Pendiri PO Maju Lancar Berpulang, Berikut Kisah Perjuangannya Merintis Bisnis Transportasi Umum

oleh -
maju lancar
Manajer Operasional Po. Maju Lancar, Adi Prasetyo. (KH)

GUNUNGKIDUL, (KH),– Pendiri Perusahaan Otobus (PO) Maju Lancar, H. Sutrisno meninggal dunia saat dirawat di rumah sakit Jogjakarta Internasional Hospital (JIH). Sebelum meninggal ia sempat mendapat perawatan medis kurang lebih selama 4 hari.

Lelaki yang tinggal di Jalan Wonosari-Yogya, Siyono, Logandeng, Playen, Gunungkidul ini menghembuskan nafas terakhir pada Kamis, (4/11/2021).

Mantan bupati Pacitan ini diinformasikan pihak keluarga kesehatannya memburuk sejak beberapa waktu lalu. Lantas sebelum meninggal dunia, ia mengalami sakit komplikasi. Banyak kalangan mengungkapkan duka atas kepergiannya.

Kepada KH, penerus manajemen Maju Lancar, Adi Prasetyo pernah berkisah mengenai suka duka orang tuanya merintis bisnis transportasi umum.

Berawal dari kejelian melihat perkembangan bisnis jasa angkutan darat yang makin membaik telah mendorong H Sutrisno beserta sang istri Hj Sri Hartati memulai terjun ke dalam bisnis transportasi secara serius.

Awalnya, di tahun 1986, perusahaan otobus ini “hanya” bermodal dua unit armada bus yang melayani trayek Antar Kota Dalam Propinsi (AKDP) Wonosari – Jogja. Dua bus menjadi tonggak awal kemunculan PO. Maju Lancar. Dengan perjuangan dan kerja keras serta dilandasi tekad agar usaha lebih berkembang, H. Sutrisno merintis trayek Antar Kota Antar Provinsi (AKAP) pada tahun 1991 dengan modal 4 unit armada.

Pak Tris panggilan akrab H Sutrisno sangat jeli membidik peluang. Fakta bahwa wilayah Gunungkidul merupakan kantong perantau ke kawasan Jabodetabek dan sekitarnya mebulatkan keyakinannya, bisnis transportasi umum akan semakin prospektif.

Mulai tahun 1991, PO Maju Lancar mulai turut melayani trayek Wonosari – Jabodetabek. Berkat kesabaran melayani trayek para perantau tersebut perusahaan transportasi angkutan darat PO. Maju Lancar dapat meningkatkan pelayanan dan terus melakukan penambahan armada.

Guna memenuhi permintaan pelanggan serta demi meningkatkan kenyamanan, dari tahun 1998 sampai awal tahun 2000 armada terus bertambah. Tercatat PO. Maju Lancar memiliki 64 armada bus termasuk divisi perjalanan wisata Citra Adi Lancar dan Rahma Wisata yang terdaftar dalam perijinan yang dikeluarkan oleh Dirjen Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan.

Kesuksesan yang diraih pengusaha Gunungkidul ini tidak serta merta berjalan dengan mulus. Berbagai kendala serta situasi pasang dan surut juga dirasakan perusahan angkutan darat tersebut.

Manager Oprasional PO. Maju Lancar Adi Prasetyo atau yang lebih akrab dipanggil Didit menceritakan, perjuangan untuk meraih sukses bukan hal yang mudah. Berbagai kendala yang dialami perusahaannya juga datang seiring berjalannya waktu.

Dirinya mengungkapkan, bisnis pernah terpukul ketika masa krisis moneter pada tahun 1998. Saat itu pemasukan sangat jauh dari harapan. Bahkan sempat merugi.

Kerugian semakin dirasakan ketika penumpang sepi. Manajemen sempat merasakan biaya operasional perawatan armada jauh lebih tinggi dari pemasukan.

Dengan tabah dan sabar, H Sutrisno beserta anak-anaknya yang membantu pengelolaan berhasil melewati masa sulit itu sehingga mampu berkembang dan bertahan sampai saat ini.

Menjalankan bisnis dibidang transportasi memang penuh risiko. Ada banyak hal yang mempengaruhi kelangsungan bisnisnya. Bahkan faktor kondisi infrastruktur jalan yang kurang baik sangat dirasakan pengaruhnya oleh PO. Maju Lancar. Karena, kondisi tersebut membuat perawatan armada makin bertambah.

Tak hanya itu saja, pernah pula Maju Lancar menemui adanya aksi pelemparan batu oleh orang tidak bertanggung jawab. Bahkan peristiwanya kerap terjadi. Tentu saja, tidak hanya terhadap PO. Maju Lancar. Tetapi hal yang sama juga dialami oleh armada dari PO. yang lain.

Beberapa kendala tersebut menurut Didit merupakan konsekuensi dari bisnis transportasi. Kendati demikian, pihak Maju Lancar Group tetap berjalan ke depan demi kesuksesan bersama.

Lebih lanjut Didit menambahkan, PO. Maju Lancar merupakan satu-satunya Perusahan Otobus aseli Gunungkidul. Jajaran direksi berkeinhinan, melalui bisnis yang dijalankan itu dapat berpartisipasi dalam pembangunan Gunungkidul, diantaranya melalui kontribusi perpajakan. Sebab, semua armada Maju Lancar Group menggunakan plat AB D. Sehingga pajak perpanjangan dan lainnya yang berkaitan dengan surat kelengkapan dapat turut memberikan sumbangsih bagi pendapatan aseli daerah. (Kandar)

Berbagi artikel melalui:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Komentar

Komentar