Peringatan Kemerdekaan, Tak Ada Kesan Istimewa Bagi Pawiro

oleh -
Petani kecil di daerah pinggiran, tak merasa ada yang istimewa adanya gegap gempita peringatan HUT RI. KH
iklan dispar
Petani kecil di daerah pinggiran, tak merasa ada yang istimewa adanya gegap gempita peringatan HUT RI. KH
Petani kecil di daerah pinggiran, tak merasa ada yang istimewa adanya gegap gempita peringatan HUT RI. KH

TEPUS, (KH)— Berbagai kemeriahan dirasakan masyarakat Indonesia tiap kali diselenggarakan perayaan HUT kemerdekaan Indonesia. Acara perlombaan oleh warga selalu diadakan hampir di setiap desa atau bahkan padukuhan.

Upacara seremonial juga diselenggarakan di banyak tempat sebagai ungkapan penghormatan terhadap bangsa atas perjuangan para pahlawan. Sebagian besar warga menyambutnya dengan semangat dan harapan agar kehidupan bangsa Indonesia lebih makmur dan sentosa.

Namun hal tersebut ternyata tak membuat Pawiro, seorang petani di pesisir selatan Gunungkidul, merasa bangga dan menikmati akan makna kemerdekaan bagi negerinya. Acara yang sering dilihat di kampungnya itu hanya ia anggap sesuatu yang belum bermakna.

“Apa harus dengan seperti itu merayakan kemerdekaan ini? Bagi kami para petani kecil tak terlalu memikirkan dengan hal-hal seperti itu,” jelas Pawiro, Rabu (17/8/2016).

Bagi Pawiro, kerja nyata mengentaskan permasalahan perekonomian petani kecil adalah cara tepat menyongsong setiap peringatan kemerdekaan, dan bukan dengan cara lomba-lomba atau kegiatan yang dianggapnya hura-hura saja.

Ia mencontohkan, kegiatan perlombaan sepakbola yang diselenggarakan di Kecamatan Tepus, Selasa (16/8/2016) justru menjadi ajang perkelahian warga. Pawiro menganggap hal itu adalah sesuatu yang memalukan bila dikaitkan dengan makna kemerdekaan.

“Saya sebenarnya tak mempermasalahkan semua kegiatan yang biasa dilakukan warga dan pemerintah, tapi mungkin waktunya yang belum tepat. Rakyat masih pada miskin kok sudah bangga,” lanjutnya.

Ia berharap seluruh masyarakat dan pemerintah bersinergi dalam mewujudkan kemakmuran bangsa, khususnya mengentaskan kemiskinan para petani kecil. Harapan itu muncul agar rasa cinta serta nasionalisme itu benar-benar bersemayam dalam hati, melalui kerja nyata dan bukan melalui acara tahunan yang terlalu sering dilihatnya itu.

“Para pahlawan yang telah mengorbankan harta dan raganya dalam meraih kemerdekaan dulu pasti akan menangis bila anak cucunya merayakan kemerdekaan dengan cara seperti ini, sementara kemerdekaan yang sesungguhnya belum pernah terwujud,” ucapnya sedih. (S.Yanto)

Komentar

Komentar