Mengenalkan Secara Luas Cagar Budaya Gunungkidul Melalui Dunia Fotografi

oleh -
Patih Kundha Kabudayan Gunungkidul, Agus Kamtono. (KH/Kandar)
iklan dispar

WONOSARI, (KH),– Puluhan peserta yang memiliki minat dalam dunia fotografi mengikuti Workshop Fotografi yang digelar oleh Kundha Kabudayan Gunungkidul di salah satu rumah makan di Wonosari, Kamis (17/9/2020). Workshop fotografi tersebut memiliki fokus topik pada pembuatan karya foto dengan objek cagar budaya.

Patih Kundha Kabudayan Gunungkidul, Agus Kamtono mengatakan, workshop menjadi bagian tahapan untuk mengenalkan cagar budaya yang ada di Gunungkidul. Metode pengenalan ke publik lengkapnya dilakukan dengan cara workshop dan lomba, baik fotografi dan videografi.

“Workshop foto dan video berikut lomba akan dilaksanakan sebanyak 3 seri. Dalam setiap seri akan diikuti maksimal 50 perserta,” kata dia usai membuka kegiatan workshop bersama Ketua DPRD Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih.

Lebih detail disampaikan, Seri 1 workshop yang dilaksanakan hari ini akan dilanjutkan pengambilan foto oleh peserta pada tanggal 18-20 September. Objek fotografi merupakan cagar budaya periode prasejarah, meliputi Situs Sokoliman, Gua Braholo, Situs Gondang Ngawis, Situs Bleberan, dan Song Pedang.

Seri 2 dimulai dengan workshop pada tanggal 24 Spetember kemudian dilanjutkan pengambilan gambar atau foto pada 25-27 September. Objek gambar untuk seri 2 yakni cagar budaya periode klasik, diantaranya Candi Risan, Candi Plembutan, Candi Dengok, Candi Genjahan, dan Arca Ganesha di Logandeng.

Adapun untuk seri 3 peserta diperuntukkan bagi pelajar SMP sederajat hingga SMA/SMK. Objek fotografi merupakan cagar budaya periode Islam dan kolonial, antara lain Tugu Batas Kasultanan-Kasunanan, Candi Krapayak, Masjid Tiban Ngawen, Situs Gembirowati, dan Tugu Jumenengan Ponjong. Waktu pelaksanaannya workshop dan pengambilan gambar antara tanggal 1 hingga 4 Oktober.

Sementara itu Workshop dan lomba videografi juga digelar dalam 3 seri. Seri 1 dilaksanakan 19-23 September. Objek bagi peserta lomba video diantaranya makam Ki Ageng Giring, Situs Krapyak, Situs Gembirowati, Masjid Tiban, Makam Bupati Gunungkidul pertama.

Seri 2 workshop dan pengambilan video dilaksanakan mulai dari 25 hingga 30 September 2020. Objek videografi cagar budaya periode kolonial dan kemerdekaan diantaranya Monumen AURI, rumah Sardjono, rumah Suwardi, Tugu Batas Kasultanan-Kasunanan, dan SD Negeri 1 Ponjong.

Peserta workshop Fotografi Cagar Budaya. (KH/kandar)

Seri 3 workshop dan lomba videografi diperuntukkan bagi youtuber atau vloger dengan sasaran objek cagar budaya periode prasejarah meliputi Situs Sokoliman, Gua Braholo, Situs Gondang Ngawis, Situs Bleberan, dan Song Pedang. Pelaksanaannya mulai 2 hingga 7 Oktober.

“Tujuannya mengenalkan kekayaan cagar budaya. Ketika mengemuka dan dikenal publik secara luas dapat mematik minat masyarakat terhadap wisata sejarah dan cagar budaya,” sambung Agus Kamtono.

Di luar itu juga diharapkan dapat memberi ruang aktualisasi bagi fotografer dan videographer yang ada di Gunungkidul. Dari masing-masing lomba tersebut Kundha Kabudayan memberikan penghargaan berupa uang pembinaan.

Dalam kesempatan yang sama, Endah Subekti Kuntariningsih berpesan agar peserta selama mengikuti workshop maupun pengambilan foto dan video tetap patuh terhadap protokol kesehatan pencegahan COVID-19.

“Diantaranya memaki masker, cuci tangan dan jaga jarak,” tukas dia. (Kandar)

Komentar

Komentar