menyebut, guru merupakan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap kualitas pembangunan manusia, meskipun bukan menjadi satu-satunya faktor.
Karena itu, profesionalisme guru perlu terus diperkuat. Peningkatan kompetensi pendidik diharapkan berjalan seiring dengan dukungan terhadap sektor pendidikan secara keseluruhan.
Guru Inspiratif dan Pembelajaran Inovatif
Kegiatan tersebut menghadirkan Ahmad Ritaudin, S.Pd., M.Pd., selaku Kasi Kurikulum dan Kesiswaan SD Dinas Pendidikan Kabupaten Sleman sebagai pemateri.
Ia menyampaikan berbagai kiat untuk menjadi guru inspiratif. Materi tersebut diharapkan dapat memberikan perspektif baru bagi para peserta dalam menjalankan peran sebagai pendidik.
Dengan pembinaan, motivasi, dan penguatan kompetensi secara berkelanjutan, guru di Patuk diharapkan tidak hanya mampu menjalankan tugas mengajar, tetapi juga menghadirkan pembelajaran yang mampu menginspirasi peserta didik.





