Pengembangan Kuliner dan Oleh-Oleh Gunungkidul, Sayur Lombok Tahan Selama Satu Tahun

oleh -
Proses Pengalengan Sayur Lombok Ijo, di LIPI Gading. KH/ Kandar
iklan dispar
Proses Pengalengan Sayur Lombok Ijo, di LIPI Gading. KH/ Kandar
Proses Pengalengan Sayur Lombok Ijo, di LIPI Gading. KH/ Kandar

PLAYEN, (KH)— Masakan kuliner tradisional dan oleh-oleh Gunungkidul semakin dikenal luas dikalangan wisatawan. Dalam menikmatinya, beberapa macam kuliner tersebut harus segera dinikmati setelah melalui proses pemasakan.

Sayur Lombok ijo, Gudeng daun papaya, Nasi merah, dan beberapa yang lain harus dinikmati setelah siap saji, padahal tidak sedikit wisatawan yang menginginkan jenis masakan tersebut dijadikan sebagai oleh-oleh dibawa ke luar kota setelah berwisata di Gunungkidul, namum terkendala sifatnya yang mudah basi.

Semakin tingginya minat wisatawan untuk menjadikannya sebagai oleh-oleh ditangkap oleh Usaha Kecil dan Menengah (UKM) atau pengusaha bidang kuliner. Kini, pengembangan dunia kuliner dan oleh-oleh Gunungkidul memasuki babak baru, berlatarbelakang hal tersebut upaya untuk meningkatkan masa simpan dilakukan.

UPT Balai Pengembangan Proses dan Teknologi Kimia (BPPTK) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Yogyakarta di Gading, Gunungkidul, melakukan sejumlah penelitian terhadap masakan-masakan tersebut, hasilnya, dengan cara pengalengan masakan mampu bertahan selama satu tahun, sehingga memungkinkan untuk dijadikan oleh-oleh.

Peniliti LIPI, Ir Agus Susanto di dampingi Ema Damayanti selaku Kasie Program dan Kerjasama, mengungkapkan, pengalengan masakan tradisional agak berberda dengan pengalengan olahan secara umum yang lain seperti sarden, karena masakan/ sayur memiliki bahan yang bermacam-macam.

“Pengalengan ini melalui riset dan penelitian, bisa disebut unik karena berbeda dengan pengalengan secara umum yang terdiri dari satu bahan saja, masakan ini macam bahannya lebih dari satu, ada tempe, cabe, krecek,” ujarnya disela melakukan proses pengalengan sayur lombok ijo milik Niela Sary, Jum’at, (29/1/2016).

Ema Damayanti menambahkan, prosesnya melalui tahapan Sterilisasi dan pemanasan dengan tekanan, sehingga masakan bisa awet dan bertahan lama.

Sebelumnya, lanjut dia, baik dapur masak Niela Sary maupun proses pengalengan di LIPI telah melalui sertifikasi atau rekomendasi Badan Pengawasan Obat dan Makanan (POM). pengalengan sayur Lombok ijo sebanyak 1000 kaleng kemasan milik Niela Sary ini sudah masuk pada tahun kedua.

Lebih lanjut Agus menjelaskan, pengalengan tersebut masih dalam taraf pengembangan produk, pada masa ini pihak UKM melakukan sejumlah upaya pengenalan pasar atau sebagai sampel, beredar dalam tahap promosi, setelah nanti nomor Merek Dalam (MD) keluar, selanjutnya akan dilakukan produksi masal.

Nomor MD dari Badan POM, tambah Agus, memang membutuhkan waktu agak lama, karena selain memerlukan sejumlah pemeriksaan perlu adanya data-data, data tersebut salah satunya merupakan hasil riset dari LIPI, meliputi; nilai kandungan gizi, kandungan logam berat, mikrobiologi, serta daya masa simpan.

“Itu semua sebagai bahan lampiran untuk nomor MD tadi,” Pungkas Agus. (Kandar)

Komentar

Komentar