Pemotretan Penyemarak HUT RI ke -76: Kebersamaan di Tengah Keberagaman

oleh -
Photography
Sesi pemotretan salah satu rutinitas atau aktivitas masyarakat. Anak-anak bermain di pekarangan rumah, sementara orang tua menyiapkan kayu bakar. (KH)

PLAYEN, (KH),— Gunungkidul Photography (GP) menggelar pemotretan dengan objek kehidupan masyarakat desa di tengah keberagaman. Kegiatan penyemarak HUT RI ke-76 tersebut digelar di Kalurahan Banaran, Kapanewon Playen, Gunungkidul, Kamis (19/8/2021).

Koordinator kegiatan sekaligus perwakilan GP, Stefanus Sujoko mengatakan, karena masih dalam situasi pandemi COVID-19 peserta photographer dibatasi.

“Dilaksanakan dengan menerapkan protokol COVID-19. Diikuti 18 peserta, selain dari Gunungkidul, juga datang dari berbagai kota, diantaranya Solo, Semarang, Jogja dan Kulonprogo,” kata Sujoko.

Kegiatan ini, sambungnya, menjadi alternatif agenda tahunan GP yang tidak bisa diselenggarakan karena PPKM.

Lebih jauh disampaikan, pelaksanaan kegiatan pemotretan tersebut merupakan realisasi atas ide tokoh budaya, Ahid (Andum Slamet Project) yang disampaikan ke anggota GP.

Senada dengan Sujoko, Ahid menyebut, selain dimotori GP pelaksanaannya juga bekerjasama dengan Pemerintah Kalurahan Banaran.

“Ada 5 spot dan aktivitas warga yang dijadikan objek foto. Kami mencoba menunjukkan semangat warga desa berbagi ruang hidup di tengah keberagaman. Bersamaan juga diselipkan spirit hidup masyarakat, sebagaimana tema peringatan HUT RI, Indonesia Tangguh Indonesia Tumbuh,” papar lelaki dengan tampilan eksentrik ini.

Dijabarkan, spot dan aktivitas yang dibidik para photographer diantaranya aktivitas panen ketela, interkasi antar warga dengan latar belakang keyakinan berbeda, serta situasi dan rutinitas warga di rumah jelang petang.

“Interkasi sosial penuh kebersamaan dan saling bantu ditampilkan warga yang berjalan pulang sehabis dari ladang bertemu Samanera dan Samaneri yang sedang melaksanakan Pindapata. Samanera dan Samaneri memberi masker ke petani, lantas petani memberikan gaplek hasil panen,” papar Ahid menggambarkan objek foto.

Ahid melanjutkan, khususnya yang berkaitan dengan kepercayaan masyarakat, di Kalurahan Banaran tergolong cukup beragam. Ada Kristen, Katolik, Islam, Kejawen hingga Buddha. Selama ini mereka hidup berdampingan saling bekerjasama dan membantu.

Ahid
Ahid (dok. Pribadi)

Di desa, harmoni berkehidupan telah ada sejak dulu. “Itu yang harus dirawat dan spiritnya terus ditumbuhkan,” ajak Ahid.

Dimintai tanggapan, salah satu peserta, Julianto mengaku terkesan dengan tema dan objek yang dihadirkan. Penghoby photography asal Solo ini menilai ide yang dituangkan dalam format pemotretan cukup cemerlang.

Rangkaian agenda yang dijadwalkan berlangsung sesuai rencana. Semua tahapan acara rampung sesuai waktu yang sengaja dibatasi hanya setengah hari. Pada kesempatan jeda waktu istirahat, peserta disuguhi minuman herbal dan olahan pangan lokal dari warga setempat. (Kandar)

Berbagi artikel melalui:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Komentar

Komentar