Stunting Gunungkidul Tertinggi di DIY, BKKBN Lakukan Sosialisasi Pencegahan

oleh -
oleh
Stunting
Plt. Direktur KIE BKKBN, Dr. Dadi Ahmad Roswandi, M.Si didampingi Ketua Tim Percepatan Penurunan Stunting BKKBN Perwakilan DIY, Dr Yuni Hastutiningsih. (KH/ Kandar)
iklan dprd

GUNUNGKIDUL, (KH),– Berdsar data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2022, prosentase kasus stunting di Gunungkidul sebanyak 23,5 persen. Angka ini menunjukkan bahwa jumlah anak dengan kondisi stunting di Gunungkidul paling tinggi di DIY.

Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKN) DIY bekerjasama dengan berbagai mitra kerja berupaya menurunkannya. Salah satu metode yang ditempuh yakni dengan menggelar Komunikasi Informasi dan Edukasi (KIE) pencegahan stunting.

“Angka stunting di Gunungkidul tertinggi di DIY. Kami lakukan KIE di Gunungkidul agar angkanya menurun,” kata Plt. Direktur KIE BKKBN, Dr. Dadi Ahmad Roswandi, M.Si, Minggu (4/2/2023).

KIE yang digelar di aula destinasi wisata Water Byur Ponjong diikuti oleh ratusan masyarakat, kader keluarga, Posyandu, tokoh masyarakat serta tokoh agama.

iklan golkar idul fitri 2024

Dalam kesempatan tersebut disampaikan aneka faktor penyebab stunting serta strategi upaya pencegahannya. Pihaknya yakin angka kasusnya di DIY sebanyak 16,4 % akan turun menjadi 14 persen pada 2024 nanti.

Stunting
Ratusan warga mengikuti sosialisasi dan KIE pencegahan stunting dari BKKBN. (KH/ Kandar)

Dia mengungkapkan, sejauh ini kerjasama bersama unsur pentahelix telah dilakukan guna mempercepat penurunan stunting. Akademisi, pers, perusahaan melalui program CSR pun telah dilibatkan.

Lebih jauh disampaikan, berdasar audit kasus stunting, tiap daerah memiliki faktor penyebab berbeda. Antara lain diakibatkan oleh pola asuh, gizi, sanitasi, dan lain-lain.

Dalam kesempatan pemaparan materi, Ketua Tim Percepatan Penurunan Stunting BKKBN Perwakilan DIY, Dr Yuni Hastutiningsih menegaskan, bahwa pencegahannya dapat dilakukan sedini mungkin. Bahkan dimulai saat seseorang hendak memasuki usia pernikahan.

“Sejak tumbuh dewasa menjelang menikah harus sudah disiapkan. Lebih-lebih saat hamil, ibu harus memperoleh asupan gizi yang baik dan lengkap. Seperti asupan protein yang bersumber dari daging dan ikan,” tutur Yuni.

Stunting Harus Ditanggulangi Sejak Dini

Stunting, lanjut dia, berkaitan dengan nutrisi. Baik bagi ibu hamil dan bayinya. Sehingga, seluruh anggota keluarga terutama orang tua punya peran yang sentral agar gizi dan nutrisi keluaraga terpenuhi.

Dalam agenda sosialisasi, Ketua DPRD Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih turut hadir memberikan motivasi agar masyarakat bersedia peduli dan serius terlibat dalam melakukan tindakan pencegahan stunting. Setidaknya dimulai dari keluarga masing-masing.

“Anak yang menginjak usia dewasa harus terus dipantau. Jalinan komunikasi antara orang tua dan anak harus baik. Jangan sampai terjadi pernikahan dini,” imbau Endah.

Sebab, pernikahan dini juga menjadi temuan sebagai salah satu faktor penyebab timbulnya ‘anak kekurangan gizi’.

“Pernikahan yang dialami pasangan belum siap secara fisik dan mental serta finansial akan berisiko lahirnya anak yang kekurangan gizi. Sehingga pertumbuhan keturunannya nanti bisa terganggu,” tegas dia. (Kandar)

Berbagi artikel melalui:

Komentar

Komentar