Skema Pertahankan Angkudes: Terminal Jadi Pusat Keramaian dan Jalankan Buy The Service

oleh -
terminal
Korsatpel Terminal Dhaksinarga, Sularjo. (KH/ Kandar)

WONOSARI, (KH),– Nasib Angkutan Perdesaan (Angkudes) di Gunungkidul di ujung tanduk. Takdirnya diprediksi menyusul angkot yang beberapa tahun lalu lebih dulu berhenti beroperasi. Namun demikian optimisme untuk mempertahankan angkudes masih ada.

Keyakinan angkudes mampu bertahan dilontarkan Koordinator Satuan Pelayanan (Korsatpel) Terminal Dhaksinarga Wonosari, Sularjo belum lama ini. Wacana yang digagas, pertama termimal tipe A dijadikan pusat keramaian.

“Kemudian disusul dengan pelayanan sistem buy the service. Seperti yang sudah berjalan di beberapa kota seperti Solo,” kata Sularjo.

Dijelaskan, program buy the service yakni sistem pembelian pelayanan oleh pemerintah kepada pihak operator angkutan umum atau pemberian subsidi dari pemerintah.

“Para pemilik angkudes dikumpulkan lalu Negara hadir. Armada bisa saja diganti disediakan oleh pemerintah, atau memakai kendaraan yang dimiliki pengusaha angkutan umum. Ada subsidi, nilai sewa kepada operator angkutan. Kemudian angkutan diwajibkan beroperasi melayani sesuai rute yang ditentukan,” papar Sularjo.

Kemudian, lanjut dia, dengan fasilitas pendukung di dalam bus yang lebih baik dan tanpa dipungut biaya alias gratis, lalu dengan system aplikasi serta layanan yang cepat dan efektif dan teratur diharapkan lebih banyak masyarakat yang beralih ke moda transportasi publik.

Untuk menghadirkan minat masyarakat terhadap angkutan umum, wacana menjadikan terminal sebagai pusat keramaian menjadi pilihannya. Terminal dijadikan pusat pelayanan publik dari berbagai instansi pemerintah. Saat ini Mall Pelayanan Publik (MPP) telah dibuka di terminal sebagai rintisan. Ke depan skema tersebut masih akan terus dikembangkan.

“Saat ini sudah beroperasi 4 instansi pemerintah, ada DPMPT, Dukcapil, BKAD dan Dinas UKM. Nanti disusul dengan pelayanan perpanjangan SIM, Perbankan. Bahkan direncanakan semua instansi pemerintah membuka layanan di sini,” imbuh Sularjo.

Pelayanan terpusat tersebut akan banyak menarik minat masyarakat datang ke terminal. Masyarakat dapat mengkases banyak layanan dengan sekali datang ke terminal. Dengan begitu, angkot atau angkudes punya peluang atau potensi penumpang.

Tak hanya itu saja, menghadirkan geliat di terminal juga dapat ditempuh dengan merintis terminal menjadi pusat perbelanjaan, mulai dari oleh-oleh, kerajinan dan pusat kuliner serta kegiatan yang lain seperti hiburan.

angkutan
Angkutan umum sedang parkir di Terminal Dhaksinarga. (KH/ Kandar)

“Potensi lain yakni menjadikan Dhaksinarga semacam terminal wisata. Bus wisata masuk di sini lalu ada shuttle bus kecil menuju destinasi wisata. Tentu saja kebijakan yang mengikat dari berbagai pihak dibutuhkan untuk ini,” lanjut Larjo.

Pihaknya tidak menampik, sistem trasnportasi publik secara online menjadi salah satu kompetitor. Namun, dengan gagasan tersebut usaha jasa transportasi umum diyakini mampu bersaing.

Saat ini, karena situasi memaksa angkudes beroperasi memang tak secara teratur mengikuti aturan headway atau waktu antara yang ditetapkan pihak berwenang. Angkudes terkadang masuk terminal saat ada bus Antar Kota dan Antar Propinsi (AKAP) masuk.

Angkudes berharap ada penumpang lanjutan ke daerah atau wilayah domisili penumpang setelah turun dari bus AKAP. “Yang terpantau terkadang masuk hanya sekitar 15 angkudes saja. Tapi kami optimis dengan skema tadi,” tandas Sularjo. (Kandar)

Berbagi artikel melalui:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Komentar

Komentar