Candi Butuh, Pulutan: Tempat Ibadah Umat Hindu Masa Lampau

oleh -
candi
Seorang Juru pelihara sedang bekerja di Candi Butuh, di Kalurahan Pulutan, Wonosari, Gunungkidul. (KH/ Kandar)

WONOSARI, (KH),– Tinggalan arkeologis periode klasik banyak terdapat di Kabupaten Gunungkidul. Tinggalan masa prasejarah (Hindu-Budha) tersebar di berbagai wilayah kapanewon atau kecamatan.

Salah satu tinggalan yang hingga saat ini masih dalam proses penelitian berada di Kalurahan Pulutan, Wonosari, Gunungkidul. Bekas bangunan candi tersebut dinamakan Candi Butuh. Nama candi yang dipakai menyesuaikan letak administratifnya, yakni di Padukuhan Butuh.

Balai Pelestari Cagar Budaya (BPCB) DIY pada 2013/2014 lalu mulai melakukan upaya perawatan. Upaya diawali dengan pembebasan lahan kawasan tersebut. Dilanjutkan pembangunan pagar di area 3.518 meter persegi, penataan kawasan, dan pendirian weerkit (barak kerja) bagi juru pelihara pada waktu berikutnya.

Saat ini, tindakan perawatan dan pemeliharaan berkala dilakukan dengan tujuan agar kelestariannya terjaga.

Peneliti Candi Butuh Pulutan, Baskoro Daru Tjahjono saat dihubungi, Rabu (3/11/2021) menyampaikan, material batu candi berupa batuan Tufa. Batuan tufa mudah dibentuk dan awet dibanding dengan batuan gamping.

“Bulan Oktober kemarin kami Tim Peneliti Candi Batu Tufa melakukan penelitian ke situs Pulutan. Laporan penelitiannya baru kami buat, saat ini belum selesai. Kami tidak melakukan ekskavasi tetapi hanya melakukan pengamatan terhadap temuan di permukaan tanah,” kata Baskoro.

Diungkapkan, situs tersebut kemungkinan memang merupakan sisa-sisa bangunan candi. Hal itu terlihat dari adanya gundukan tanah. Sisa-sisa bangunan berupa balok-balok batu, batu kemuncak, dan batu-batu berpelipit.

Lanjutnya, selain itu juga terdapat batu-batu candi yang dikumpulkan dari daerah sekitar situs Pulutan, yaitu dari Kalurahan Mojosari, Kepanewonan Playen berupa batu pipih dan balok pipih bertakik berada di sisi barat.

“Gundukan tanah menunjukkan kemungkinan masih adanya struktur bangunan di dalam tanah walaupun mungkin tinggal pondasinya saja,” imbuh lelaki yang bertugas di BPCB ini.

Untuk membuktikannya, sambung Baskoro, memang harus digali (ekskavasi). Adapun fungsi candi pada masa sekitar abad ke VIII Masehi itu sebagai tempat ibadah agama Hindu.

Hal tersebut terbukti, pada permulaan perawatan saat dibersihkan beberapa tahun lalu ditemukannya arca Ganesha, Durga dan Agasta. Tiga arca tersebut saat ini disimpan pihak BPCB DIY. (Kandar)

Berbagi artikel melalui:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Komentar

Komentar