Pelajar Kampanyekan Stop HIV AIDS, Penderita Di Gunungkidul Capai 388

oleh -
Ratusan pelajar lakukan aksi Stop AIDS pada peringatan hari AIDS sedunia. KH/ Kandar
iklan dispar
Ratusan pelajar lakukan aksi Stop AIDS pada peringatan hari AIDS sedunia. KH/ Kandar
Ratusan pelajar lakukan aksi Stop AIDS pada peringatan hari AIDS sedunia. KH/ Kandar

WONOSARI, (KH)— Ratusan pelajar yang tergabung dalam Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK-R) memperingati hari AIDS sedunia dengan mengkampanyekan Stop Aids di traffic light depan alun-alun Pemda Gunungkidul, Rabu, (1/12/2016).

Pada aksi tersebut pelajar membagikan pita dan brosur mengenai kesehatan reproduksi, sementara yang lain membentangkan spanduk besar dihadapan para pengemudi yang berhenti saat lampu merah menyala. Spanduk bertuliskan ajakan untuk berubah demi masa depan gemilang dengan menjauhi resiko penularan HIV dan AIDS.

“Harapannya masyarakat waspada terhadap perilaku menyimpang, sehingga penularan HIV AIDS dapat ditekan,” kata Ruli khoirul Mustaqim, salah satu pelajar peserta aksi.

Sementara itu ditemui terpisah, Kepala Seksi Pengendalian Penyakit Menular Dinas Kesehatan (Dinkes) Gunungkidul, Suharyanta, SKM menyebutkan, penderita HIV dan AIDS di Gunungkidul cukup tinggi. Hingga awal Desember ini terdapat 238 warga penderita HIV dan 150 penderita AIDS.

Upaya Dinkes, terang Suharyanta, guna mencegah peningkatan jumlah penderita telah mengupayakan tindakan preventif dengan menyampaikan sosialisasi dan himbauan ke semua lapisan masyarakat, termasuk pelajar.

“Kita berikan pembekalan mengenai bahaya dan dampak dari narkotika, HIV dan AIDS agar setelah lulus mereka punya filter sebagai antisipasi bagi dirinya sendiri,” ujarnya.

Suharyanta mengungkapkan, usia penderita di Gunungkidul sebagian besar berada dalam usia produkstif, sekitar 50-an penderita berumur antara 20-29 tahun, sedangkan antara umur 30-33 tahun terdapat hampir 90-an penderita.

“90 persen penderita disebabkan karena perilaku menyimpang berupa sex bebas. Kita harap masyarakat menghindari ganti-ganti pasangan karena ini sangat beresiko. Apabila terdapat warga yang merasa curiga akan kesehatannya kita himbau untuk tidak malu periksa,” pintanya.

Tahun ini, kata Suharyanta lagi, semua Puskesmas di Gunungkidul dapat melakukan pemeriksaan apakah warga yang bersangkutan positif menderita atau tidak. (Kandar)

Komentar

Komentar